Jangan Jatuh Cinta pada Tulisan Sendiri

Carolina Ratri
Apr 27, 2018 · 4 min read

Berkali-kali saya bilang pada diri sendiri, “Jangan jadi penulis yang jatuh cinta pada tulisan sendiri.”

Kenapa? Ya, soalnya itu bakalan ngeblock diri saya sendiri dari peluang untuk mengembangkan diri.

Saat saya jatuh cinta pada tulisan sendiri, saat itu pula maka saya akan:

Jadi malas self edit

Saya akan berpikir, tulisan saya udah pasti okelah. Sudah lengkap pastinya, dan orang tuh pasti ngerti deh apa yang saya maksud. Orang kek gini doang kok.

Padahal … Mbulet.

Kalimatnya banyak yang enggak nyambung, belum lagi typos yang bertebaran. Banyak elemen yang hilang, sehingga informasi yang saya sampaikan malah nggak nyampai ke pembaca.

Singkatnya, habis baca tulisan saya, pembaca malah makin nggak mudeng. Lha kok, mau berharap mereka mau baca sampai habis. Baca sampai tengah saja lo, pada pusing.

Duh ….

Jadi antikritik

Setiap orang yang maukasih masukan, saya akan menganggapnya sebagai tukang kritik yang ingin menjatuhkan saya.

Terus, paling parah sih akan membuat saya nyolot, “Lu kasih kritik ke eug emang lu udah lebih jagoan ketimbang eug?”

Huhuhu. Aduh, jangan sampai deh ya, saya kek gitu. Rugi banget kalau sampai antikritik tuh. Beneran.

Misal, kasus nulis Flashfiction nih ya. Ada komen nih, “Kok begini begitu? Nggak masuk akal deh.” Atau, “Kok aku nggak paham ya sama ceritanya?”

Ya, pokoknya si pemberi komen tuh mau menunjukkan plothole gitulah ya. Tapi, karena saya udah antikritik duluan, saya nyolotlah, “Ah, lu gini aja kok nggak ngerti sih?”

Padahal itu tuh sebenarnya sudah indikasi, kalau cerita kita tuh berarti memang kurang bisa dipahami. Ada sesuatu yang salah atau kurang, dan perlu banget diperbaiki.

Jadi catatan bangetlah itu, gimana bisa menyampaikan cerita secara utuh hingga pembaca itu langsung ngerti apa maksud dan mau kita sebagai penulis.

Tapi karena kita udah jatuh cinta sama tulisan sendiri, akhirnya malah nyolot. Ya, jadinya kita nggak akan mau memperbaiki kesalahan kan? Kan kita beranggapan orang lain yang nggak ngerti. Bukan kitanya yang salah.

Terus? Ya terus, stucklah makanya itu ilmu menulisnya. Nggak akan berkembang deh.

Jadi baperan

Nah, ini kaitannya juga dengan poin sebelumnya di atas tuh. Karena saya pikir tulisan saya udah yang paling bagus, makanya saya jadi baperan dan insecure sama orang.

Dulu saya belajar banyak soal menulis ya karena masukan dari teman-teman juga. Malah dari merekalah saya mendapatkan banyak ilmu lo. Kalaupun saya ikutan workshop atau kelas menulis, biasanya ya jadi sekadar teori. Saya tuh beneran akhirnya ngerti yang dimau sama orang lain itu karena saya mencoba berbesar hati untuk mendengarkan masukan.

Memang, kadang ya bikin kuping merah atau bikin baper sih pada. Tapi, justru dari situ saya beneran bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan saya.

Jadi, kalau sampai saya merasa tulisan saya sudah yang paling bagus, itu berarti saya sudah ngeblok diri saya sendiri untuk menjadi lebih baik.

Jadi nggak mau baca tulisan orang lain

Walah, apa sih ini? Bagusan tulisan aku juga.

Jujur, dulu saya pernah juga ada di stage itu. Malu kalau ingat. Tapi ya harus diingat malahan, biar nggak keulang lagi.

Biasanya sih kalau kalah lomba tuh, kadang muncul pikiran kayak gitu. Terus akhirnya baper ke mana-mana, curhat di media sosial. Bilang juri nggak kompeten.

Haduh.

Itu tuh, hasil dari jatuh cinta pada tulisan sendiri.

Karena jatuh cinta pada tulisan sendiri juga, bikin kita jadi nggak suka belajar dari mereka yang lebih, ya lebih ilmunya maupun yang sudah lebih senior.

Ini bahaya lo!

Karena sebagai penulis tuh, sebenarnya kita bisa banyak belajar dengan membaca tulisan orang lain. Kebayang nggak sih, penulis kok nggak suka baca? Ada emang?

Ada. Saya percaya. Yaitu mereka yang jatuh cinta pada tulisan sendiri. Dan, saya juga pernah kayak gitu.

Dan, kapok.

Pundung nulis

Untung saya belum sampai di tahap ini nih. Setelah melalui semua tahapan di atas, akhirnya pundung nulis. Nggak mau nulis lagi.

Karena apa?

Karena kok tulisan saya dikritik mulu?
Kok tulisan saya dikomenin jelek mulu?
Kok tulisan saya nggak pernah menang lomba?
Kok tulisan saya nggak pernah dimuat di media?

Dan seterusnya.

Bukannya introspeksi diri, dan kemudian memperbaiki kesalahan, eh … malah menyalahkan hal-hal lain yang nggak relevan.


Nah, makanya ya, jangan sampai jatuh cinta sama tulisan sendiri. Yuk, membuka pikiran dan membuka diri untuk berbagai masukan dan opini yang datang. Kalau perlu, melangkah sedikit keluar zona nyaman sekadar untuk menguji diri sendiri.

Ikut lomba menulis, misalnya. Itu bisa jadi semacam ujian naik kelas kita sebagai penulis lo.

Atau menulis dan dikirim ke media lain. Pokoknya yang melibatkan banyak orang lain untuk membaca tulisan kita gitu.

Karena hanya dengan mendapatkan feedback dari orang lainlah kita bisa tahu mana yang kurang dan perlu diperbaiki.

Jangan jatuh cinta pada tulisan sendiri.

Carolina Ratri

Written by

Penulis 25+ buku mayor dan indie, solo dan antologi, fiksi dan nonfiksi. Content & Marketing Strategist sebuah penerbit buku. Kunjungi: www.carolinaratri.com.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade