Surat Kecil Untuk Diponegoro

Aku tinggal di sebuah negeri yang resah dan putus asa 
sampai mirisnya mengirimkan surat cinta kepada pemuda dan pemudinya.

Engkau yang bersumpah tumpah darah satu, bertanah air satu dan berbahasa satu tak henti-hentinya dicari sampai menjadi abu.
engkau yang berani mengaku pemuda pemudi Indonesia mulai kulit sampai nadi akan diburu serupa kutukan hingga mati oleh Tuhan-tuhan kecil dari negeri yang suci ini.

Adikuasa diluar sana bilang Negeri ini seperti pagi yang begitu menyala-nyala perpaduan jingga dan merah.
begitupula yang tersebut kalian, kami ataupun kita entah akan berdarah-darah atau barangkali akan menjadi cerah.

Aku tidak berbicara seperti Chairil Anwar tentang negeri ini betapa ia mewariskan deretan sajak hingga ajal menjemput jalangnya.
namun aku berbicara tentang Diponegoro yang menurutnya hidup kembali

“Pedang di kanan dan keris di kiri berselempang semangat yang tak bisa mati”

Apabila malam sudah turun menuju akhir perjuangan ini, aku dan siapapun yang mengaku kekasih ibu pertiwi akan menjadi saksi bahwa Diponegoro benar-benar hidup kembali.

Like what you read? Give Caesar Hergi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.