Mono no aware

Minggu pagi ini begitu dingin, kuterlambat untuk ke Gereja. Langsung saja kupakai kemeja flanel ku yang terlipat dan mengenakannya lalu bergegas ke sana. Ternyata masih sepi, dan kuputuskan untuk duduk di pojok belakang (karena merasa tidak enak belum mandi).

Lalu sang pengiring pujian datang ke mimbar untuk melatih sebuah lagu (biasanya lagu yang dilatih sebelum ibadah di mulai adalah lagu yang jarang dinyanyikan). Dan lagu yang di pujikan adalah :

  1. Kita ini seperti bunga-bunga berseri
    tanpa nama terkenal, dirundungi banyak hal,
    tanpa atap peneduh bila badai menderu.

Refrein:
Berbungalah, berbungalah,
hai ladang dunia!

Baru pertama aku mendengar lagu ini, seketika itu pikiranku langsung tergulung kembali ke belakang.


Aku teringat akan sebuah momen dalam film The Last of The Samurai.

Bushido Scene

Pada saat itu Kaisar Matsumoto menyadari bahwa akan kematiannya yang semakin dekat, Matsumoto kembali merefleksikan hidupnya. Seperti sakura. Yang telah mekar secara indahnya selama beberapa hari lalu gugur.

Bagaimana bisa sesuatu yang sangat indah namun membuat kita menangis. Mungkin layaknya seperti bertemu kembali dengan kawan lama yang kita rindukan.

Nostalgia, keindahan, kesedihan, duka.

Semua perasaan itu bercampur menjadi satu.

Syukur bahagia dirasakan, namun tangis juga ikut serta. Satu kejadian yang sama namun begitu kontradiktif.


Karena memang itu sangat indah, namun tidak akan bertahan selamanya.

“We are all dying” — Kita semua berjalan menuju kematian, namun hidup itu sendiri begitu indah.

Kalimat di atas menggambarkan sebuah peribahasa dalam kehidupan orang Jepang, yang membentuk kehidupan dan budaya orang Jepang sejak 1000 tahun lalu. Bermula dari seorang wanita bernama Murasaki Shikibu yang membuat 54 buku terpisah yang menceritakan tentang Genji (The Tale Of Genji). Secara garis besar buku ini menceritakan roman dari seorang pria yang menikah terpaksa dengan beberapa gadis, dan menceritakan juga kekuatan wanita dalam menghadapi itu semua.

Dan peribahasa itu adalah : Mono no aware. Sebuah kesedihan yang lembut.


Tak terasa ibadah sudah dimulai, dan orang-orang disampingku telah berdiri untuk penyambutan. Aku pun berdiri, tertunduk, mengusap mata sambil tersenyum.

Carlos Nemesis
Bunga dalam ladang dunia
Tanpa nama terkenal

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.