Indonesia (hanya) Butuh Lebih Banyak Jiwa Kolaborasi

“If you want to go fast, walk alone. If you want to go far, walk together.” — African Provebs

Saya prihatin. Data di tahun 2016, menunjukkan bahwa tingkat pengangguran intelektual (terhitung dari lulusan universitas) meningkat jumlahnya dari tahun sebelumnya. Di tahun 2015, jumlah pengganguran intelektual lulusan universitas berjumlah 5,34% sedangkan di awal tahun 2016 meningkat hingga 6,22% (BPS, 2016).

Belajar dari 1000 startup

Saya ini bukan orang yang hobi banget update soal info di dunia teknologi. Sekedar cari referensi spesifikasi handphone yang saya beli aja malesnya minta ampun. Tapi, sejak saya tahu soal 1000 startup, saya kagum. Saya pikir ini solusi cerdas untuk mengurangi angka pengangguran intelektual di Indonesia kedepannya.

Saya kagum karena, ternyata masih ada orang-orang baik di negeri ini yang mau kontribusi untuk kehidupan orang lain. Bukan sibuk urusin kepentingan dia sendiri. Lebih-lebih, orang-orang ini adalah pengusaha. Kebanyakan adalah pendiri startup.

Waktu saya ketemu Yansen Kamto, penginisiasi gerakan 1000 startup, saya makin tau “BIG WHY” dia buat gerakan seperti ini. Waktu awal bikin project ini, banyak yang sebut dia “gila”, “ambisius” dsb karena angka 1000 yang menurut para nyinyinyers tidak masuk akal sama sekali. Tapi, ketika saya denger penjelasan langsung dari dia, saya makin yakin kalau logika dia benar. Project ini memang project “gila” dan ”ambisius”, tapi berlogika!

“Angka 1000 itu terlalu kecil dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa ini”. — Yansen Kamto

Saya melihat inisiasi dia ini tidak banyak dari sisi kemajuan teknologi di Indonesia ataupun keberhasilan teknologi dalam membantu meningkatkan kesejahteraan Indonesia. More than that, the insight of this project is more powerful. Impactful. “Kita (terutama startup yang bergabung di 1000 startup) diajarkan untuk berkolaborasi”. KOLABORASI.

Menjadi Tidak Selfish

Kita perlu banyak belajar dari semut yang berkoloni. Semut dengan bentuk tubuh kecil, tidak memilih untuk berjalan sendiri-sendiri dalam mencari makanannya ataupun membangun sarangnya. Mereka memilih untuk berkoloni.

Takjubnya lagi, mereka berkoloni dan dengan penuh kesadaran “rela berbagi makanan”. Sebab faktanya, semut pada umumnya memiliki dua perut, satu perutnya digunakan untuk menutrisi diri mereka sendiri, sedangkan yang lainnya digunakan untuk berbagi makanan dengan semut lainnya di koloni. Hebat ya? Lah kita manusia? “Mungkin masih banyak yang sibuk dengan dirinya sendiri”.

Menurut Psikolog F. Diane Barth, ada dua karakteristik yang terlihat jelas dari orang “selfish”:

  1. Being concerned excessively or exclusively with oneself.
  2. Having no regard for the needs or feelings of others.

Hayo….. Kamu gitu gak?

Tapi perlu kita ingat, kalau “selfish” itu beda dengan narsis ya.

“Selfish” itu punya tendensi untuk arogan dan terlalu memanjakan dirinya sendiri (tanpa memikirkan orang lain). Sedang narsis adalah tendensi kearah perilaku yang terlalu membesar-besarkan dirinya.

Kolaborasi Bikin Kamu Liar

Saya kok makin lama makin setuju kalau kolaborasi itu buat kita makin “liar”. Lah gimana enggak, beberapa orang berkolaborasi udah bisa menghasilkan hipotesa baru kalau bumi itu datar :)) (oot) Hehe (intermezzo)

Coba lihat, beberapa pengusaha sukses tingkat dunia, mereka kebanyakan adalah hasil dari kolaborasi. Sebut saja Facebook yang diprakarsai oleh Mark Zuckerberg, Dustin Moskovitz, Eduardo Saverin, Andrew McCollum, dan Chris Hughes. Kalau aja si Mark “selfish”, dia bisa aja tetap bikin Facebook, tapi mungkin tidak akan se-fenomenal Facebook yang kita kenal hari ini.

Saya juga pernah berjalan sendiri (re: “selfish”) waktu membangun bisnis kedua saya. No need a long time, bisnis saya kembali sembrawut. Lack of improvement, lack of idea, lack of selling number, and lack of energy (secara waktu itu saya ngerjain apa-apanya sendiri, kan capek juga). Beda cerita pastinya kalau waktu itu saya punya tim untuk berkolaborasi, mungkin bisnis saya tetap berkembang sampai hari ini.

Kalau ada satu, dua atau tiga aja orang yang “cocok” dan bersedia gabung ke “mastermindproject yang mau kita buat, Voilllaaaa…. saya yakin banyak ide “liar” yang impactful yang bisa buru-buru kamu eksekusi.

Tujuan Berkolaborasi

Kolaborasi bukan soal hemat-hematan budget untuk ciptain sesuatu hal. Berhubung biasanya mindset kolaborasi erat banget kaitannya dengan “penghematan” ya.

Hemat boleh hemat, tapi hematnya adalah hemat dalam energi. Kolaborasi itu membawa saya, kamu dan banyak orang diluar sana untuk lebih produktif dan fokus. Kolaborasi memaksa saya, kamu dan banyak orang diluar sana untuk Major in what we love and minor in what we hate”.

Conclusion

Iya, banyak hal di masa kini yang menghipnotis kita untuk hidup “selfish”. Teknologi yang canggih membuat kita bisa melakukan apa saja dengan satu gerakan jempol saja. Katanya, “The World is in your hand”. Tapi, tujuan dilahirkannya teknologi yang lebih beradab justru untuk mempermudah kita berkomunikasi. Kata kuncinya adalah “mempermudah” bukan “menghilangkan”.

Sistem yang tersedia untuk mempermudah proses berkomunikasi ini justru harusnya jadi katalisator untuk kita lebih banyak berkolaborasi. Bayangin aja, kalau suatu saat nanti istilah “selfish” sudah bisa kita buang jauh-jauh dari kehidupan kita dan kolaborasi bisa dipraktekkin secara masal. Bisa kita bayangkan, pastinya hanya dalam hitungan kurang dari 5 tahun Indonesia bakal bisa nyalip negara-negara maju lainnya. Lah, penduduk Indonesia kan banyak. Potensi kolaborasinya tentu juga banyak. Indonesia (hanya) butuh lebih banyak jiwa kolaborasi.

Ikuti hashtag #catatanprasasti #mudamelegenda dan sebarkan informasi baik ini ke teman-teman kamu lainnya.

(IAP)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.