Jalan sepeda yang menghubungkan FISIP dan Stasiun Universitas Indonesia (foto oleh Catur Wahyu)

Memulai perjalanan

Tulisan ini adalah potongan kecil dari buku genre memoar yang masih dalam proses penulisan.

Beberapa bulan lalu saya diketahui memiliki kanker tiroid. Bukan hal mudah untuk menerima vonis ini. Tapi akhirnya saya menyadari kanker adalah sebuah perjalanan seperti layaknya menulis. Perjalanan yang semakin membentuk saya dan keluarga.

Tulisan ini masih kasar, belum melalui proses editing. Tapi mohon izinkan saya untuk memulai perjalanan dengan bercerita, menyampaikan harapan, semoga saya masih memiliki waktu untuk menyelesaikan buku ini.

Operasi

Di kamar rawat inap, saya bersama Ibu, Lady dan Rei yang baru datang dari Bogor menggunakan kereta CommuterLine di hari Senin pagi. Berdesak-desakan bersama ribuan pekerja yang tidak rela berpisah dengan akhir pekan. Kontras, saya datang ke rumah sakit H-1, di Minggu siang. Merasakan kereta yang sepi penumpang, menikmati antrean sinyal masuk stasiun Manggarai yang biasanya menjadi musuh saat saya sedang terburu-buru.

Saya dan Lady bisa dikatakan sudah veteran menggunakan transportasi kereta Jabodetabek. Berkuliah di Universitas Indonesia dan rumah di Bogor, menuntut untuk memanfaatkan transportasi publik yang cepat dan murah, sekali pun di tahun 2000 awal, transportasi ini sulit untuk bisa diandalkan. Seringnya saat pulang-pergi, kereta ekonomi akan disusul kereta Pakuan Ekspres di stasiun Depok Lama. Pemandangan kereta ekonomi dipenuhi penumpang sampai ke atap kereta bukan hal yang aneh. Pintu yang tidak berfungsi, sehingga rawan lemparan batu atau pun copet yang tiba-tiba menghilang saat kereta melaju melintas stasiun. Gangguan kereta adalah hal yang rutin, mulai dari kereta mogok, rel patah, sampai pantograf (antena antara kabel listrik dan kereta) yang rusak karena ada orang yang tersetrum. Berdesak-desakan, bertukar keringat dengan orang lain, kami maklum dan beradaptasi. Fisik dan mental dengan sendirinya terbentuk.

Kegemaran kami berdua menggunakan kereta turun ke anak tunggal kami, Rei. Beruntung Rei lahir di era kereta Jabodetabek sudah jauh lebih baik. Kereta menjadi hobinya sejak usia satu tahun. Saat teman dan sepupunya bermain mobil-mobilan atau boneka, Rei akan minta majalah Kereta Api untuk hadiah ulang tahun. Dia bisa menyebutkan semua nama stasiun rute Bogor — Jakarta Kota atau pun Bogor — Jatinegara dengan urutan yang benar. Sampai hari ini dia masih bercita-cita menjadi masinis.

Di kamar rawat inap saya menahan lapar. Sudah tiga jam berlalu sejak saya sarapan porsi kecil di jam enam pagi. Ini bukan gaya sarapan saya yang selalu dimulai sekitar jam delapan pagi dengan pilihan menu nasi tim, nasi kuning atau nasi goreng.

Rei antusias menceritakan pengalaman naik kereta. Ibu tidak kalah seru dengan pengalaman barunya, menggunakan fasilitas bangku prioritas untuk manula. Baginya sebuah prestasi bisa duduk saat kereta sudah penuh dengan penumpang.

“Kamu sudah mulai puasa?” tanya Ibu karena melihat tanda pasien puasa tepat di atas tempat tidur. “Tapi kamu tadi masih dikasih sarapan kan?” pertanyaan khas Ibu. Saya selalu rindu dengan perhatian Ibu seperti ini.

Bagian dari prosedur, pasien yang akan dioperasi harus mengenakan baju tindakan operasi, atau biasa disebut baju OK (baca: o-ka, jangan dibaca oke). Model terusan selutut tanpa celana, dengan ikatan tali dibagian punggung. Bayangkan kemeja tanpa kerah, kepanjangan yang dipakai terbalik. Baju OK hanya ada satu pilihan warna, hijau. Konon kenapa warna ini dipilih karena menetralkan warna merah yang banyak dijumpai di ruang operasi. Mungkin ada benarnya, karena menurut teori warna, hijau adalah warna komplemen (warna kontras yang berlawanan) dari merah di dalam roda warna.

