Confession-pengAkuan
“The way people really think is not adequately analyzed by universal categories of logic. Between social history and formal analysis of thought there is a path, a lane--maybe very narrow--which is the path of the historian of thought"---Foucault
Mengapa kita senang berbagi cerita di Instagram (IG), status di WA , dan Facebook? Belakangan seleb IG dan YouTube merambah juga ke twitter, membuat kesal habitat percuitan, karena pesta ide dalam aksara mulai terkontaminasi dengan monetisasi yang banal.
Beberapa penelitian tentang dampak media sosial daring (digital), contohnya Instagram, telah dibuat, dan hasilnya secara garis besar menyatakan dampak meningkatnya anxiety (keresahan), perasaan inferior, merasa 'kurang’.
Pada tulisan saya sebelum ini, bisa dibaca pada tautan berikut: 'Labirin Tanya’, dijelaskan bahwa rasa "kurang' inheren pada manusia. Lacan, mengusung teori Freud 'Oedipus Complex' dan 'Phallus’, menjelaskan asal-usul rasa 'kurang' pada manusia yang selalu berhubungan dengan pencarian identitas diri manusia yang tak akan berhenti selama manusia masih hidup.
Apakah berbagi di media sosial daring, bisa digolongkan sebagai ‘pengAkuan' atas identitas diri? Kebetulan dalam bahasa Indonesia 'confession' diterjemahkan sebagai pengakuan, membawa dua nosi sekaligus: pengungkapan diri sekaligus mengafirmasi.
Sebelum menyimpulkan bahwa memasang ‘cerita' di media sosial daring sebagai bagian dari ‘pengAkuan' dan mengapa kita kecanduan membuat ‘autobiografi' dalam pecahan-pecahan cerita yang kita unggah, kita akan menelisik sejarah ‘teknologi diri' demikian istilah yang diberikan Michel Foucault, jauh ke belakang pada masa Sokrates (Yunani abad ke 5SM), berlanjut pada praktik yang dilakukan kaum Stoa, lalu pengakuan dosa dalam tradisi Kristiani, dan menulis, juga sebagai teknologi diri.
Foucault memulai seminar tentang ‘Teknologi Diri’ di Universitas Vermont tahun 1982, yang terdiri dari enam seminar. Dalam tajuk lain, teknologi diri dikaitkan dengan politik, yaitu "Politik atas Teknologi Individual". Pendulum bergerak pada ekstrim individual dan ekstrim sosial (negara, kelompok sosial) untuk apa yang disebutnya teknologi diri.
Tulisan ini, bersumber utama dari buku "Technology of The Self" yang disunting Luther H. Martin (dkk.) dari transkrip seminar-seminar Michel Foucault dengan tajuk seperti judul buku tersebut, diterbitkan post humus, 1988 (Foucault meninggal tahun 1984).
Seperti diungkapkan oleh Martin, proyek terakhir Foucault berkaitan erat dengan penelitiannya selama 25 tahun mengenai seksualitas dan kuasa, pembagian manusia-normal dan tidak-lengkap dengan perangkat institusi yang memisahkannya, permainan kuasa dan pengetahuan, akhirnya bermuara pada teknologi diri, semacam genealogi bagaimana diri manusia membentuk kediriannya sebagai Subyek. Proyek ini untuk menjawab pertanyaan yang didapatnya dari Kant “ Apakah kita ini dalam aktualitas kita?” dan dalam konteks historisitas “Apakah kita sekarang?”.
Foucault merujuk pada akar teknologi diri yang menghubungkan represi (terutama seksual) dengan ‘keharusan' mengungkapkan kebenaran (pengakuan) diri. Untuk singkatnya kita sebut relasi antara praktik asketis dan pengungkapan diri.
Sokrates ditunjuknya (dari tulisan Platon “The Apologia") sebagai yang memulai konsep tersebut dengan ‘penuhilah dirimu dengan dirimu sendiri' (dengan kebijaksanaan, kebenaran dan kesempurnaan jiwa) ketimbang mengejar kemakmuran, hormat dan reputasi. Begitulah cara merawat diri. Namun nosi yang diprioritaskan menurut Foucault adalah ‘ketahuilah dirimu' ketimbang ‘rawatlah dirimu’. Sokrates memulai prioritas pada jiwa ketimbang badan.
Praktik ini ditemukan lagi pada kaum Stoa. Dengan latihan menghadapi kematian, mereka terkenal dengan asketisme ketat akan keduniawian. Namun asketisme itu diikuti dengan pemeriksaan diri. Menulis jurnal harian adalah praktik untuk memeriksa diri apakah di hari itu mereka telah mengambil putusan yang benar (yang telah dilakukan. Benar, dalam hal ini adalah memisahkan dari hal yang di luar pengaruh diri, dan yang dalam pengaruh diri, bukan perkara moralitas baik atau buruk.
