Sharing Pengalaman Meraih Mimpi Kuliah di Jepang dengan Beasiswa

Assalammualaikum teman-teman! Sesuai judul, kali ini Cendi bakal sharing pengalaman mencari beasiswa (kesana-kemari) demi mewujudkan mimpi untuk bersekolah di negeri Sakura. Syukur alhamdulillah Cendi berhasil mendapatkan beasiswa dari pemerintah Jepang tahun 2017.
Dulu, aku sempat bernazar, jika mendapat beasiswa ini aku akan berbagi pengalamanku kepada teman-teman yang juga memiliki minat yang besar untuk melanjutkan sekolah ke Jepang. So, disimak yuk!
Stage 1: Mengumpulkan Niat
Persis di bulan Agustus tahun lalu (2016), aku mengalami rasa galau yang luar biasa, haha. Ingin melanjutkan S2 tapi nilai TOEFL ITP masih dibawah standar (< 550) dan masih galau juga mau ambil jurusan apa dan di universitas mana. Di waktu yang sama, aku juga melamar pekerjaan kesana kemari tapi tak kunjung diterima, ditambah jomblo lagi huhu sedihnyaaa hidupku dulu #eh. Saking stresnya, aku sampai pergi ke atas loteng dan melihat langit sambil menangis dan mempertanyakan apakah Allah mendengar doaku atau tidak. Kedengarannya lebay sih, tapi itulah yang terjadi. Aku rasa banyak orang yang mengalami hal yang sama dengan keadaanku pada saat itu. Tapi itulah titik dimana aku berpikir bahwa saat itu juga aku harus mengambil sikap, jika merasa buntu pada rencana A, aku harus segera mengambil rencana B. Bukankah ada banyak jalan menuju kesuksesan?
Aku tegas pada diriku sendiri: “Fokus cari beasiswa S2 ke Jepang”.
Aku mulai mengutarakan keinginanku pada mama, aku masih ingat betul kejadian ini terjadi Sabtu pagi, di dapur. Dengan suara agak pelan, aku bilang ke mama, “Ma, aku mau S2”. Reaksi mama pun sungguh diluar dugaanku.
Mama: “Wah bagus. Syaratnya apa (buat mewujudkan itu)? Nanti kalo ada apa-apa minta uangnya ke Mama aja”.
Cendi: “Mau ikut tes TOEFL iBT ma.. Syarat admission-nya gitu..”
Mama: “Oh, berapa biaya tesnya? Itu nanti sekolahnya pake beasiswa kan? kamu cari aja dulu info kampusnya”.
Semenjak itu, aku jadi sangat bersemangat. Yang tadinya super stres, aku jadi bangkit lagi seperti hape yang baru dicas, seger dan panas (?).
Aku mulai mencari-cari info sekolah yang bakal jadi target aku, mengubek-ngubek abis Google tentang kampus-kampus ternama di Jepang.. Mulai dari Waseda, Todai, sampai akhirnya aku jatuh hati pada Keio University. ❤
Aku tulis semua persyaratannya pada lembaran kertas, lalu kutempel di dinding kamar agar aku selalu mengingatnya.
Aku mulai mendaftarkan diri untuk ikut tes TOEFL iBT. Singkat cerita, nilaiku tidak sesuai dengan target. Aku hanya mendapat nilai 74 di percobaan pertamaku. Benar-benar patah hati rasanya, karena sekali tes TOEFL iBT biayanya sekitar 2,3 juta rupiah. Huhuhuhu maafin ya ma, pa..
Stage 2: Daftar Kuliah
Alur pendaftaran kuliah di tiap kampus beda-beda ya teman-teman. Kali ini aku akan menceritakan prosedur pendaftaran di kampusku. Sama seperti di Indonesia, kampusku menggunakan sistem “ujian dan eliminasi”. Ada 2 tahap, yang pertama tes administratif dan paper. Kita diharuskan mengirim dokumen-dokumen daaaan ujiannya adalah harus menulis rencana penelitian dan menjawab pertanyaan “Apa yang kamu lakukan selama 5 tahun terakhir ini?”. Dalam menulis essay itu, aku benar-benar memikirkan setiap detilnya dan meminta feedback dari teman-temanku. Revisi berkali-kali adalah hal yang biasa~ Lalu kukirimkan semua dokumennya melalui pos. Fyi, dari Bandung ke Jepang memakan waktu 4–5 hari.
Saat itu pengumuman tahap pertama, alhamdulillah aku lulus. Selanjutnya tes wawancara. Tes ini dilakukan menggunakan Skype. Minggu pagi yang cerah, jam 9 pagi, aku diwawancarai oleh 3 orang professor. Wawancara berlangsung 10 menit. Alhamdulillah wawancaraku berjalan dengan lancar, diselingi dengan nyanyian karena salah satu professor menyuruhku menyanyi hahaha.
Contoh pertanyaan pas wawancara:
- Perkenalkan diri kamu
- Apa yang bakal kamu lakukan setelah lulus/ apa cita-citamu setelah lulus
- Bagaimana kondisi kota kamu
- Apakah kamu pernah ke Jepang
- Coba nyanyikan satu buah lagu
Super unexpected. Luar biasa memang para professorku, sungguh aku jadi tak sabar bertemu kalian semua :”)
Alhamdulillah, ketika aku sedang berada di kereta aku melihat pengumuman dan aku lulus :”) Aku pun mendapat surat “Acceptance Letter” yang dikirimkan langsung dari Jepang. Senang sekali rasanya.
