Janji

Tahun 1877, terjadi perang antara dua negara. Salah satu negara ingin menaklukan yang satunya.

Negara yang bertahan memiliki benteng setinggi 25 meter dan baru pertama kalinya diserang oleh musuh. Belum pernah ada yang berani menyerang benteng tersebut, mungkin karena musuh sudah terlalu takut dan bingung untuk menembusnya.

Tetapi benteng tinggi dan gagah tersebut memiliki kelemahan, yaitu jalan rahasia bawah tanah yang biasa mereka gunakan untuk menerima kiriman persenjataan dari pusat. Yang mungkin saja musuh dapat mengetahuinya.

Oleh karena itu, sang jenderal perang negara yang bertahan memberikan perintah kepada 5 orang letnan untuk menjaga jalan rahasia yang kemungkinan bisa menjadi jalan masuk musuh. Mereka membuat pos jaga, sementara jenderal dan prajurit lainnya berperang di garis depan. Mereka diberi perintah untuk menjaga pos selama lima hari dan kembali apabila tidak ada sesuatu yang terjadi.

Saat itu, perang berlangsung selama seminggu. Tembok besar nan tinggi gagal untuk ditembus. Pasukan negara yang bertahan membalas menyerang dengan menembakkan mortar dam meriam dari atas benteng. Pasukan musuh kocar kacir kabur dari medan perang. Itu adalah kemenangan mudah bagi mereka.

Meskipun kemenangan sudah ditangan, tapi lima letnan yang sang jenderal beri perintah untuk menjaga pos di jalan rahasia bawah tanah belum kembali. Radio mereka mati sejak hari ke lima perang. Hari di mana mereka diperintahkan kembali ke benteng apabila tidak terjadi apa-apa.

Radioman di benteng memberitahukan bahwa terdapat suara aneh dan juga teriakan para letnan tepat setelah mereka melaporkan akan kembali ke benteng. Setelah itu Radioman tidak menangkap pesan apapun.

Keadaan mulai genting dan tidak ada yang tahu apa yang terjadi di bawah sana. Kemudian seorang Mayor Jenderal menawarkan diri untuk menjadi ketua tim untuk menjemput kelima letnan tersebut. Sang jenderal pun memberikan izin, dan sang mayor pergi bersama 6 orang letnan.

Di depan pintu masuk menuju jalan bawah tanah, sang mayor berpesan kepada sang jenderal dan letnan lain yang bertugas menjaga pintu “Kunci pintu ini dan jangan pernah dibuka lagi apabila aku tidak kembali dalam 24 jam”. Kemudian mereka mengangguk mengerti. Sang jenderal pun memberikan jam saku miliknya kepada letnan yang bertugas menjaga pintu sesaat setelah sang mayor mulai menyusuri tempat tersebut.

Setelah sekian lama sang mayor menyusuri jalan yang gelap tersebut, akhirnya mereka bertemu dengan letnan yang dikabarkan hilang. Mereka duduk bersebelahan ditengah kegelapan, lampu yang pecah, dan tak ada yang dapat dimakan. Dan mereka hanya berdua! Ketakutan seperti baru saja melihat hal mengerikan untuk pertama kalinya.

“Hey! Kalian tidak apa-apa? Dimana yang lainnya, bukannya seharusnya kalian berlima?” Sang mayor bertanya sambil menyodorkan lampu yang ia bawa agar dapat melihat jelas wajah mereka

“heeeuuhh huuhh ahhh…. Matikan lampunya! Jangan sampai ada cahaya! Bayangan akan datang dan membunuh kita semua!” Mereka menjawab seperti orang linglung dan gila

Sang mayor pun mencari ketiga letnan yang hilang disekitar tempat mereka bertemu dengan dua letnan yang sebelumnya hilang, dan dia berhasil menemukan ketiga letnan yang hilang, tapi dalam bentuk yang terpisah-pisah!

Dia kaget dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia langsung bergegas memanggil beberapa letnan dari timnya untuk datang menemuinya dan mereka langsung membawa potongan tubuh rekannya dalam karung untuk dibawa kembali.

“Ini bukan hal yang bagus! Kita harus kembali secepatnya! Ayo cepat masukkan potongan tubuhnya ke dalam karung!” Dia ketakutan dan nafasnya terengah-engah

Setelah mereka berjuang dan lari dari kegelapan yang tak tahu menyimpan makhluk apa, mereka berhasil sampai di depan pintu masuk rahasia menuju benteng. Mereka mencoba mengetuk, tapi tidak ada yang membuka. Kemudian mereka melihat jam saku mereka masing-masing.

“Kita sudah lebih dari 24 jam, Jenderal pasti selalu menetapi janjinya. Aku tidak tahu apakah pintu ini akan terbuka atau tidak.” Sang mayor berkata demikian

“huh? Setelah kita bersusah payah bertahan hidup dari maut yang ada di kegelapan, kita tidak bisa pulang?” Salah satu letnan berkata sambil sedikit tawa kecewa

Tiba-tiba

*suara pintu besi terbuka*

“Waaaaahhh! Kalian membuka pintunya!” Teriak lega satu letnan dari tim sang mayor, kemudian memeluk erat salah satu penjaga pintu

“Tapi, kenapa kalian masih membuka pintunya untuk kami? Kami sudah pergi selama 24 jam lebih.” tanya sang mayor kepada penjaga pintu

“No! Kalian belum pergi lebih dari 24 jam.” *Sambil menunjukan jam saku yang ia dapat dari sang Jenderal*

Sang mayor pun terkekeh melihat jam saku tersebut, dia sudah mengetahui bahwa itu jam milik sang jenderal tanpa diberitahu oleh sang penjaga pintu

Jam saku dengan kacanya yang sedikit retak dan jarum jam yang bergerak… di tempat

Sang mayor pun pergi ke atas benteng untuk menemui sang Jenderal

Dengan mata yang berkaca-kaca dia berkata “Terimakasih Jenderal”

Jenderal hanya tersenyum kecil tanpa melihat Mayornya

Like what you read? Give Chikal Galih K. a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.