Menulis, Menulis dan Membaca

www.pexel.com

Suatu hal ketidak beruntungan bagi saya, saat mendapati diri sendiri ingin menjadi penulis, setelah sekian lamanya berusaha dan mencoba yang terbaik namun sampai hari ini belum kunjung terwujud. Keinginan menjadi penulis yang begitu sangat besar, muncul bukan tanpa sebab musabab. Kegemaran saya berselancar di dunia maya untuk membaca artikel dari para penulis hebat, membuat saya semakin terpacu untuk menjadi penulis hebat seperti mereka.

Para penulis hebat yang sering saya baca tulisannya, telah melanglangbuana kedalam jagad kepenulisan. Mereka sangat telaten mendesain alur cerita, memainkan perasaan pembaca sehingga hanyut kedalam cerita. Tulisan mereka seringkali nongol di media massa baik lokal maupun media nasional sekaliber kompas dan tempo.

Membaca pikiran mereka melalui tulisan-tulisan yang berserak di media online dan cetak, semakin membuat penulis berpacu untuk tetap menulis dan membaca. Karena mustahil kiranya menulis tanpa dibarengi dengan kegiatan membaca. Dua hal ini semacam satu kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lain, dengan membaca penulis dapat menabung kosakata untuk digoreskan kedalam kertas.

Penulis sangat mengagumi penulis hebat, sebut saja Novelis Andrea Hirata (Laskar Pelangi). Mampu menyihir dan mengaduk-ngaduk psikologi pembaca, melalui buku maupun melalui pemutaran Flem. Ada juga Asma Nadia (Assalamu Alaikum Beijing), Yudi Latief (Negara Paripurna) dan beberapa penulis kenamaan lainnya. Mereka telah banyak memberikan inspirasi kepada anak-anak muda melalui bubhan tangannya.

Mereka telah berusaha sebisa mungkin untuk memberikan kontribusi mereka terhadap generasi selanjutnya. Mereka telah mewariskan berupa jejak literasi yang akan dibaca oleh anak-anak muda selanjutnya.

Bagaimana ketika mereka tidak mewariskan buku bacaan kepada kita saat sekarang, apa masih mungkin kita bisa cerdas dan pandai. Karena tidak ada lagi yang bisa dibaca, mungkin saja kita akan menjadi generasi bangsa yang barbar. Sebagaimana Petuah Pramodya Ananta Toer penulis Novel yang masuk nominasi namanya penerimaan Nobel sastra, mengatakan menulis adalah sebuah keberanian. Maka generasi muda-mudi di anjurkan untuk menulis, sebagai sebuah keberanian bercerita kepada mereka yang tidak berani bersuara.

Apakah tidak berlebihan bila menyebut sebuah bangsa yang kurang piknik membaca sebagai bangsa yang barbar. Entahlah, tapi yang pasti bangsa seperti Yunani telah melahirkan banyak tokoh dan pemikir. Dari tanah yunanilah sebuah tradisi intelektual di mulai, kemudian merambat ke Eropa lalu ke negeri tandus arab. Dimana Islam mengalami masa kejayaan yang amat besar, ditandai dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan perintah untuk membangun sekolah.

Salah satu tokoh yang sangat terkenal di yunani Athena adalah Socrates, guru dari Plato yang telah menuliskan beberapa buku terutama pledoi terhadap gurunya Socrates. Socrates yang agung di anggap murtad tidak mempercayai dewa orang yunani dan menghasut pemuda. Akhirnya dia harus menegug segelas racun, kemudian ia meninggal. Pemikirannya dilanjutkan oleh muridnya Plato.

Kita perlu banyak belajar dari bangsa yang telah banyak menghargai usaha dari pemikir besar, dan memberikan tempat yang layak bagi mereka yang bersusah payah memikirkan bangsa ini. Namun naas di negeri kita ini, para pemikir tidak dijadikan sebagai prioritas membangun bangsa. Misalnya menyediakan perpustakaan lengkap sebagai taman baca bagi siapa saja yang ingin mencari bahan bacaan. Karena dengan membaca sebuah bangsa bisa menjadi bangsa yang disegani.

Coba perhatikan Negara Amerika yang telah lama menyediakan perpustakaan di gedung parlemen dan siapa saja bisa mengakses buku untuk dibaca. Beda dengan negeri kita, walau beberapa tahun terakhir, kita perlu merasa bangga dengan kehadiran pustaka di gedung DPR, sehingga selain mereka disibukan dengan mengikuti rapat, para anggota dewan juga disibukkan denga memilih buku bacaan yang tepat.

Karena bagaimanapun anggota dewan harus cerdas dan pandai, memiliki wawasan luas dan informasi global. Karena dengan itu mereka dapat membuat kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated bung rulan’s story.