Setengah jam sebelum operasi, Lady membantu memakai baju OK dan mengikat tali yang ada di punggung, dibutuhkan waktu sekitar 10 menit. Saat suster datang mengecek ulang, yang terlontar adalah “Maaf, ini ikatannya salah. Saya bantu perbaiki ya.” Sekali pun Lady tidak bicara, saya tahu dalam hati dia protes, “Kenapa ngga dari tadi!”

Ikatan tali edisi revisi versi suster membutuhkan waktu lebih cepat, sekitar lima menit. Ikatan tali yang jauh lebih kuat dan rapih. Ada kalanya wanita akan merasa disaingi karena hal kecil, salah satunya kejadian ini.

Dari lantai tiga, saya dibawa menggunakan kursi roda ke ruang operasi yang berada di lantai dua. Ibu, Lady dan Rei mengikuti sampai batas steril. Di depan pintu, oleh suster saya diserahkan ke dokter yang bertugas di ruang persiapan operasi, dan yang pertama dilakukan adalah membuka baju OK tadi dan diganti dengan selimut. Ya, baju OK yang membutuhkan waktu 15 menit untuk dipakai, kini harus dilepas dengan perjuangan ekstra karena ikatannya terlalu kuat. Setelah baju OK dilepas, saya bertanya ke dokter, “Celana dalam apakah masih bisa dipakai?”. Ada jeda, sepertinya dokter sedang mengingat-ingat tindakan operasi apa yang akan saya jalani. “Iya, silahkan dipakai saja”. Dalam hati saya berterima kasih, privasi saya masih terjaga.

Saya merebahkan diri di tempat tidur beroda yang lebarnya hampir pas di badan, sisi kiri dan kanan tempat tidur diangkat pembatas berbahan plastik tebal. Dokter mengajak ngobrol sambil memasang hair-cap, infus dan alat pendeteksi jantung. Saya merasa obrolan lebih ke basa-basi, sepertinya dokter lebih ingin tahu kesiapan mental pasien. Apakah gugup, ingin kabur, atau siap lanjut operasi. Saya teringat adegan film The Island saat pasien yang sedang dioperasi tiba-tiba tersadar, mencabut selang infus, kabur keluar dari ruang operasi, membuat semua dokter panik dan entah dari mana muncul penjaga berpakaian hitam-hitam mulai memuntahkan tembakan namun meleset sehingga barang-barang pecah berserakan. Saya bertanya-tanya apakah dokter di sini punya prosedur darurat jika hal seperti itu terjadi. Semoga Michael Bay sang sutradara tidak terlibat di operasi saya.

Semua orang yang mengalami operasi pertama pasti gugup. Tapi sensasi tambahan yang saya rasakan adalah pasrah. Baru kali ini, ada keputusan besar yang saya ambil, tetapi saya tidak memiliki kendali atas itu. Hidup saya secara harfiah berada di tangan dokter-dokter ini.

Saya, dokter dan staf operasi menunggu Prof Muchlish, dokter spesialis onkologi yang akan melakukan tindakan operasi. Saya tidak lagi diajak ngobrol, dan dibiarkan menikmati kegelisahan ini. Para dokter dan staf operasi yang berjumlah enam orang sepertinya sudah saling kenal cukup lama, obrolan mereka sangat akrab disertai volume suara yang cukup keras. Di tengah kegelisahan, saya akhirnya tersadar, mereka semua senang mengobrol. Tampaknya semua orang saling berlomba tidak ingin ketinggalan pembicaraan. Setelah ratusan kali tindakan operasi, bertahun-tahun bekerja bersama di lingkungan kerja dengan tingkat stress tinggi, keakraban mereka saya lihat seperti sebuah keluarga besar. Dan di ruangan ini saya adalah tamu di rumah mereka.

Prof Muchlish akhirnya masuk ruangan, sekejap keramaian berhenti. “Bagaimana pasien?” tanya Prof Muchlish ke salah satu dokter. “Aman, Prof.” jawabnya. “Langsung saja kalau begitu.” Prof Muchlish memberi instruksi sambil masuk ke ruang ganti dokter. Tempat tidur saya didorong ke lorong dan masuk ruangan operasi. Ternyata di ruangan operasi sudah siap Prof Ruswan sebagai dokter anestesi beserta lima staf operasi lainnya. Setidaknya di ruangan operasi ini saya tidak merasa kesepian.

