Kucelupkan selusin kantung teh chamomile tanpa gula ke dalam cangkir seukuran genggaman tangan, berharap tidurku nyenyak untuk malam ini.
Kusesap sedikit-sedikit dengan khidmat. “Sial, rasanya pahit, getir”, batinku.
Kuteruskan sambil sesekali menyapu gigi depanku dengan lidah, mulutku jadi kesat karena teh bunga ini.
Posisiku duduk di lantai dan bersandar di dinding yang dingin, kumatikan semua sumber cahaya supaya aku tak bisa menatap langit-langit.
Aku benci langit-langit, bukan karena sering dihinggapi sarang laba-laba atau warnanya yang menguning bekas endapan air hujan akibat atap bocor.
Setiap menjelang tidur, langit-langit seolah berubah menjadi layar tancap yang memutar ulang hal-hal yang menyakitkan, menampakkan ulang kata-kata dan tindak-tanduk yang mengecewakan. Setiap bangun dari tidur, lagi-lagi harus menatap langit-langit.
Ia bukan lagi menjadi layar tancap, tapi seperti bebatuan yang runtuh.
Tak terasa teh chamomile tinggal sesapan terakhir, cukup kutelan dalam sekali teguk saja.
Coba memejam sambil kugenggam gelas kosong tadi.
Semenit, dua menit, tujuh menit…
Oh hey ternyata aku tak pernah bangun lagi.
