Bekerja Menjadi Mahasiswa yang Baik!

Terminologi “bekerja” digunakan dalam judul tulisan ini semata-mata untuk merefleksikan pengalaman yang saya rasakan ketika berstatus sebagai mahasiswa setengah tahun ke belakang, dimana proses belajar di kampus menjadi salah satu momen yang sangat menyenangkan. Menyenangkan karena sebisa mungkin “nyawa” saya sepenuhnya dilibatkan dalam proses pembelajaran baik di kelas maupun luar kelas. Sebagaimana esensi bekerja sebagai sustained physical or mental effort to overcome obstacles and achieve an objective or resut[1], secara persisten saya menjalankan “pekerjaan” sebagai mahasiswa kala itu. Lalu apakah saya sudah menjadi mahasiswa yang bekerja dengan baik? Belum tentu.

Bahkan, belakangan saya baru memahami pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam proses belajar. Sebagai salah satu turning point dalam mengembangkan karir, saya mengamini bahwa proses pembelajaran “setengah nyawa” yang dialami oleh sebagian besar mahasiswa menjadi hal yang mubazir. Karp dan Yoels (1976)[2] dalam studinya mengemukakan bahwa dalam lingkup perguruan tinggi dosen berceramah hampir 80% selama jam belajar, hanya sekitar 10 dari 40 mahasiswa yang terlibat dalam aktivitas diskusi, dan biasanya, hanya 5 mahasiswa yang menonjol dalam diskusi tersebut. Sebagian kecil mahasiswa mengambil perannya untuk aktif berpartisipasi dalam diskusi di ruang kelas, sementara sebagian besar diantaranya terlibat sebagai “civil attention” yang cukup memperhatikan dan mengangguk ketika paham, tertawa jika perlu atau sebagian tampak penuh perhatian tanpa mengambil risiko untuk terlibat dalam diskusi.

Mengapa partisipasi belajar mahasiswa cenderung rendah?

Sebelum mengeksplorasi bersama mengapa partisipasi belajar mahasiswa cenderung rendah, mari kita mencari tahu makna dari partisipasi belajar itu sendiri, sebagaimana saya sebut sebagai melibatkan “nyawa” sepenuhnya ketika belajar.

“Mahasiswa mungkin enggan untuk berpartisipasi secara terbuka dalam proses belajar, misalnya karena takut akan ‘aturan tidak tertulis’, namun sebagian diantaraya berharap bisa mengkomunikasikan ketertarikan mereka pada subjek pembelajaran. Oleh karena itu, terdapat bentuk partisipasi lain disamping bentuk partisipasi konvensional ini yang jangan jangan memang membuat mereka menjadi “civil attention”.

Kutipan tersebut merupakan paraphrase kalimat yang dituliskan Weaver dan Jiang Qi (1999)[3] dalam studinya yang berjudul “Classroom Organization and Participation: College Students’ Perceptions”, yang secara implisit menggambarkan bahwa partisipasi mahasiswa tidak melulu digambarkan sebagai keterlibatan mereka dalam diskusi di ruangan kelas.

Kembali pada tujuan kita untuk mengeksplorasi mengapa partisipasi belajar mahasiswa cenderung rendah? Weaver dan Jiang Qi memaparkan hipotesanya terkait hal-hal yang dipersepsikan mahasiswa yang mampu mempengaruhi partisipasi mereka dalam aktivitas belajar di kampus. Dari sekitar 1550 respon mahasiswa yang ditelitinya, Weaver dan Jiang Qi merumuskan sejumlah aspek yang mempengaruhi keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran, yakni: ukuran kelas, otoritas dosen, interaksi antara mahasiswa dan dosen, usia, gender, persiapan belajar, rasa takut akan kritikan dan kepercayaan diri. Aspek-aspek tersebut kemudian dikembangkan Weaver dan Jiang Qi menjadi sejumlah pernyataan dalam instrumen penelitian.

