Timpang Timpung Ekosistem Pekerja Kreatif: Wawancara dengan Ellena Ekarahendy untuk Pekezine

Berkesempatan ketemu Ellena Ekarahendy di Kwitang14 tanggal 2 April 2017 lalu, nggak cukup rasanya kalo cuma ngobrolin Kwitang14 aja. Mengingat Ellena sendiri adalah salah satu anggota dari serikat SINDIKASI (Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi), akhirnya ngobrol slash kuliah kilat soal topik yang nggak kalah penting dan seru: Immaterial Worker.

Kalau mau membuat definisi berdasarkan kata ya, worker adalah pekerja dan immaterial berarti sesuatu yang bentuknya mungkin nggak terlihat secara harafiah. Singkatnya sesuatu yang bentuknya lebih spiritual lah, daripada fisik. Serem ya jadi mistis, wkwkwk.

Balik ke teori-teorian, immaterial worker ini juga awalnya dari peralihan jaman kerja agrarian (nanem, panen, dll), buruh manufaktur, dan post industrial. Pada jaman agraria, pekerjaan yang ada saat itu adalah mengolah tanah orang lain. Sedangkan pada zaman belakangan yakni post industrial, yang diperjualbelikan adalah sesuatu yang immaterial. Seperti komunikasi, jasa, desain, dan sesuatu yang membangun perspektif orang lain.

Dan kalau memang kita mau melihat sisi lain, sebenernya posisi desainer itu juga nggak terlalu berbeda dengan buruh. Memang buruh sih tepatnya. Karena memang ada tenaga, waktu, dan keahlian yang diperjualbelikan. Dan toh, selama kita bekerja untuk orang lain, setinggi apapun jabatannya, akan tetap menjadi buruh. Kenapa kita nggak pernah mencoba melihat soal itu? Apa kemakan omongan orang yang “Desain grafis kurang dihargai”? Atau sebenarnya desainer grafis yang menarik dan mengekslusifkan diri dari masyarakat?

Permasalahan lain adalah kecenderungan untuk “tidak mau ikut-ikutan soal politik”. Padahal kalau kita ngomongin soal pekerjaan, waktu, tenaga, dan besar gaji pekerja kreatif yang cenderung timpang, mau tidak mau hal ini memang sebenernya sangat berkaitan. Pekerja kreatif dalam hal ini desainer bisa dibilang ya menyokong sistem kapitalisme.

Apa kemakan omongan orang yang “Desain grafis kurang dihargai”? Atau sebenarnya desainer grafis yang menarik dan mengekslusifkan diri dari masyarakat?

Contoh yang diberikan Ellena waktu itu soal kerja lembur. Bikin campaign, lalu lembur, penyakitan, bela-belain masuk kantor eh nggak dibayar lagi lemburnya! Padahal lembur juga atas nama dedikasi sama pekerjaan. Yah, gimana ya. Setelah memperoleh Gaji sebesar UMR nggak taunya cukup buat bayar kosan trus sisanya udah dah. Hadeh.

SINDIKASI pun muncul untuk mengangkat hal-hal yang cukup ‘tabu’ diperbincangkan dalam ekosistem pekerja kreatif. Waktu itu ngobrol soal ekosistem desain grafis contohnya. Kemunculan ekosistem desain grafis di Indonesia sudah ada sejak tahun 1970. Namun setelah 40 tahun lamanya, ada kecenderungan dalam asosiasi-asosiasi desain ranah lokal untuk membahas hal-hal yang bersifat mengapresiasi desain dan kerja saja. Memang ada dimensi lain diluar kepentingan untuk mengapresiasi, yaitu untuk memetakan ekosistem.

Kemunculan ekosistem desain grafis di Indonesia sudah ada sejak tahun 1970. Namun setelah 40 tahun lamanya, ada kecenderungan dalam asosiasi-asosiasi desain ranah lokal untuk membahas hal-hal yang bersifat mengapresiasi desain dan kerja saja. Memang ada dimensi lain diluar kepentingan untuk mengapresiasi, yaitu untuk memetakan ekosistem.

Hal yang lain yang ingin diangkat adalah pemilik kantor kreatif cenderung (mungkin) memiliki kedekatan yang minim dengan working class yaitu para pekerja kreatif. “Dengan segala hormat ya, hahaha” canda Ellena. Beda dengan pabrik, kantor kreatif biasanya hanya memperkerjakan 10–15 orang. Bagaimana kita bisa punya backingan untuk mengajukan gugatan?

Tidak hanya persoalan kinerja, SINDIKASI juga mau menekankan bahaya laten sakitnya mental para pekerja kreatif. Bukan hal yang baru lagi kalau belakangan industri kreatif disebut-sebut sebagai garda depan ekonomi Indonesia dan tuntutan ekonomi.

Muncullah utopiaisme pekerja kreatif. Dimana ada stereotipe pekerja kreatif dapat melakukan segala macam hal secara independen dan mandiri.

Pada saat gagal, akan ada kecenderungan pekerja kreatif merasa tidak cukup kompeten alih-alih melihat sisi yang lebih besar. Satu permasalahan lain pekerja kreatif yaitu adanya keletihan afeksi. Tidak jarang yang jarak rumah ke kantornya jauh, jauh, jauh sekali. Pulang-pulang kejar deadline. Untuk bersosialisasi dengan keluarga, teman, dan partner jadi kurang.

Sejauh ini belum ada jaminan kesehatan bagi para pekerja kreatif ini yang melindungi penyakit-penyakit yang tidak ‘kelihatan’ seperti resiko jantung dan penyakit mental. Padahal mental pekerja kreatif cenderung sering kekuras. Kecenderungan iklim dimana ada dominasi pengetahuan dan dianggap tidak berbakat. Menjadi pekerja immaterial adalah berkompetisi mengenai sesuatu yang ada didalam diri kita, yaitu kecerdasan gagasan dan ide.

Rata-rata kampus kalau mau ngomongin soal DKV cuma ngomongin resiko kena penyakit tipes. Padahal masih banyak sekali yang perlu digali, bigger picture dari ekosistem pekerja kreatif.

Ada soal ketenagakerjaan. Tidak hanya melulu soal profesionalitas kerja. Penting untuk ekosistem ini segera sadar agar dapat memfasilitas pekerja-pekerja kreatif yang bergerak didalamnya.


Artikel ditulis untuk Pekezine, zine Desain Grafis Institut Kesenian Jakarta. Rilis 13 April 2017 lalu.