MEMULAI

Ini sudah 16 bulan sejak pelatihan FIM yang menginspirasi saya untuk rutin menulis, mengasah otak dan jari untuk berbagi opini. Dan baru di bulan ke-16 ini rasanya saya harus benar-benar melakukan itu. (Yakin? — Ya kalo ga dipaksa ga akan beneran dilakuin :D)

Untuk pertama, saya akan menulis tentang memulai.

Pasti banyak di antara kita yang saat ini akan memulai sesuatu, atau sudah memulai dan sedang menjalani permulaan baru di hidupnya.

Saya akan cerita tentang beberapa hal yang bisa saya beri tag memulai dalam perjalanan saya.

Terbakar

Ga pernah kebayang oleh saya kalau saya akan mengalami peristiwa yang sebenarnya bisa dihindari tapi sering terjadi di banyak lokasi. Kebakaran. Di satu malam yang sepi di bulan April, percikan api yang katanya ada karena kesalahan arus listrik di sebuah rumah membesar menjadi api besar yang melahap apa saja yang ada di sekelilingnya, termasuk bahan-bahan yang menjadi bangunan rumah saya.

Rumah saya yang memang sebagian besar bahannya terbuat dari kayu, habis dalam waktu kurang dari 3 jam. Termasuk semua hal yang ada di dalamnya. Semua. Dua hal yang bisa saya selamatkan adalah handphone yang memang sedang saya pegang dan dompet yang masih tergeletak di kasur. Untungnya mama masih ingat untuk menyelamatkan satu tas berisi semua berkas penting keluarga tepat sebelum pintu rumah terbakar. Tidak semua sebenarnya, karena raport saya sejak SD ternyata tidak masuk ke dalam tas itu. Jadi kalau ada pekerjaan yang mengharuskan saya melampirkan raport selama sekolah, maaf, saya tidak punya.

Waktu kejadian ini terjadi hanya ada saya, mama, dan adik saya di rumah. Seluruhnya perempuan. Ayah saya memang bekerja malam hari. Dan ketika api sudah melahap rumah di sebelah rumah saya, ga ada di antara kami yang sadar kalau rumah kami akan menjadi sasaran selanjutnya. Hanya ketika banyak sekali orang berteriak dan mama berusaha mengecek keluar, barulah ia sadar kalau ini gawat. Mama teriak meminta saya dan adik saya keluar. Bodohnya, saya pikir mama hanya ingin berbagi penglihatannya tentang kebakaran yang terjadi. Rupanya, memang saya dan adik saya harus keluar kalau gamau terbakar.

Gimana sih lihat api besar dalam kesemrawutan orang?

Saya gatau harus gimana. Adik saya pingsan, mama menangis histeris, ayah belum tau kejadiannya, saya harus apa? Akhirnya saya menyusul ke tempat ayah bekerja dengan berat membawa berita yang sangat membuat lemas. Baru setelah ada keluarga datang dan kondisi mama, ayah, dan adik saya sedikit tenang, saya yang menangis tersedu-sedu di pelukan adik bungsu mama.

Saya ga punya apa-apa.

Besok, lusa, dan beberapa hari setelahnya, banyak teman, saudara, bahkan dosen yang menengok. Saya diberi tempat tinggal sementara di sebelah kantor RW dan mendapat santunan secukupnya dari beberapa pihak. Benar-benar berada di bawah kondisi saya waktu itu.

Tapi saat berada di bawah itu kita pasti tau siapa sebenarnya yang benar-benar menjadi teman kita. Surprisingly, semua ternyata masih teman saya :)

Saat kebakaran itu terjadi, saya dan beberapa teman saya sedang mempersiapkan diri mengikuti lomba Ilmu Tanah tingkat Nasional. Lomba ini sangat bergengsi bagi anak-anak Ilmu Tanah sehingga persiapannya harus maksimal. Tahun itu lomba akan dilaksanakan di Sumatera Barat. Selain harus bersiap menghadapi pesaing, kami pun harus menyiapkan dana untuk menerbangkan tim ke lokasi lomba. Buku yang saya gunakan untuk belajar ikut terbakar. Baju, sepatu, dan semua hal lainnya entah ada di bagian abu yang mana. Tapi, life must go on.

Singkat cerita, tim saya, Ilmu Tanah Universitas Padjadjaran menjadi juara umum dalam lomba tersebut. Ini satu dari beribu-ribu dan berjuta-juta hal yang Allah kembalikan kepada saya selepas kehilangan besar itu.

Jika kau kehilangan sesuatu, Allah akan kembalikan berkali-kali lipat.

Benar.

Ada bagian yang membuat saya terharu selepas kejadian itu. Pertama, teman sekelas saya bilang pada saya bahwa ia merelakan tasnya yang hilang di bandara karena menurutnya kehilangannya itu ga seberapa dibanding seseorang yang pernah mengalami kehilangan besar, saya. Dan kedua, saat saya dinyatakan lulus dari Agroteknologi Unpad, dosen wali sekaligus pembimbing dan sekretaris jurusan Ilmu Tanah Unpad menangis saat memberikan speech untuk kelulusan saya. Beliau bilang ia ga nyangka apa yang menimpa saya benar-benar ga ‘merenggut saya’. Malah saya bisa memberikan kebanggaan untuk diri saya sendiri, untuk orang tua, dan untuk Universitas :)


Bekerja

Selepas lulus kuliah, hal pertama yang terpikirkan adalah gimana caranya dapet uang. Gimana caranya? Kerja.