Melalui sejumlah pernyataan dalam instrumen yang dikembangkan Weaver dan Jiang Qi tersebut, penulis melakukan analisa[4] dan menemukan tiga aspek yang paling kentara terkait keterlibatan mahasiswa dalam proses belajar.

Relasi antara dosen dan mahasiswa

Hierarki kelas yang membedakan kekuatan antara dosen dan mahasiswa secara implisit mungkin menghambat partisipasi mahasiswa dalam aktivitas belajar, 54% responden mahasiswa yang menjadi subjek analisa instrumen yang dilakukan penulis menjawab “setuju” dengan pernyataan “saya melihat dosen sebagai orang yang berwenang-mengambil keputusan-di kelas, peran saya sebagai mahasiswa adalah menyerap apa yang beliau sampaikan.” Persepsi mahasiswa terkait otoritas pengajar ini mungkin bisa mengurangi rasa percaya diri mereka dan secara tidak langsung mendorong pasifnya mereka dalam aktivitas pembelajaran.

Ketika hierarki kelas ini mengurangi partisipasi dalam aktivitas belajar, dosen bisa menginisiasi suatu interaksi dengan mahasiswa dalam berbagai cara. Sebagai contoh, sebagian mahasiswa memilih untuk berbincang santai dengan dosen di luar kelas. Minimnya ruang dialog di luar kelas ini juga diungkapkan oleh 55% responden mahasiswa yang menjadi subjek analisa penulis terhadap instrumen, di mana mereka memberikan respon “kadang-kadang” pada pernyataan “saya bertemu/ngobrol-ngobrol dengan dosen di luar aktivitas perkuliahan.” Bahkan, jika memungkinkan dosen bisa melibatkan mahasiswanya dalam projek penelitian, seperti konferensi. Jika tidak, cara yang kreatif namun sederhana juga bisa dilakukan oleh dosen untuk meningkatkan interaksi diantara mereka. Misalnya, dengan bersama-sama mendokumentasikan hasil pembelajaran mahasiswa melaui blog atau kanal Youtube[5]. Dosen yang mengekspresikan ketertarikannya pada pengembangan cara intelektual mahasiswa melalui proses pembelajaran mungkin akan memicu kepercayaan diri mahasiswa sehinga dapat meningkatkan partisipasi mereka dalam belajar.

Relasi dengan sesama rekan mahasiswa

Seringkali mahasiswa jarang berkomunikasi dengan dosen terkait terbatasnya waktu dan sumber daya yang dimiliki masing-masing. Mahasiswa biasanya mengandalkan komunikasi dengan sesama rekan mahasiswa lainnya untuk mengontrol sejumlah aspek pembelajaran yang harus mereka tempuh di kampus. Struktur informal seperti ini berhubungan dengan classroom-related behaviors. Di mana, mahasiswa yang terlihat terisolir mungkin tidak luput dari pengaruh mahasiswa lain, perilaku mereka berorientasi pada “jumlah” penerimaan dari mahasiswa lain. Secara implisit, hal ini menggambarkan kekhawatiran mereka akan penolakan dari sesama rekan mahasiswa, dalam hal ini terkait proses belajar di kampus, 49% responden mahasiswa yang menjadi subjek analisa instrumen penulis menjawab “setuju” dengan pernyataan “keinginan saya untuk terlibat/berpartisipasi di kelas terhambat oleh rasa malu yang mungkin membuat saya kikuk, atau penolakan oleh teman-teman di kelas.”