Baru pertama kali saya masuk ruangan operasi. Ruangan nuansa perak hijau, yang setelah diperhatikan ternyata berdinding dan berlantai dari bahan stainless berpori. Dari tempat tidur roda saya dipindahkan ke meja operasi. Akhirnya saya tahu kenapa dibilang meja operasi karena memang seperti meja. Tidak ada roda, hanya ada engsel di bagian bawah yang bisa digerakkan membentuk sudut tertentu. Saya sesekali melihat kesibukan Prof Ruswan dan para dokter. Lebih sering saya melihat ke atas, ke arah lampu operasi ukuran besar yang seakan-akan seperti bertanya, ‘Apakah kamu sudah siap?’.

Sebelum operasi ini, saya banyak bertanya ke teman-teman yang pernah melakukan operasi. Dari operasi sesar sampai usus buntu. Bagaimana pasien akan diminta oleh dokter anestesi untuk menghitung mundur dari sepuluh sampai satu. Ternyata Prof Ruswan punya pendekatan lain, dia hanya mensuntikan obat ke selang infus. Kurang dari satu menit Prof Ruswan berkata ke saya, “Selamat tidur pak.” Lalu kepala terasa berat dan semuanya menjadi gelap.


Dua minggu kemudian saya kembali berada di ruangan persiapan operasi. Muka dokter-dokter terlihat lebih familiar, saya kini tahu tahapan prosedur mereka. Tahu kapan harus berpindah ke tempat tidur, kapan harus menanggapi obrolan dokter.

Dokter di ruangan ini bertugas mempersiapkan pasien operasi, mengetahui tindakan apa yang akan dijalani oleh pasien, tapi terkadang dokter tidak mengetahui sejarah penyakit pasien satu per satu.

Refleks, saya menyerahkan lengan untuk dipasang infus. “Sudah pernah operasi pak?” tiba-tiba dokter bertanya. Sepertinya dia punya bakat membaca pikiran pasien.

“Ini yang kedua dok,” jawab saya dengan sedikit senyum. “Yang pertama, dua minggu lalu.” Saya menarik napas. “Setelah operasi pertama, dari hasil patologi baru diketahui ada karsinoma di sisi kiri, dan sudah menyebar ke sisi kanan tiroid.”

Obrolan terputus, sepertinya dokter bingung harus menanggapi apa. Tidak masalah, kebingungan pun sudah beberapa hari menghinggapi saya. Sampai hari ini Ibu belum saya beri tahu tentang kondisi terbaru. Kali ini Ibu berada di Bogor, mengira saya ada di rumah baik-baik saja.

Istilah karsinoma digunakan oleh dokter untuk menjelaskan jenis kanker yang berasal dari sel di organ. Ada juga istilah sarkoma, jenis kanker yang berasal dari sel di tulang. Namun dua istilah ini sering dipakai sehari-hari di rumah sakit, untuk keperluan menghaluskan kata kanker antara dokter-suster-pasien. Seolah-olah dengan menggunakan istilah ini akan sedikit mengurangi stres pasien.

Kami semua, di ruangan persiapan operasi menunggu Prof Muchlis. Suasana tidak seriuh operasi pertama. Saya menutup mata, mengatur napas secara teratur. Ada hal yang mereka tidak ketahui, justru di operasi ke dua ini saya jauh lebih takut.

Sebelum operasi saya bertanya ke Lady, “Kamu masih ingat password laptop?” Lady menjawab iya. Semua informasi asuransi, perbankan dan file-file penting disimpan di laptop saya. Dan kami tahu risiko operasi kedua ini.

Kami berdua selalu menggunakan kata ‘amit-amit’ saat mendiskusikan risiko operasi. Diskusi kami terasa melelahkan, selalu berusaha mencari padanan kata yang pas. Seolah-olah antisipasi adalah hal yang tabu, tidak pantas untuk membicarakan komplikasi atau pun kematian.


Saya memiliki benjolan sebesar telur ayam di bagian sisi kiri leher. Lebih dari 10 tahun saya memilikinya, nyaman dan terlupakan, seperti cacat yang tidak perlu ditutupi lagi. Saat itu saya melakukan pengecekan, hasil diagnosa menunjukkan benjolan tiroid di leher saya adalah tumor jinak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, saat itu saya putuskan untuk tidak dioperasi. Pertimbangan karena masalah biaya dan pengetahuan tentang tumor yang terbatas.

