Aku Bangga Menjadi Anak Indonesia

Peringatan: Tulisan ini hanya sebuah opini yang dibuat atas dasar kegundahan pribadi, tanpa niat menjatuhkan pihak-pihak tertentu.


Saya lahir dan dibesarkan di keluarga yang memiliki keragaman. Ayah saya Jawa, sedangkan ibu saya Tionghoa. Ayah saya beragama Islam, sementara Ibu saya Nasrani. Jadi, bisa dibilang bahwa selama hampir 27 tahun ini, saya belajar cukup banyak tentang perbedaan, dan dengan bangga saya bisa bilang bahwa karena perbedaan itulah saya ada di dunia ini.


Seperti anak-anak Indonesia pada umumnya, sejak SD hingga kuliah, saya hafal di luar kepala tentang Bhinneka Tunggal Ika–semboyan NKRI yang diambil dari kitab Sutasoma, ditulis pada jaman kerajaan Majapahit oleh Mpu Tantular. Kalimat tersebut artinya adalah “berbeda-beda tapi tetap satu”.

Saya percaya bahwa kalimat ini dipilih oleh para Founding Fathers karena mereka benar-benar sadar Indonesia nggak bisa lepas dari keragaman. Saya berasumsi mereka memilih kalimat ini dengan harapan supaya saling menghargai antarsuku dan antaragama adalah nilai yang diturunkan oleh masyarakat ke anak cucu mereka.

Sementara itu, punya ibu orang Tionghoa membuat saya sempat menyaksikan sendiri beberapa perlakuan tidak adil terhadap “kaum minoritas”. Saya masih ingat, sekitar lima belas tahun lalu ketika saya mau bikin paspor di kantor imigrasi, Beliau sempat dibentak-bentak oleh petugas karena Beliau tidak melampirkan Surat Keterangan Ganti Nama (padahal sudah ada Surat Bukti Kewarganegaraan (SBKRI)) pada formulir permohonan paspor.

Supaya kalian punya gambaran, semua warga keturunan Tionghoa yang hidup di antara masa pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru dapat diakui kewarganegaraannya oleh Republik Indonesia jika mereka punya surat ini. Hal ini menyusul pembatalan Perjanjian Dwi Kewarganegaraan antara RRT dan NKRI tahun 1969. Dengan demikian, tidak seperti masyarakat pribumi, warga negara keturunan Tionghoa harus menyertakan SBKRI untuk urusan administratif negara seperti mengurus paspor atau membuat KTP.
Namun, penggunaan SBKRI sudah dihapus oleh Keputusan Presiden tahun 1996. Biarpun demikian, SBKRI sudah terlanjur dianggap sebagai simbol diskriminasi bagi masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia.
Selain itu, masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa yang masa itu diberi nama dengan Bahasa Mandarin juga harus meromanisasi nama mereka apabila mereka ingin menjadi warga negara Indonesia. Hal ini diurus secara hukum dengan membuat Surat Keterangan Ganti Nama.

Setelah kejadian-kejadian yang Beliau alami semasa beranjak dewasa, akhirnya ibu saya menjadi salah satu warga negara keturunan Tionghoa yang punya akar pahit terhadap Indonesia. Saya ingat waktu kuliah pernah bilang sama Beliau kalau saya bangga jadi anak Indonesia dan nggak mau pindah ke luar negeri karena saya cinta sama negeri ini, Beliau hanya bisa menanggapi dengan bilang kalau saya masih terlalu naif. Menurut Beliau, negara ini jahat dan (sebagian besar) pribumi itu jahat.


Belakangan ini isu mayoritas-minoritas makin banyak terdengar, dari tuntutan untuk menurunkan dan memenjarakan Ahok (yang Cina dan Kristen) yang dituduh menyalahgunakan ayat Al Quran, hingga kemarin KKR Natal STEMI di Bandung yang mendapat kunjungan dari ormas yang menolak pelaksanaan kebaktian tersebut, karena menurut mereka ibadah hanya boleh dilakukan di rumah ibadah, bukan di fasilitas umum (gedung Sabuga yang sudah disewa dan diurus perijinannya). Saya sempat menonton video di mana paduan suara yang sedang berlatih di atas panggung disuruh turun dan candle light service diganggu dengan teriakan yang memerintahkan jemaat untuk berhenti bernyanyi. Namun kemudian saya mendengar bahwa kebaktian tetap dilanjutkan secara singkat setelah koordinasi antara pihak STEMI dan ormas.–Saya yakin masih banyak kejadian serupa yang tidak sempat tersorot oleh media.