Sejumlah dosen mungkin merasa heran mengapa seringkali proses pembelajaran di kelas berlangsung dengan hening. Mayoritas mahasiswa yang diam mungkin berpikir bahwa mereka akan membenci mahasiswa yang dianggap “memonopoli kelas”, mereka khawatir dengan “bagaimana penilaian teman-teman kelas terhadap mereka” dan ketakutan mereka untuk terlihat “lebih bodoh dari mahasiswa lain” seringkali menjadi alasan utama untuk tidak berpartisipasi dalam kegiatan belajar di kelas. Relasi mereka dengan sesama rekan mahasiswanya ini meregulasi norma yang tercipta dalam ruang belajar secara informal. Oleh karenanya, sebagian mahasiwa yang “tidak ingin terlihat terlalu antusias” terhadap subjek pembelajaran biasanya melakukan komunikasi dengan dosen di luar jam belajar.

Gender

Aspek ketiga yang cukup kentara dengan hasil analisa penulis terhadap item-item pernyataan yang menggambarkan keterlibatan mahasiswa dalam proses belajar adalah gender. Meskipun, hal ini tidak menjadi patokan pasti mengingat hanya satu pernyataan yang secara signifikan memiliki pola respon yang berbeda antara responden mahasiswa perempuan dan laki-laki[6]. Di mana mahasiswa perempuan lebih sulit menyetujui pernyataan “saya bertemu/ngobrol-ngobrol dengan dosen di luar aktivitas perkuliahan” daripada mahasiswa laki laki. Hal ini, mungkin bisa dipahami dari perbedaan pola komunikasi antara laki-laki dan perempuan sebagaimana yang dikemukakan oleh Hall dan Sandler (1982)[7] bahwa: “..the classroom offers a “chilly” climate for women, the dominant view has been that our educational system is hierarchical, competitive, and individualistic, and that it encourages public displays in intellectual exchange and argument, as such, it favors “masculine” forms of communication

Poin penting yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah, menjadi mahasiswa yang bekerja dengan baik dapat ditunjukkan dengan partisipasi aktif dalam rangkain proses pembelajaran terkait bidang yang diampu, keterlibatan mahasiswa dalam rangkaian belajar ini bisa memfasilitasi mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis[8] yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Selain itu, hal-hal yang mungkin menghambat partisipasi mahasiswa dalam proses belajar di kampus bisa dipertimbangkan oleh dosen sebagaimana yang telah dipaparkan penulis.

[1] Kamus Merriam-Webster. (2017). Dapat diakses di: www.merriam-webster.com

[2]Karp, D. A., & Yoels, W. C. (1976). The college classroom: Some observations on the meaning of student participation. Sociology and Social Research, 60, 421–439.

[3] Weaver, R., & Qi, Jiang. (2005). Classroom Organization and Participation: College Students’ Perceptions. The Journal of Higher Education, Volume 76, Number 5.

[4] Setelah instrumen diterjemahkan dan diujikan kepada 100 mahasiswa, penulis melakukan analisis item menggunakan pemodelan Rasch. Dari 16 item yang diuji, terdapat 6 buah item/pernyataan yang menunjukkan bahwa item benar-benar fit dengan pemodelan. Item-item tersebut dieksplorasi secara teoritis melalui pemaparan poin-poin aspek terkait keterlibatan mahasiswa dalam proses belajar tersebut.

[5] Salah satu elemen desain pembelajaran pada MP Psikologi Belajar di jurusan Psikologi UPI-Bandung, bersama dosen, mahasiswa mendokumentasikan sebagian hasil belajarnya dalam blog (www.psikologibelajarupi.wordpress.com) dan kanal Youtube (Refleksi Psikologi Belajar)

[6] Dengan menggunakan analisa DIF (Differential Item Functioning), pola respon item pada responden perempuan dan laki-laki berbeda (item fit, dengan probabilitas DIF <5%).

[7] Hall, R., & Sandler, B. (1982). The classroom climate: A chilly one for women?Washington, DC: Project on the Status and Education of Women, Association of American Colleges.

[8] Garside, C. (1996). Look who’s talking: A comparison of lecture and group discussion teaching strategies in developing critical thinking skills. Communication Education, 45, 212–227.

    Chandra C. A. Putri

    Written by

    Learning is heal

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade