Tirani Kenyamanan


Image : The Unwritten #47 — Copyright Yuko Shimizu

Berpikir dan merasa, sebagai kegiatan yang paling intim dilakukan oleh, dari, dan bagi diri sendiri sudah selayaknya ku beri perhatian teramat istimewa. Terlalu sering ku sekadar bersandar pada literatur ilmuwan soal cara kerja otak, limbiknya, amigdalanya, pinealnya, hormonnya, sistem syarafnya. Atau malah hanya berpijak pada tren-tren nabi modern soal berpikir positif, merubah mindset, berpikir kreatif, dan rupa-rupa frasa lain yang membuat seolah-olah aku mengenal diri luar dalam. Namun, apakah benar?

Belakangan, aku giatkan metode berlaku waspada sekaligus tenang kepada apa-apa yang terbersit pada perasaan, menaruh hati-hati sekaligus curiga mengenai soal-soal yang terpercik dari alam pikiran. Mencoba hadir dalam paradoks - kendali penuh sekaligus juga membentangkan badan terbuka pada semesta intuisi yang bercahaya.

Seiring waktu dan kejadian berlalu, lambat laun, terkuak bahwa pikiran dan perasaan seringkali berlaku bak keledai yang ceroboh, atau bagai bara api tersiram minyak. Ku telisik tahap-tahap dalam kejadian ‘berpikir’ dan ‘merasa’ ini, mencoba mengenal mereka sebagai makhluk yang berbeda untuk sementara. Owh.. mereka punya hobi primitif sedari dulu ternyata. Tergesa-gesa. Apa lagi? hmm.. tampaknya ‘berpikir’ dan ‘merasa’ sama-sama narsis, punya kecintaan berlebihan akan perhatian dari si empunya kepada mereka. Dan mereka ingkar-menghindar untuk permulaan hal-hal baik. Nah ini dia… makhluk ‘berpikir’ dan ‘merasa’ ini ternyata memiliki zona nyaman yang jauh lebih dalam dan lebih tinggi dibanding apa yang dikatakan di seminar-seminar, TED talk, buku dan tulisan, serta ucapan orang-orang bijak itu..

Berpikir dan Merasa ingkar-menghindar untuk permulaan hal-hal baik

Oke, soal Zona Nyaman, Comfort Zone, yang bersemayam dalam ‘berpikir’ dan ‘merasa’. Lazimnya aku akrab dengan istilah zona nyaman dalam lingkungan, dalam kegiatan dan aktifitas rutin, pada kebiasaan perilaku, pada hal-hal yang terjadi. Biasanya aku pecaya zona nyaman harus terus menerus diperluas dan kadang dihijrahkan ke kawasan baru. Aku lupa, kata ‘nyaman’ lekat erat dengan rasa dan pikir daripada dengan hal-hal yang terjadi ‘di luar’ diri atau dengan hal-hal yang ku perbuat.

Jadi bagaimana menelaah wujud zona nyaman dalam ‘berpikir’ dan ‘merasa’ ini? Menemukan jebakan pikir dan rasa hanya menggunakan pikir dan rasa saja tentu sukar, harus ada alat bedah tambahan, keberanian memandang jujur sejujurnya menggunakan seluruh indera dan alam semesta. Terkadang aku menyebutnya “menjadi psikolog buat diri sendiri”, sebuah kebiasaan alami sedari kanak-kanak sebenarnya, yang sering kali terabaikan kehadirannya. Sebagian orang lain mungkin menyebutnya dengan mata hati, dengan jiwa, dengan iman, dengan keyakinan, dsb.

Dalam usaha yang sadar dan kadang pula acak-spontan ketika menjinakkan rasa dan pikir, maka peta zona nyaman ‘berpikir’ dan zona nyaman ‘merasa’ ini mulai terlihat kutub-kutubnya. Mereka ingin diiyakan dan disetujui, dipercaya penuh tanpa perlu diselidiki. Mereka menatap seperti sorot mata kucing yang meminta makan, atau anjing yang merasa bersalah. “Toh kami — ‘berpikir’ dan ‘merasa’ — adalah bagian dari dirimu, adalah kamu, kenapa harus susah-susah kita pertanyakan”. Hoho..Gotcha!!

Semenjak menyadari itu, maka metode dalam menelurkan pikir dan melahirkan rasa — yang selama belasan, puluhan, bahkan ratusan tahun umur manusia seolah-olah alamiah, otomatis dan sudah dari sononya — mesti kucermati baik-baik, kutelaah dengan investigasi mendalam untuk sekali lagi berani sejujur-jujurnya, gamblang seterang-terangnya. Setiap rute tempuh zona nyaman ‘berpikir’ dan ‘merasa’ ini hendaklah ku tandai hingga tergores kuat seperti tato agar nahkoda pelayarannya makin bijaksana.

Kebanyakan kesempatan di masa lalu, pikiran dan perasaan mengetahui dengan firasat mereka masing-masing akan datangnya permulaan hal-hal baik, yang harus ditapaki dengan satu langkah pertama yang mereka takuti — keberanian berjalan. Mereka mengingkari ini dengan menguburnya dalam, terhindar dari terang cahaya, luput dari pandangan dan pendengaran. Bahkan desas-desus soal kedatangan hal baik itu pun mereka bungkam dengan kesibukan dan propaganda mandiri. Jika dibiarkan pikiran dan rasa ini bakal jadi tiran.

Oleh karena itu metode baruku tidak lain dan tidak bukan adalah telaah yang waspada, curiga, hati-hati, namun juga tenang untuk setiap pikiran dan perasaan yang berlomba hadir setiap saat. Bersama itu maka pandangan menuju cakrawala makin dipenuhi keyakinan yang mantap akan perjalanan dan tujuan.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated caisar hadi’s story.