Dimana Merdeka

Hari ini, tepat 16 Agustus 2016, tepat sehari sebelum dirayakannya peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71. Pertanyaan yang sama selalu kita ajukan tiap kali momen menjelang perayaan ini yaitu “apakah kita sudah benar-benar merdeka?”. Secara De Jure, tentu kita sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945, namun secara De Facto, tergantung dari masing-masing diri kita memaknai kemerdekaan ini, seperti merdeka dari apa? atau merdeka dari siapa?.

Saat ini mungkin diantara kita sedang sering-seringnya mendengar pekikan-pekikan “Merdekaaaa….” Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa, pria maupun wanita, terkadang kitapun kita membalas pekikan tersebut dengan kalimat serupa. Semoga pekikan-pekikan ini tumbuh dari dalam hati kita yang sebenarnya yang masih mempertanyakan kemerdekaan bangsa ini tidak hanya menjadi sebuah teriakan yang keluar dari mulut kita dan lalu hilang. Semoga nilai-nilai substansial dan semangat dibalik pekikan tersebut masih sama seperti yang diteriakkan para pejuang jauh sebelum 71 tahun yang lalu, dimana saat itu pekikan tersebut masih sangat berarti untuk mencari dimana merdeka setelah 350 hidup tertindas. Setelahnya kita telah dapat menikmati kemerdekaan yang direbut dengan perjuangan yang luar biasa. Sungguh beruntung kita saat ini.

Namun saat ini kita justru terlena dengan kemerdekaaan ini, banyak permasalahan yang terjadi setelah masa proklamasi. Benar sekali kata Sang Proklamator, “ Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Banyak sekali konflik internal dalam skala besar maupun kecil yang justru menggoyahkan bangsa ini setelah masa kemerdekaan. Mungkin ini pula yang dapat melandasi kita untuk mengatakan kita masih dijajah oleh bangsa sendiri. Adapula pendapat yang mengatakan kita belum merdeka dari asing, atau bisa dikatakan sebagai bentuk kolonialisme modern. Apapun itu nyata memang Indonesia telah merdeka secara hokum, yang perlu kita pertanyakan seharusnya sudahkah kita menghargai para pejuang yang telah memerdekakan bangsa ini dan membuat kita sedikit lebih beruntung dari mereka saat ini tentu atas rahmat Allah SWT.

Kita harus tetap menatap kedepan untuk terus berjalan melewati perayaan kemerdekaan ini tiap tahun, entah itu hanya sebagai perayaan seremonial tanpa arti atau sebagai bentuk refleksi mulai dari diri kita sampai unit terbesar dalam negara ini. Mari isi tiap detik kemerdekaan ini dengan hal-hal positif untuk kemerdekaan bangsa ini dan mari merefleksikan diri, menengok kebelakang apa yang telah kita lakukan, apakah telah membuat para pendahulu kita yang berjuang untuk bangsa ini telah bangga memerdekakannya. Terakhir saya tutup oleh kata-kata dari Soe Hok Gie, “Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat tumbuh dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.”.