Aku Dari Masa Depan

Dari segala cerita yang pernah kudengar, aku selalu mempercayai bahwa kondisi kita sekarang ini adalah hasil akumulasi dari diri kita di masa lalu. Aku dan teman-teman seangkatanku memiliki tinggi badan yang lebih pendek dibanding adik tingkat ku karena saat tahun 96 saat ku berumur dua tahun sedang terjadi reformasi. Saat itu ayahku kesulitan untuk membeli susu yang berkualitas baik karena harga yang melambung tinggi.
Selalu sering terdengar mengenai bagaimana kita dibesarkan memengarhui diri kita saat ini/nurture. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang berkonflik memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami gangguan jiwa baik itu ringan atau berat. Bisa juga ketika kecil mengalami abuse dari lingkungan terdekat nya di masa depannya diprediksi akan menjadi sosok yang insecure dan harmful. Dan masih banyak lagi intervensi kecil yang terjadi saat kita kecil yang beriak besar pada kondisi saat ini.
Sore tadi perjalanan pulang dari Grand Indonesia untuk makan sore bersama keluarga di taxi terasa begitu membosankan. Penumpang sebelumnya adalah segerombolan orang yang merokok di dalam taksi sehingga baunya masih tersisa. Jalanan di Jakarta juga tidak menunjukkan arus yang semakin senggang. Keinginan untuk mendengar lagu juga terasa hambar bagiku, karena aku adalah orang konservatif yang mendengarkan lagu dari Spotify dengan playlist yang itu-itu lagi.
Teman lamaku Dimas pernah menyarankanku untuk membuat kebiasaan baik dengan mencerna sesuatu yang baru setiap harinya, dengan begitu sel-sel otak kita dapat bertumbuh, salah satu nya dengan mendengarkan podcast. Saat itu ada sebuah judul yang menarik bagiku; “Positive Psycology-with Martin Seligman”. Sebagai manusia yang menyematkan dirinya sendiri sebagai pengamat kehidupan, aku selalu tertarik dengan setiap mengapa dari perilaku manusia.
Podcast ini memberikan sebuah cerita yang benar-benar baru dan meracaukan persepsi tentang kehidupan manusia, intinya;
Selama ini kita selalu disodorkan tentang pengetahuan bahwa manusia adalah mahluk yang terbentuk dari masa lalunya. Setiap kejadian buruk yang menimpa sesorang dapat sangat besar membentuk kehidupannya. Kehilangan anggota terdekat yang kita miliki dapat berpengaruh besar terhadap persepsi menikmati hidup. Kehilangan seorang anak yang dahulu menjadi aktivis zaman orde baru, akan sangat memengaruhi kehidupan sang ibu sampai saat ini. Mulai dari kejadian itulah, kita sebagai manusia membuat asumsi-asumsi dan modeling terhadap ketidak idealan kehidupan manusia agar menjadi ideal.
Bagi orang yang semenjak kecil mendapat perlakuan buruk akan sangat mungkin mengalami depresi. Konsultasi kepada psikolog ataupun obat dengan dosis tertentu dari psikiater kita hadapi untuk memperbaiki masa lalu itu agar hari ini kita menjadi lebih tidak menderita. Masa lalu seakan koridor kehidupan berkehidupan kita.
Kita khawatir apakah typo di dalam tugas akhir yang sudah di blackbookan harus direvisi lagi sekarang. Kita khawatir apakah segala jalinan pertemanan yang sudah dibentuk dengan teman yang sudah lama tidak bersua akan hilang karena mereka sudah menemui perjalanan yang baru.
Ya, kondisinya tentu berbeda jika kalian mendapatkan pengalaman kehidupan yang baik di masa lalu. Bersuykurlah jika dibesarkan secara baik dalam lingkungan keluarga yang kondusif, jika dibesarkan dengan makan 3x sehari, jika mandi 2x sehari, ataupun pergi ke plaza seminggu sekali. Tetapi tidak semua orang mendapaktan anugrah seperti itu! Setiap dari kita ada yang dibesarkan single parent, yang merasa nikotin sebagai penenang, alkohol sebagai jalan keluar, ataupun judi sebagai pekerjaan ideal.
Semua ini hanya akan berhenti pada luapan emosi dengan apa jadinya jika kita menganggap masa lalu membentuk kita sekarang ini.
Pandangan baru terhadap narasi di atas adalah, masa depan yang menentukan kita saat ini. Jika masa depan adalah sesuatu yang belum terjadi, bagaimana bisa kita mengatahui dampak masa depan ke diri kita yang masa kini. Ya jawabannya adalah; kita saat ini adalah masa depan itu sendiri. Dengan syarat, kita mengetahui secara insyaf dan sadar segala kehidupan kita berjalan untuk masa depan yang kita bayangkan.
Pernah dengarkan sebuah cerita bahwa, bentuklah sedetail mungkin masa depan yang kita impikan. Setiap hal-hal rinci, waktu, dan segala usaha yang bisa nanti kita lakukan untuk mewujudkan itu. Ya. Itu benar adanya. Kita bukanlah sekedar homo sapiens yang hanya memenuhi kebutuhan hidup untuk saat ini dengan berkaca pada masa lalu. Kita adalah manusia, menyemat title sebagai manusia, menjadikan diri kita mampu membentuk masa depan sesuai yang kita inginkan.
Jika kita ingin menjadi aktivis dalam bidang perumahan, maka saat ini kita mengambil studi lanjutan tentang perumahan, bekerja di NGO untuk menambah pengetahuan dan selanjutnya. Atau jika ingin menjadi announcer terkenal, ya bisa dimulai dengan membentuk diri kita yang paham konstelasi sosial media dan sekolah lanjutan broadcasting. Atau mau menjadi orang kaya namun gabut, bisa seperti yang Vito ungkapkan untuk bekerja di Kementrian Agama bagian Ditjen Penyelenggaran Haji dan Umrah. Atau apapunlah itu.
Mungkin ada benarnya, kita terbentuk oleh bagaimana kita ditanam dan disirami selama hidup. Ada masanya juga kita merasa tidak berdaya terhadap beban kekeliruan yang diciptakan masa lalu. Bersyukurlah dengan segala keputus asaan tersebut, karena sekarang waktunya harapan mengambil perannya. Harapan untuk menjadikan diri yang terbaik yang dapat diberikan.
Untuk saat ini. Dari masa depan.
Carlos Nemesis
Lagi nyari tempat magangKalau bisa tentang permukiman
