Labirin Tanya
Do we after all seek rest, peace, and pleasure in our inquiries? No, only truth-even if it be most abhorrent and ugly~Nietzsche
Di tengah gempuran informasi pada kotak berpendar dalam gengaman kita, sejenak jeda mencuri waktu. Kadang jeda itu terisi sangsi atau emosi yang berkelindan mengubur kebenaran.
Bila relativisme sebagai salah satu ciri era post modern dituduh melahirkan era post truth, kebenaran sebagai ‘komoditas’ telah dimonetisasi dengan cara dibuat langka. Oleh siapa? Kapitalis? Sangsi dan emosi menjadi bahan bakar, menggerakkan turbin algoritma. Kapital mengalir terpisah dalam dua cabang. Satu cabang untuk menguak kebenaran, dan cabang lain untuk menguburkannya. Kita sebagai penonton atau penikmat diombang-ambingkan oleh dua cabang aliran ini, dan kecenderungan reaktif khalayak penikmat, menambah debit aliran kapital, sadar dan berpartisipasi dalam monetisasi, atau tak sadar dan menjadi target konsumsi.
Strategi merelatifkan kebenaran bukan inovasi baru. Sejak aksi kaum sofis di Yunani, abad ke-5 SM, sejarah telah mencatat cikal bakal kecanggihan retorika sebagai salah satu strateginya. Namun, tidak mengurungkan hasrat manusia mencari kebenaran.
Sambil mengolok-olok promotor pembuka akses kebenaran untuk publik yaitu Sokrates, Nietzsche (1844-1900) memulai metode psikologisme, menggali motivasi mengapa Sokrates dalam upayanya mencari kebenaran lewat terang rasio (logos), harus mengebawahkan epitumia (makan, minum dan sex) dan thumos (semangat, rasa bangga). Memberi nilai lebih baik pada rasionalitas, menurut Nietzsche, berarti menolak kehidupan seada-adanya (beserta kecenderungan epitumia dan thumos pada manusia). Motivasi Sokrates, seperti dituduhkan Nietzsche adalah sesederhana karena berparas buruk, maka Sokrates menolak kehidupan.
Sokrates bukan satu-satunya korban pisau bedah psikologisme Nietzsche. Moralitas Kristiani, Buddhisme dan Positivisme dinilai sebagai paham kebutuhan akan pegangan (kebenaran) sedemikian kuatnya, hingga akan menunjukkan kelemahan penganut moralitas tersebut dalam menghadapi hidup. Menurut Nietzsche, manusia hanya menari di pinggiran jurang kebenaran yang tanpa dasar. Namun hasrat manusia terus dan akan terus mencari kebenaran itu sejelek atau semengerikan yang mungkin tidak siap untuk dihadapinya. Mengapa?
Sebelum kelok bahasa pada periode post-modern (de Saussure 1857-1913), Nietzsche telah menginsinuasi adanya gap antara bahasa (hanya memberi nama pada ilusi-konsep buatan manusia dan melupakannya sebagai ilusi dengan menganggapnya sebagai kebenaran) dan realitas (kebenaran). Apakah gap tersebut yang melahirkan hasrat (tak terpuaskan) atas kebenaran?
Apakah labirin tanya manusia digali oleh hasratnya akan kebenaran? Bila kebenaran adalah jurang tanpa dasar, mengapa hasrat untuk menemukannya tak surut? Dari mana asal usul hasrat itu?
Jacques Lacan (1901–1981), terinspirasi dari teori bahasa de Saussure, teori Oedipus Complex dan phallus dari Freud, juga Heidegger yang terkenal dengan ‘bahasa berbicara’ ~dalam bahasa Jerman “Die Sprache spricht”.
Sebagai penemu psikoanalisa, Freud mengenalkan konsep ketaksadaran- seperti bagian yang tenggelam dari gunung es. Kesadaran adalah sebagian kecil saja, ujung yang menyembul sebagai daratan. Ketaksadaran disadari keberadaannya, lewat representasinya dalam mimpi, ‘keterucut' (slip of tongue), latah, lelucon, namun ada yang tak terbahasakan, terepresi sedemikian dalam, tak tertembus, The Thing, The Real menurut Lacan. Konsep yang melahirkan hasrat manusia dalam sublimasinya ke dalam budaya, agama, dan seni.
Lacan memiliki konsep bahasa, melampaui de Saussure yang menggagas bahasa sebagai sistem penanda (signifier) atas hal yang ditandakan (signified). Namun hal yang ditandakan sedemikian cair hingga ‘meloloskan' diri dari fiksasi penanda. Kita dapat mengalaminya saat mencari istilah dalam kamus, yang merujuk pada istilah lain, dan berbagai penanda dapat merujuk pada hal yang ditandai dalam evolusi bahasa. Namun konsep bahasa Lacan sampai pada apa yang mendasari proses penanda dan yang ditanda, bisa diilustrasikan dengan sistem OS atau sistem operasi dalam komputer.
Sistem bahasa ini yang memungkinkan pertukaran simbol dialami pertama kali oleh bayi. Suatu sistem yang mengakar dalam ketaksadaran. Pertukaran simbol yang hanya dimungkinkan sebagai ekspresi bayi atas hasratnya pada yang lain, The m(Other). Menurut Lacan, tanpa hasrat pada The m(Other), ekspresi ke dalam bahasa tidak menemukan motivasinya.
Bayi dalam masa khayalnya, melalui fase cermin, menemui keberadaan orang lain dan melalui keberadaan orang lain, ia mereferensikan dirinya. Bayi menyadari hasrat timbal balik pada/dari The m(Other), dan masuk dalam masa simbolisasi, menukarkan simbol-simbol untuk mengekspresikan hasratnya.
Lacan, mengadaptasi teori Oedipus complex dan phallus dari Freud. Bila Freud menggagas bahwa bayi menyadari bahwa hasrat ibunya adalah pada phalus yang ‘tidak ada pada dirinya’, ada pada sosok ayah, dan bayi berusaha mengembalikan hasrat ibunya padanya. Hasrat manusia berasal dari ‘hasrat incest’ pada ibu yang tertuju pada sosok lain-phalus (the name of the father-Lacan), di sini Lacan mengusulkan konsep Lack. Bayi tidak memiliki (lack) apa yang dihasrati ibunya, sekaligus munculnya super ego yang berfungsi seperti hukum, merepresi hasratnya pada the m(Other), sementara ia selalu mencari sosok yang dihasrati (phallus) oleh ibunya di tempat lain.
Bisakah kita menyimpulkan bahwa kombinasi rasa kurang dan pencarian phallus di tempat lain untuk memenuhi hasrat sang ibu (di tempat lain memiliki nosi tidak diketahui oleh sang bayi), adalah asal usul dari pencarian kebenaran yang tak diketahui sebagai hasrat yang tak berujung karena rasa kurang (lack) manusia?
Menurut Lacan, phallus adalah satu-satunya penanda yang beoperasi pada tataran khayal, simbolik dan real. Pada tataran real, ia adalah yang tak terbahasakan, yang tak tertembus, yang menjadi pendorong, mencari celah simbolisasi ekspresinya dalam bahasa, selisih yang selalu ada sebagai daya menghasrati itu sendiri.
