Bahagia Atau Senang?

Behind The Scenes of NAK Indonesia — Di Balik Layar NAK Indonesia

Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. Saya ingin curhat, saya tahu Medium bukan tempat tepat untuk tulisan model ini, tapi tak apalah…

Ada diskusi di komunitas NAK Indonesia tentang terjemahan yang pas untuk “pursuit of happiness” yang ustadz Nouman Ali Khan bilang di video yang sedang kami buat subtitlenya:

Mereka yang memiliki ilmu agama/psikologi mengatakan happiness yang ustadz NAK maksud di sini adalah kesenangan bukan kebahagiaan. Mereka memperkuat alasan dengan mengambil pendapat psikolog Amerika, Martin Seligman dan dalil agama Islam. Berikut saya kutip beberapa pendapat diskusi di grup:

Happiness yg dimaksudkan Ustadz NAK di atas itu adalah Joy. Pleasure. Bukan kebahagiaan, tapi kesenangan. Dalam Psikologi Positif, Martin Seligman, Professor Psikologi, Ketua Asosiasi Psikologi Amerika, mengurai bahwa Happiness itu isinya ada 3 : Emosi Positif, Engagement, dan Meaning.
Yang disebut atau dijelaskan di ceramah Ustadz NAK di atas maksudnya adalah yg Emosi Positif. Joy. Happy. Pleasure. Memang ini adalah tingkatan paling rendah. Sangat temporer. Dalam hal ini penggunaan kata yang tepat menjadi krusial karena salah kata atau salah pengartian bisa jadi salah pesan.
Dalam konteks masyarakat Amerika, pesan Ustadz NAK di atas sangat strategis. Sangat penting. Kita perlu tahu bahwa masyarakat Amerika memang sangat terobsesi dengan happy feeling. joy. pleasure. Yang begitu begitu deh.
Jadi memang sangat penting beliau memberi pesan begitu.
Begini teman teman : salah pakai bahasa bisa fatal. salah mengartikan juga bisa fatal.
Happiness yang sesungguhnya adalah kabahagiaan, dan Happiness yang dangkal adalah kesenangan.
Jika kata happiness digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang lebih rendah dari cool, popularity.. maka yang dimaksudkan itu adalah kesenangan.
Jadi memang beda.
Bahagia adalah hidup yang lapang, produktif, bernilai, dan bermakna.
Perbedaan ini penting untuk ditegaskan karena jika yang tertanam di pikiran masyarakat Muslim kebahagiaan itu selevel dengan kesenangan, dan orang tidak perlu memikirkan tingkat kebahagiaan dirinya, akan banyak masalah psikologi yang muncul di masyarakat Muslim.⁠⁠⁠⁠
Jadi ijinkan saya menyampaikan bahwa saran saya ini bersifat final : mohon terjemahkan kata pursuit of happiness yang digunakan Ustadz NAK di lecture beliau tersebut dengan frasa “mengejar kesenangan” karena jelas itulah yang beliau maksudkan.

— -

Menyadari ilmu saya rendah, saya memilih mengalah. Di subtitle saat editing final, pursuit of happiness akan diterjemahkan sebagai mengejar kesenangan dan bukan mengejar kebahagiaan.

Saya sebenarnya ngotot ingin menerjemahkannya sebagai bahagia, alasannya terjemahan ini mudah dimengerti oleh kebanyakan orang. Sedangkan bila diterjemahkan sebagai kesenangan, itu adalah terjemahan dari mereka yang memang punya ilmu lebih.

Alasan saya memilih pursuit of happines sebagai mengejar kebahagiaan adalah:

  1. Penonton video NAK Indonesia adalah umumnya orang awam, mereka menyukai bahasa yang mudah dimengerti. Pursuit of happiness diterjemahkan sebagai mengejar kebahagiaan, saya yakin umumnya orang-orang mengerti bahagia yang dimaksud di sini.
  2. Saya melihat anak-anak/remaja ketika mereka bermain dengan teman-teman mereka, tidak dapat pr, bermain ps, dan hal-hal semacam ini. Saya melihat mereka bahagia. Tentu kebahagiaan semacam ini adalah kebahagiaan yang terendah. Tapi bagi saya, saya itu tetap mewakili rasa bahagia.
  3. Alasan ketiga, — ini alasan yang terakhir di tulisan ini, saya janji — . Saya melihat bayi memandang ibunya, saya melihat bayi itu tampak bahagia sekali. Saya tak tahu secara keilmuan ini disebut apa, tapi bagi saya, bayi itu tampak sangat bahagia.

Demikian curhat saya kali ini, mohon maaf bila ada salah kata. Mohon maaf bila merusak Medium karena dicampuri oleh tulisan model curhat, bukan tulisan model serius. Barokalloohu lii wa lakum. Wassalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.