Jujur saat lulus kuliah, saya ga punya cita-cita spesifik. Pokoknya saya mau kerja di bidang saya. Idealis. Dan akhirnya dengan sedikit usaha cari sana-sini, saya bisa bekerja di perusahaan swasta (baru) yang bergerak di bidang saya. Sedikit tujuan saya di tempat bekerja pun mulai terbentuk.

Saya benar-benar ga punya gambaran tentang bekerja sebelumnya. Dulu pernah magang, tapi di kebun, beda dari pekerjaan ini. Mmm ga beda sih, porsinya yang ga sama. Saya mulai dikenalkan dengan hal-hal baru, istilah-istilah baru, teman-teman baru, dan kebiasaan-kebiasaan baru. Sebagai pemula, wajar kalau semua masih terasa asing, walaupun dibimbing.

Kerja itu marathon, bukan sprint.

Walaupun dalam setiap minggu pekerjaan, isinya semua sprint.

Start-up teknologi itu memungkinkan penggiatnya bekerja dimana saja.

Walaupun tetap saja wajib ada di kantor.

Hal-hal seperti itu yang ada di dunia kerja yang terus disesuaikan. Apalagi untuk mereka yang bekerja di start-up yang sedang hits saat ini.

Saya bekerja di start-up teknologi di bidang pertanian. Visi perusahaan ini adalah memotong rantai pasok produk pertanian. Rantai pasok yang panjang pada produk pertanian ini menjadi masalah besar yang memengaruhi kesejahteraan petani dan harga beli di konsumen. Dengan cara ini-itu, kami mencoba mengurai masalah dan memberi solusi agar masalah ini dapat teratasi.

Banyak hal yang bisa diambil dari bekerja di start-up. Pertama, saya bisa mencoba berbagai posisi dan mengerjakan berbagai tugas di luar tugas utama saya. Efeknya, saya jadi punya banyak referensi rasa dalam menjalankan posisi itu. Walaupun kebanyakan karena memang sudah ga ada orang yang bisa pegang. Product Owner (PO) yang jadi posisi saya bisa diplesetkan jadi Pembantu Oemum =)

Kedua, jam kerja fleksibel. Kita bisa mengatur jam kita untuk bekerja. Mau pagi sekali, datang siang, atau begadang di malam hari. Walaupun untuk posisi CS tetap harus standby dari pkl 09.00–17.00 wib (dan saya pernah memegang posisi itu). Fleksibel ya, bukan semaunya. Karena kita tetap punya kredit jam kerja yang harus diselesaikan.

Ketiga, isinya anak muda semua. Lebih fresh, enerjik, dan lebih enak untuk bertukar pandangan. Sorry, bukan pandangan, tapi ide. Pandangan seseorang ga bisa ditukar. Bisa sih, tapi agak sulit untuk diubah. Karena pandangan ini juga kadang membuat proses bekerja tidak terlalu enak. Sederhananya, kita ga bisa kerja dengan orang yang pandangannya beda dengan kita, karena akan beda juga tujuan yang dilihat dan proses yang dijalankan. Ga cuma pasangan hidup yang harus jodoh, rekan kerja pun begitu.

Keempat, dianggap sejajar dengan perusahaan lainnya, mau besar atau kecil. Dianggap sejajar juga dengan pemerintah. Ga aneh kalau tiba-tiba diundang rapat dengan dirjen, diundang ke kegiatan yang dihadiri menteri, ikut program pemerintah, dan didengar sekali pendapatnya.

Kelima, dst, silakan rasakan sendiri jika kamu ingin atau sedang bekerja di start-up :)

Dalam proses bekerja selama ini, saya jadi senang jika saya dibayar untuk memberi manfaat buat banyak orang. Ini jadi salah satu standar saya sekarang untuk saya mencari pekerjaan.

Mencari pekerjaan?

Katanya, selagi muda, selagi bisa, cobalah banyak pekerjaan untuk memperkaya pengalaman. Untukmu yang nyaman dengan pekerjaannya, stay atau berpindah pasti tergantung dari kebutuhanmu. Dan untukmu yang memaksakan diri, saya pernah diberi tahu seseorang bahwa dunia kerja bukan your-family, kamu berhak memilih untuk pergi.


Relationship

Salah satu tujuan hidup yang sangat ditunggu-tunggu dan sangat menggembirakan, apalagi kalau bukan menikah. Kalau ditanya “mau nikah umur berapa?” saya selalu menjawab “inginnya sih umur 24”. Tau kejutan dari Allah? Dia kenalkan saya dengan seseorang yang membuat saya yakin bisa membimbing saya menjadi lebih baik sebelum saya genap menginjak umur 23. So cheesy? Tapi ini real terasa.

Saya yang merasa masih ga kebayang untuk punya pasangan, membayangkan “ada ga ya yang ngajak saya nikah?”, dan “gimana ya rasanya kalo ada yang ngajak saya nikah?” tiba-tiba dibuat super bahagia dengan hadirnya seseorang itu ke rumah saya, bertemu ayah mama, dan bilang kalau ia serius meminta saya.

Akan ada orang yang bersedia berbagi hari-hari dengan saya, mencoba berbagai hal baru, berencana, berdiskusi, dan saya mintai ridhonya untuk saya melakukan sesuatu.

Saya gatau harus mengucapkan syukur apa lagi selain Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah ribuan kali.

Mungkin harusnya ini jadi part terpanjang dari cerita ini. Tapi saya masih speechless. Saya ga bisa menulis lebih panjang. Saya cuma bisa mengucap syukur lebih banyak :)


Ini sedikit seni dalam kehidupan saya. Sebagian berisi teori, sebagian berisi opini. Mungkin orang melihat hidup saya lurus. Hanya mengikuti track. Lurus, bukan berarti mulus. Dan ini beberapa hal yang bisa saya bagi kali ini :)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.