Bingung

Aku memulai tulisan ini ketika 2 pekan yang lalu,Bukan ini sebenarnya judulnya, hanya tulisan-tulisan itu tidak pernah terselesaikan. Mungkin segala kesibukan kepanitiaan, organisasi, dan bisnis yg kujalani bs jadi alasan. Tapi bukan itu alasan sebenarnya, Entah kenapa, aku hanya menjadi bingung menentukan arah.

Sudah menikmati senja sambil menuliskan namamu di bibir pantai, Tak kunjung jua mendapat pencerahan, Sudah merenung jauh menatap bintang diatas rooftop kosan, Tak kunjung jua muncul jawaban, Aaakhh…Lieeuurrr, Naha kieu-kieu teuing ?

Tapi pada detik ini aku sejenak menyingkirkan segala urusan kesibukan, yang masih belum selesai semalaman, merampungkan tulisan yang tak bertujuan, Dengan tata bahasa yang masih berantakan.

Aku itu asing bagimu, Aku bukan orang yang berada didekatmu saat ini, Kita tidak saling following akun asli, Tidak saling add friend, Apalagi no. WA aku tidak punya, Apalagi chat secara personal, tidak pernah. Aku juga bukan orang yang membalas pesan di halaman secreto mu. Oleh sebabnya, kamu itu memang benar2 bidadari khayalan bagiku.

Jujur saja, Pertemuan kala itu, mungkin belum bermakna apa-apa, Kurang ajarnya adalah setelah pertemuannya, Sejak itu aku mencoba memaknainya sebagai hal yang biasa, Aku telah berkali-kali mencoba menghapus keberadaanmu yang fana, Tapi kerinduan selalu saja ada, Entah darimana, Ada semacam panggilan jiwa, Begitu kata hatiku berbicara

Aku pun tidak pernah merasa paham atas perasaan ku sendiri, berkali-kali hati ini akan jatuh pada yang lain, tapi selalu teringat kembali. Dibalik logisnya aku memandang kehidupan, aku selalu mempercayai insting yang terkadang liar.

Saat ini, aku tak peduli kamu mengenalku atau tidak, Tapi entah siapapun yg kamu sangka, Aku akan berusaha lebih baik dari mereka, Mempersiapkan diri, entah apakah akan bersama atau tidak, Aku hanya bisa menyampaikan salamku lewat Do’a, Kamu selalu ada didalam doaku selepas shalat.

Percayalah, Entah bagaimanapun keadaannya, aku tetap akan mengungkapkan diri ini yang sebenarnya, Aku tidak akan semisterius itu untuk selamanya

Kata-kata kurniawan gunadi, mungkin bisa sedikit menepis kebingungan

“ Ada waktunya berdiam, ada waktunya mengungkapkan. Ada waktunya menunggu, ada waktunya bergerak. Bukan tentang mana yang lebih baik, tapi tentang waktu yang tepat. “