Stage 3: My First Attempt on LPDP Scholarship
Aku pun mendaftar LPDP batch 4 tahun 2016. Bersama kedua temanku yang sama-sama punya semangat untuk bisa berkuliah di luar negeri, kami berlatih dengan keras dan menyiapkan segala dokumen yang ada. Oh iya, untuk memenuhi syarat LPDP aku menggunakan hasil TOEIC ku. Buat teman-teman yang pengen tahu tips dan trik mengikuti tes TOEIC silahkan baca disini :)
Singkat cerita, kedua temanku lolos beasiswa LPDP sementara aku tidak.
Kecewa? Iya. Kaget? Ngga. Sedih? Ngga juga. Kenapa? Secara batiniah, aku yakin Allah punya rencana lain. Secara logika, tampaknya ada beberapa hal yang menyebabkan kegagalanku mendapat beasiswa LPDP.
Faktor kegagalan dalam LPDP versi Cendi:
- Ketidaksinkronan jurusan S1 dengan jurusan yang akan diambil di S2
- Ketidaksinkronan itu pun tidak didukung oleh pengalaman bekerja di bidang yang sesuai dengan jurusan yang akan diambil
- Masih samarnya rencana setelah lulus S2 (lanjut kerja/jadi dosen/wirausaha)
- Masih freshgraduate, pengalaman kerja belum ada/kurang dari setahun
- Masih samarnya rencana penelitian
- Kurangnya pemahaman dan pendalaman akan informasi jurusan yang akan dituju
- Semua hal itu tercermin dari jawaban dan sikap kita ketika wawancara
Pada saat itu aku yakin bahwa Allah punya rencana yang lebih indah, yang rezekinya datang dari arah yang tidak terduga-duga. Makanya, aku ga terlalu sedih pas tahu kalo aku gagal. Toh pada hari Jumat yang kelabu itu aku masih tetap mau nonton channel WakuWaku Japan meskipun diledek ayah :”(
Stage 4: Cari Beasiswa Lain!
Gak mau terlalu lama larut dalam renungan kegalauan (halaaaah..), aku memutar otak supaya Acceptance Letter aku ini ga berakhir sia-sia. Aku mengirimkan email kepada 3 professor yang dulu mewawancaraiku yang intinya “minta dibantu kalo ada info beasiswa, mohon diinfokan, soalnya saya gagal dapat beasiswa dari Pemerintah Indonesia, kalau ngga ada beasiswa saya ga bisa sekolah di sekolah impian saya”. Cukup dramatis sih.. berharap ada yang membalas, ternyata ngga dibalas. HUHUHU.
Berdoa teruuuuuus….. Liatin terus gambar kartu pos Yokohama dan tulisan “Saya bisa kuliah di Keio tahun 2017” yang ditempel di dinding.
Suatu hari, saya mendapat email yang menyatakan bahwa ada beasiswa dari pemerintah Jepang. Kalo saya berminat, balaslah email ini. Daaaaan… perjuangan pun dimulai.
Stage 5: Jalan Menuju Beasiswa Monbukagakusho U to U
Sekitar awal bulan Januari 2017, aku mulai mempersiapkan segala dokumen yang dibutuhkan. Semuanya hanya tentang dokumen. Gak ada wawancara dll. Aku hanya terus berdoa agar Allah memberi jalan rezekiku disini.. karena kalau bukan disini, ngga tau lagi mau gimana..
Alhamdulillah dapat email yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi untuk tingkat fakultas, selanjutnya tingkat universitas.
Sebulan berselang, alhamdulillah lolos tingkat universitas. Selanjutnya universitas-lah yang akan merekomendasikan kita ke pihak pemberi beasiswa.
Ditunggu berbulan-bulan, dengan perasaan yang super penuh harapan, akhirnya tanggal 30 Mei 2017 jam 7.54 WIB saya dapat email yang isinya “Congratulations!”
ALHAMDULILLAAAAAH YA ALLAAAAH… AYAH SAMA MAMA NANGIS, KITA SEMUA NANGIS DI PAGI YANG INDAH DI BULAN SUCI ITU :”)
Perjuangan selama setahun ke belakang akhirnya berujung manis. Kalau kita yakin bahwa Allah mendengar doa kita dan Allah punya rencana terbaik buat kita, maka pasti ada jalannya!
Aku selalu ingat quotes ini:
Yakinlah akan ada sesuatu yang menantimu, setelah banyak kesabaran (yang kau jalani), yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa pedihnya rasa sakit.
Ali bin Abi Thalib.
Itulah pengalamanku dalam menggapai cita-cita bersekolah di negeri Sakura. Teman-teman, doakan aku ya agar lancar kuliahnya, cum laude, dan bisa berkontribusi buat Indonesia suatu hari nanti. Aku pun mendoakan semoga teman-teman yang membaca bisa termotivasi dan bisa juga tercapai cita-citanya berkuliah di luar negeri, khususnya di Jepang. Kalau mau tanya-tanya lebih lanjut, bisa follow Instagram aku ya! See you in the land of rising sun! :)