Sementara itu, aksi unjuk rasa 411 dan 212 dengan peserta jutaan orang yang diadakan sehubungan dengan tuntutan untuk menurunkan, kemudian memenjarakan Ahok yang dilakukan oleh mereka yang merasa diri mayoritas justru menggunakan jalan protokol Ibukota untuk “berdoa” sehingga masyarakat yang berkantor di sepanjang jalan tersebut harus meliburkan diri seakan-akan sudah selayaknya dan sepantasnya–jika layak dan pantas, maka segelintir masyarakat Bandung beragama Nasrani yang mau kebaktian di Sabuga seharusnya dibiarkan beribadah dengan tenang, karena mereka nggak mengganggu kegiatan masyarakat setempat.

Hal-hal seperti ini membuat saya berpikir, barangkali (cukup banyak) masyarakat Indonesia yang mengabaikan nilai tertinggi dari negara ini; Pancasila, terutama Ketuhanan Yang Maha Esa, serta Bhinneka Tunggal Ika–bahwa pada dasarnya setiap manusia dengan suku atau kepercayaan apapun diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, nggak ada yang tiba-tiba muncul dari bak sampah, tapi kenyataannya hampir setiap orang pernah mendengar stereotipe tentang suku atau agama yang berbeda dari mereka, dan hal tersebut mereka dengar di rumah, dari anggota keluarga yang lebih senior, seperti yang saya alami di rumah dengan ibu saya.–Ini terjadi karena baik kaum mayoritas maupun minoritas sama-sama nggak punya pengetahuan yang cukup tentang satu sama lain sehingga mereka cuma bisa saling berasumsi hingga akhirnya saling menghakimi.

Mungkin mereka nggak bermaksud menanamkan benih kebencian, tapi karena memang mereka pernah mendapatkan pengalaman buruk dengan seseorang dari kelompok etnis atau agama tertentu. Mungkin juga kita sendiri pernah mengalami hal-hal yang nggak menyenangkan tersebut.

Tapi sebagai manusia yang dilengkapi dengan akal budi, seharusnya kita bisa memutus rantai a priori terhadap kelompok masyarakat yang berbeda dengan kita di masa yang serbacanggih ini. Kita harus belajar menggunakan akal sehat dengan bijaksana untuk menyikapi kejadian tidak menyenangkan yang diakibatkan oleh orang-orang yang berbeda dengan kita, sehingga kita nggak perlu reaktif kemudian menebar kebencian yang kemudian akan menambah masalah. Justru menurut saya, waktu-waktu yang terbuang untuk men-share link berita yang berpotensi memicu kesalahpahaman dan berbalas komentar bernada menghina bisa digunakan untuk belajar tentang perbedaan tersebut dan menghargainya.

Kenyataannya, kita hidup bermasyarakat yang terdiri dari orang yang beragam, nggak usah pandang kepercayaan atau warna kulit atau bentuk matanya, di luar itu semua kita memang nggak ada yang identik, kan? Sampai Isa Al-Masih datang ke dunia sampai sepuluh kali pun, manusia nggak akan pernah seragam, karena memang sudah ditetapkan demikian oleh Yang Mahakuasa.

Lagipula nggak perlu jauh-jauh menista nama Tuhan atau mempermalukan negara, bukannya kalau kita menyikapi kejadian ini dengan kebencian dan membiarkan hal-hal semacam ini terjadi terus menerus, kita sudah mempermalukan diri kita sendiri sebagai manusia yang dilengkapi akal budi?


Meskipun demikian, saya menyatakan bahwa saya nggak membenci kalangan yang berbeda dari saya, karena bagaimana mungkin? Seperti yang sudah saya tulis di awal tulisan ini, bahwa saya adalah “produk” perbedaan; sebagian diri saya adalah pribumi Muslim dan sebagian lainnya adalah Tionghoa Kristen (meski saya adalah Nasrani); nenek moyang saya dari sisi Ayah hidup di masa pemerintahan Mataram Hindu sementara dari sisi Ibu berasal dari Tiongkok dan beragama Buddha yang kemudian bermigrasi ke Ternate. Oleh karena itu, dengan bangga saya bisa bilang bahwa saya adalah orang yang bangga menjadi orang Indonesia. (Redundance intended).

Saya mau menutup tulisan ini dengan satu ayat dari Alkitab untuk direnungkan bersama, silakan berinterpretasi sebebasnya:

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

— Amsal 1:7 (TB)