on me smoking


Sewaktu saya masih berusia kurang dari 10 tahun, saya pernah kesundut rokok. Pelakunya pakdhe saya. Disengaja atau tidak, saya tidak tahu dan nampaknya takkan pernah tahu. Sejak saat itu, I was really afraid of burnt cigarettes.

Saya nggak pernah over-glorifying and romanticizing perokok. Saya juga nggak pernah bermasalah dengan asap rokok. Anggota keluarga saya memang tidak ada yang perokok, tapi saya besar tanpa ajaran untuk membenci rokok. Kedua orangtua dan kakak perempuan saya punya stigma terhadap perokok, tetapi bukan itu yang mau saya ceritakan.

Yang saya takuti adalah baranya. Panasnya.

(Ya yang pernah kesundut rokok tahu sendiri kan sakitnya seperti apa?)

Setiap kali ada orang yang merokok di dekat saya, saya selalu was-was dengan ujungnya yang berwarna kelabu-hitam-oranye itu. Bukan asapnya, tapi baranya. Setiap kali ada kawan yang nggojeki saya dengan mendekatkan ujung rokok yang sudah terbakar ke arah saya, refleks saya adalah tersentak mundur seakan-akan kawan saya itu baru saja menampilkan bangkai kelinci di depan saya. Nggak jarang reaksi saya menimbulkan pertanyaan.

Semenjak kesundut rokok hingga baru-baru ini, saya nggak pernah ada niatan untuk merokok. Penasaran, sering. Tapi hampir nggak pernah saya ladeni. Saya biasanya menampik rasa penasaran itu dengan “buset lima belas ribu udah bisa makan enak di warteg.” Ya maklum lah saya mahasiswi rantau dari Surakarta. Harus economically rational, kalau mengutip seorang kawan.

Sekitar awal bulan ini, saya bolos kelas Perlindungan Anak untuk mencari me-time. Pada saat itu, saya sedang pingin banget marathon film. Akhirnya saya pergi sendirian ke Kuningan City dan membeli tiket Life dan Beauty and the Beast. Karena film pertama masih berjarak dua jam lagi, dan karena mager, saya duduk-duduk saja di lounge XXI.

Biar nggak kepanjangan, intinya, saya tiba-tiba dihantam oleh self-worth dan self-esteem issues yang bikin saya benar-benar breakdown saat itu juga, di tempat umum pula!, dan berkali-kali menahan tangis supaya tidak dilihatin oleh pelanggan lain.

Saya curhat ke teman-teman saya kemudian saya nggak berniat pulang ke kos saya di Depok karena nggak mau berada di tempat yang familiar. Saya bilang ke teman-teman saya bahwa saya nggak akan pulang dan akan menginap entah dimana di dekat situ. Singkat cerita, karena pertimbangan ekonomi (lagi), akhirnya saya pulang ke kos.

Di sebelah kos saya, ada warung kelontong yang buka 24 jam. Begitu saya turun dari Grab, saya nengok ke arah warung itu, dan tanpa pikir panjang, beli sebungkus L.A. Mild dan korek gas. Rokok dan korek pertama yang saya miliki seumur hidup.

Ada beberapa kawan yang bertanya kenapa saya merokok. Saya bingung menjawabnya. Mungkin ada beberapa alasan.

Karena baunya. Sebenarnya di mulut sih nggak ada baunya, bagi saya, tetapi bau rokok yang menempel di tangan dan baju saya yang bikin saya menghabiskan nggak cuma sebatang rokok.

Saya mengasosiasikan bau rokok dengan suasana yang familiar bagi saya. Dengan orang-orang yang familiar bagi saya. Saya mengasosiasikan bau rokok dengan Harvey dan, mungkin sudah saatnya saya beri nama panggilan bagi dia, Piya. Mereka berdua muncul di post pertama saya di Medium.

Kalau satu batang sudah habis, saya biasanya menutupi area hidung dan mulut saya dengan kedua tangan sambil memejamkan mata. Bukannya saya desperate untuk mengingat mereka, tetapi memikirkan sesuatu, atau seseorang, yang familiar, menenangkan saya. Seakan-akan mereka berada di dekat saya dan everything is well.

Cuma ilusi untuk menenangkan hati, memang. Tapi apa daya, kalau kata Fugazi, “We grab anything when we fall.” (Terimakasih kak Mitrardi sudah memberikan rekomendasi lagu ini untuk saya!)

Bagi saya, itu adalah saya hanging on to a thread. Sebuah upaya untuk tetap jalan terus, upaya untuk meng-ground saya, sebuah upaya agar saya tidak lupa dengan apa yang pernah terjadi. Di satu sisi, it is what keeps me alive, di sisi lain, memori-memori menjerat saya dan kadang suka bikin saya nggak terlalu semangat untuk hidup. Serba salah, memang.

Alasan lain, ini alasan yang sering saya berikan sebagai alasan becanda, tapi nggak becanda juga, yaitu I smoke to die faster. Pembaca John Green mungkin nggak asing dengan kalimat tadi, tapi percayalah, saya nggak mengutip John Green karena saya sendiri nggak pernah baca John Green atau sengaja cari sensasi dengan menggunakan kalimat tadi.

I mean, I’m gonna die anyway, what difference a cigarette or a hundred is going to make?

Harvey bilang ke saya bahwa saya akhirnya sudah bisa mengatasi trauma masa kecil saya (re: kesundut rokok). Dan sebenarnya cuma cocoklogi dan akan kedengeran sok keren atau bagaimana, tapi dengan saya akhirnya merokok, itu adalah simbolisme bagi I’m burning away my fears.

Nggak cuma rasa takut. I’m burning away my memories, I’m burning my life away.

Lea Byantara merokok adalah usaha untuk melupakan, menghancurkan, membunuh, mendekap lagi, mengingat dan menenangkan.

Teman-teman saya mengambil langkah represif dengan merampok rokok saya ketika saya kepergok membawa sebungkus di dalam tas saya. Bahkan baru tadi saya bisa mendapatkan kembali rokok yang disita minggu lalu. Sebenarnya bukan langkah yang efektif karena toh saya selalu bisa beli lagi kapan saja dan dimana saja, tapi karena saya sangat menghargai upaya teman-teman saya, saya nggak merengek untuk dikembalikan ketika sudah disita. Baru ketika mereka menawarkan untuk mengembalikan, saya memintanya.

Saya nggak berencana untuk merokok setiap hari. Seingatnya saja.

Hari ini saya menghabiskan tiga batang. Besok, entah berapa.

(Depok, 16 April 2017)

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Byantara, L.’s story.