
Apresiasi, satu kata yang membuat gw terus berpikir, “Kenapa sih kebanyakan masyarakat Indonesia itu kurang memiliki sikap apresiasi terhadap pekerjaan / karya orang lain ?”
Inilah beberapa faktor yang menurut gw sangat mempengaruhi kita dalam mengapresiasi seseorang:
Proses
Tidak sedikit dari kita yang selalu melihat pekerjaan / karya seseorang dari hasil akhirnya saja. Ya, karena hal itu cukup menentukan apakah hasilnya dapat digunakan untuk langkah selanjutnya atau tidak.
Namun, tidak semua hasil pekerjaan / karya dari orang tersebut akan berakhir dengan sempurna. Dan banyak juga yang belum berhasil.
Sayangnya, kita tidak peduli dengan proses yang mereka lakukan, jika hasilnya belum berhasil. Kita cenderung langsung membenci, mengata-ngatain, hingga membentaknya.
Harusnya yang kita lakukan sebagai MANUSIA YANG CERDAS adalah dengan menghargai dan mengapresiasi tiap proses dalam pembuatan sebuah pekerjaan / karya tersebut. Karena mereka telah mengorbankan banyak waktu, uang, mental, dan tenaga yang hanya untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan / karya.
Saran gw, berilah apresiasi untuk setiap orang yang telah bekerja dan berkarya. Proses itu tidak murah dan tidak mudah brooh..
Sombong
Gw juga pernah sombong ketika gw gak mengapresiasi pekerjaan / karya seseorang. “Sombong kenapa ?” Sombong karena gw merasa bahwa, “ilmu, tenaga, dan kreativitas gw lebih tinggi dari mereka.”
But, gw tersadar, proses mereka dan proses gw mungkin berbeda, atau pun memang sangat — sangat berbeda dibandingkan gw dalam pencapaian sebuah pekerjaan / karya.
Gw merasa, ketika gw berlaku sombong dan tidak menghargai pekerjaan / karya seseorang, berarti gw juga tidak menghargai pekerjaan / karya dari diri gw sendiri.
Tapi sikap “sombong” ini menurut gw gak semuanya negatif kok. Lu bisa “nyombongin” bakat, pekerjaan, atau karyalu ke khalayak luar, biar orang lain juga tau dengan apa yang lu kerjain. Sukur — sukur bisa ngerjain project kolaborasi bareng dan menghasilkan uang kan ? (jangan lupa ajak-ajak gw yak..)
Gengsi
‘Penyakit’ yang satu ini memang lekat sekali di badan. Kita ingin mengapresiasi seseorang, tapi kita gengsi untuk mengatakannya. Kita merasa bahwa kita tidak terbiasa dengan hal itu. Sebagai contoh, coba kita lihat acara pencarian bakat di luar negeri.
“Gimana penontonnya ? Cantik-cantik kan ?”
“Eh’ salah fokus, bentar.”
Ketika para peserta menunjukkan hasil kerja / karya mereka kepada penonton, bagus atau pun tidak pertunjukkannya, reaksi penonton selalu bertepuk tangan. Hingga sampai berdiri. Jelas.. mereka sangat mengapresiasi dan ada juga yang mau kencing.
That’s the big appreciation from them!
“Bagaimana dengan di Indonesia ?”
Karena (mungkin) budaya kita tidak terbiasa dengan mengapresiasi seseorang, sehingga kita agak gengsi untuk melakukannya.
Saran gw, gak usah gengsi. Ketika kita mengapresiasi seseorang karena pekerjaan / karyanya, orang tersebut akan terus bertumbuh menjadi “emejing” -lah pokoknya. Percaya deh. Gak rugi juga kok buat diri kita.
“Mengapresiasi karya orang lain, berarti mengapresiasi karya diri sendiri.”
(Ilham Anak Mamah Papah)
-end-