Selang 10 tahun kemudian, saya memutuskan untuk pengecekan ulang. Dengan jeda satu dasawarsa, terlihat pengecekan saat ini jauh lebih canggih. Alat scan radiasi nuklir SPECT-CT yang lebih baru, alat-alat laboratorium patologi yang mirip bagian dari film Star Trek. Saya juga lebih banyak mencari tahu tentang tumor tiroid dari artikel kesehatan dan blog.

Setelah pengecekan lebih dari satu minggu, hasil diagnosa keluar. Dan ternyata status masih sama, tumor jinak. Saya ditangani oleh Prof Sarwono, dokter spesialis endoktrin. Untuk tindakan awal, beliau menyarankan konsumsi obat thyrax selama enam bulan dan diobservasi apakah ada efek terhadap tumor tiroid saya. Jika setelah pengobatan enam bulan ternyata tumor tiroid tidak mengecil, sebaiknya dipertimbangkan untuk dioperasi.

Enam bulan berlalu, ternyata ukuran tumor tiroid saya masih sama. Sebelum ke dokter, saya dan Lady sudah membuka pilihan untuk dilakukan operasi. Saat kembali bertemu Prof Sarwono, beliau pun langsung menanyakan pilihan apa yang mau diambil. Semua plus dan minus dibicarakan secara terbuka. Malah kami semakin yakin, operasi adalah solusi terbaik untuk kasus ini. Saya direkomendasikan untuk bertemu dengan dokter spesialis onkologi yang akan melakukan operasi, saya memilih Prof Muchlis dan mendaftar untuk konsultasi pra operasi di minggu yang sama.

Di lorong tunggu departemen onkologi tempat Prof Muchlis praktik tidak terlalu ramai. Jika dibandingkan dengan rumah sakit lain, departemen onkologi menjadi area yang berusaha saya hindari. Dengan pasien tumor dan kanker yang sedang menunggu antrean, sulit untuk menyembunyikan ekspresi saya saat melihat kondisi medis pasien. Saya khawatir mereka tidak nyaman dengan kehadiran saya yang sekedar lewat.

Di tempat ini suasana berbeda, pasien yang menunggu termasuk saya sendiri lebih terlihat normal. Dengan kesibukannya masing-masing, membaca buku atau pun tenggelam dengan smartphone.

Ruang praktik Prof Muchlis sekali pun terkesan bersih dan terang, tidak menghilangkan kesan horor. Saya lihat ada beberapa ilustrasi medis, seperti yang sering kita lihat saat di ruang praktik dokter gigi. Bedanya kali ini adalah ilustrasi medis organ-organ pasien kanker. Tidak hanya satu, tapi ada beberapa ilustrasi: kanker payudara, kanker usus, dan ilustrasi bagan organ apa saja yang memiliki potensi kanker.

Entah mengapa, ada kesamaan antara dokter dan tukang cukur rambut Asgar. Mereka senang dengan poster-poster yang mewakili profesi mereka. Mungkin ini bagian dari validasi profesi atau sekedar rambu bagi konsumen untuk memastikan, orang yang masuk tidak salah ruangan.

Jika dibandingkan dengan ruangan praktik Prof Sarwono yang minimalis, ruangan praktik Prof Muchlis lebih mirip klinik kecil, lemari obat dan alat-alat medis tertata rapih di samping tempat tidur.

“Jadi, kamu mau dioperasi?” tanya Prof Muchlis setelah membaca medical record, yang terdiri dari beberapa lembar kertas yang diikat binder dengan sampul map kuning.

“Iya Prof,” jeda mengatur napas. “Saya sudah diskusikan sebelumnya dengan Prof Sarwono.”

Prof Muchlis menjelaskan risiko operasi, teknis operasi, proses pemulihan dan beberapa hal lain secara mendetail. Lady berusaha menangkap semua informasi, dengan sesekali melontarkan pertanyaan yang sudah kami tabung sebelum konsultasi ini.

Saya berusaha mengatur napas, sekedar untuk mengurangi rasa tegang atau mencari oksigen yang terasa tipis. Sedikit sesak, kepala pusing dengan semua informasi yang tidak bisa saya cerna sekaligus. Atau, ini adalah firasat. Tanpa saya ketahui, dua minggu sejak konsultasi ini, saya akan duduk kembali di kursi yang sama, di ruangan yang sama, dengan diagnosa baru.

Like what you read? Give Catur Wahyu a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.