Sebelum praktik pengakuan dosa dalam agama Katolik seperti sekarang, berlaku praktik mencatatkan dosa untuk menerima suatu tanda yang justru dikenali oleh masyarakat saat itu (exomologesis pada abad 1-2M). Tanda itu berarti telah mengakukan dosa/kesalahannya, dan sedang menjalani masa penghukuman sekaligus tanda akan bersatu kembali dengan gereja lewat suatu prosesi yang ‘teatrikal’. Mengapa seorang mencatatkan dosanya bila harus mendapat malu dengan identifikasi itu?
Seperti yang berlaku sampai sekarang, pengakuan (dosa) dalam tradisi kristiani tidak hanya pengungkapan apa yang sudah dilakukan melainkan termasuk isi pikiran (bahkan sebelum dilakukan).
Mengapa ‘rawatlah dirimu' berevolusi menjadi ‘kenalilah dirimu' yang menurut Foucault adalah praktik yang berbeda, dengan demikian menunjuk pada ‘diri' yang berbeda.
Foucault mencatat evolusi tersebut berhubungan dengan hubungan guru-murid (master-pupil). Pada tulisan Platon ‘Alcibiades’, Foucault mencermati bahwa penyusunan tulisan-tulisan Platon pada masa neoplatonis (abad ke 4-5 M), dimulai dengan Alcibiades, suatu nosi himbauan ‘ketahuilah dirimu' sebagai arche/dasar. Sang murid yang menolak cinta pada masa mudanya menyerahkan cintanya pada Sokrates (gurunya), dengan nosi peran guru mengisi yang kurang dari murid yaitu pengetahuan dan keahlian memimpin polis. Menurut Foucault hubungan tersebut mengandung erotika guru-murid (ketaatan murid demikian menyiratkan dominasi guru), namun masih diwarnai dialektika. Ketaatan masih mengandung kebebasan berdialog. Tujuan utama ilmu yang dipelajari sang murid adalah politik. Jadi ‘ketahuilah dirimu’ adalah untuk tujuan politik.
Dialektika berevolusi pada masa Romawi-Yunani dalam tradisi Stoa, menjadi tradisi tulisan, bukan lagi dialog lisan guru-murid. Kaum Stoa menuliskan apa yang telah dilakukan hari itu, dan mengingat ajaran guru untuk menilai apakah yang dilakukannya sesuai ajaran. Surat-menyurat juga dilakukan antara murid dan guru untuk mengafirmasi ajaran. Ketaatan pada guru adalah pada ajarannya dan belum ada penilaian pada dosa. Hal yang tidak benar adalah suatu intensi baik yang belum dilakukan sesuai yang diajarkan.
Ketaatan kemudian berubah menjadi ketaatan tanpa syarat dari anggota biara pada pemimpinnya (pupil to master) jadi ‘ketahuilah dirimu' sepaket dengan ketaatan tanpa syarat seorang murid yang harus mengakukan bahkan sebuah pikiran buruk yang belum dilakukannya.
Hutton berusaha menjangkarkan apa yang dinilainya sebagai teori teknologi diri Foucault yang mengandung jejak-jejak pemikiran Freud, namun Foucault berusaha melakukan pendekatan bukan dengan psikoanalisa. Menurut Martin, Foucault mengambil metoda historisitas yang menghubungkan teknologi diri “ketahuilah dirimu" selalu sebagai tindakan ketaatan atas suatu ‘struktur di luar Subyek’. Dari Master sampai ke ajarannya, norma sosial sampai berevolusi lagi menjadi hukum, dan negara. Dengan demikian pengungkapan diri selalu terkait dengan politik.
Kembali kepada pengungkapan diri pada lini masa media sosial daring kita, dapat dilihat sebagai suatu upaya ‘menaati’ norma sosial (kedudukan dalam masyarakat). Siapa master dari ‘ketaatan’ membagikan ‘identitas' diri itu. Master itu adalah penyedia aplikasi daring yang memiliki gudang data para pengguna untuk kemudian dimonetisasi dan pemerintah/negara tentu tidak tinggal diam dan masuk dalam kancah dominasi dalam penguasaan data.
Pengungkapan diri, ‘kenalilah dirimu' seperti disimpulkan Foucault, selalu diarahkan untuk kepentingan kuasa, di luar diri subyek yang mengungkapkannya.
