PRASANGKA-PRASANGKA ABSURD
“Aku adalah sesuatu yang berpikir. Apakah aku? Sesuatu yang meragukan, memahami, menegaskan, menyangkal, menghendaki, menolak, dan juga berimajinasi dan merasakan.” ― René Descartes, Meditations on First Philosophy.
Berjalan Mundur
Manusia menganggap dirinya sebagai representasi dari kesempurnaan.
Melalui proses berpikir, dia dapat menciptakan sesuatu daripadanya,
menguasai apa-apa yang ada di permukaan tanah yang dipijaknya,
menjinakkan segala yang dapat ditaklukannya,
dan menguak misteri-misteri dengan ilmu pengetahuan yang dia punya.
Namun, kesempurnaan tentu berdampingan dengan kompleksitas.
Bagaimana mungkin buah pikiran tersalurkan tanpa adanya bahasa?
Bagaimana pula bahasa tercipta?
Setelah terlahirnya bahasa, bagaimana cara manusia untuk mengabadikan hasil rasionya?
Otak hanyalah organ yang akan berulat lalu membusuk, namun gagasan-gagasan yang diciptanya memiliki kemungkinan untuk kekal.
Bagaimana caranya?
Tentu saja melalui simbol dan tulisan yang telah disepakati bersama.
Manusia berhasil menciptakan simbol dan tulisan, dari hieroglyph hingga times new roman, atau bahkan braille.
Lantas pertanyaanku, bagaimana hal-hal tersebut terbentuk?
Sejak kapan?
Siapa yang memulai?
Bagaimana prosesnya hingga aku, kamu, dan semua orang bisa menulis dengan alphabet dan bahasa yang berbeda-beda?
Siapa yang pertama kali membuat simbol bahwa warna merah artinya berani?
Siapa yang pertama kali menamai warna darah sebagai warna merah?
Ah jika diteruskan, pertanyaan-pertanyaan absurd yang bodoh ini akan semakin meluas.
Jadi, mari hentikan saja sampai di sini dan teruskan apa-apa yang ingin dikerjakan. Biar saja ini mengambang tanpa respon, daripada mendengar jawaban, “Ya memang sudah dari sananya”. Lebih baik letakkan saja otakmu di dalam toples berisi air keras.
