Mengulik Kisah Sungai Cheonggyecheon
Ariesta Chavia Zagita
15417109
Sungai Cheonggyecheon merupakan salah satu obyek wisata yang memiliki daya tarik sendiri bagi para turis yang berkunjung ke Korea Selatan. Sungai ini terletak di Kota Seoul, Korea Selatan. Memiliki panjang 10,9 kilometer yang mengalir di sepanjang kota. Cheonggyecheon merupakan sungai yang pada mulanya ada saat Dinasti Joseon (1392 M — 1910 M) dan setelah Perang Korea (1950 M — 1953 M) tertutupi dengan jalan layang. Kemudian pada tahun 2003, sungai ini mulai direstorasi kembali dengan menghilangkan jalan layang hingga jadi seperti yang kita lihat sekarang. Aliran sungai bermula dari Plaza Cheonggye, tempat seni budaya populer, dan melewati 22 jembatan sebelum mengalir ke Sungai Hangan. Sungai ini merupakan sungai buatan yang dibangun sebagai bagian dari pembaharuan kota.
Cheonggyecheon pada Masa Kekaisaran
Seoul tumbuh di sekitar Cheonggyecheon, yang membagi wilayah utara dan selatan. Sungai ini erkadang kering pada musim semi dan gugur, dimana terdapat sedikit hujan, dan meluap ketika hujan musim panas.
Antara tahun 1406 M dan 1412 M, Raja Taejong, yang diteruskan oleh penerusnya Raja Sejong, menggali dan melebarkan sungai untuk menghindari banjir di kota. Sungai ini kemudian dinamakan Gaecheon yang berarti “menggali”. Sungai ini digunakan sebagai saluran pembuangan selama 500 tahun Dinasti Joseon. Anak sungai menyediakan air bersih untuk kota, dan Cheonggyecheon yang membersihkan llimbahnya.
Pada 1657 M, populasi Seoul mencapai lebih dari 190.000 orang, dan Cheonggyecheon tidak lagi dapat menampung limbah kota. Pada tahun 1760 hingga 1773, Raja Yeongjo memobilisasi 50.000 pekerja untuk mengeruk sungai dan membangun tanggal sebagai upaya menghadapi peningkatan populasi.
Cheonggyecheon pada Masa Kependudukan Jepang
Tahun 1925, anak sungai Cheonggyecheon ditutup sebagai upaya untuk membuat sistem aliran limbah bawah tanah untuk Seoul. Pada 1926, Jepang mengumumkan rencana untuk menutup sungai dengan menciptakan lahan untuk pengembangan. Pada 1935, dibangun jalan raya dan jalan layang di atasnya. Pada 1937, Jepang hanya dapat menutupi sebagian kecil sungai karena keterbatasan sumber daya.
Setelah berakhirnya Perang Dunia II, Korea Selatan mengembangkan rencana untuk mengeruk Chonggyecheopn yang telah menjadi sangat terpuruk karena tidak terpelihara oleh Jepang. Namun rencana ini terhambat karena adaanya Perang Korea. Pengungsi dari Perang Korea berbondong-bondong ke Seoul dan menetap di Cheonggyecheon.
Pembangunan Jalan Layang di Atas Sungai Cheonggyecheon
Pada pertengahan 1950-an, Cheonggyecheon dianggap sebagai symbol kemiskinan. Saluran limbah terbuka di pusat kota merupakan hambatan utama bagi pemulihan Kota Seoul. Pada keadaan ekonomi yang ekstrim, satu-satunya solusi adalah dengan menciptakan saluran limbah bawah tanah.
Proyek saluran limbah bawah tanah terdiri dari 4 tahap dan berlangsung pada tahun 1955 hingga 1977. Sebuah jalan layang dibangun di atas sebagian besar aliran bawah tanah. Jalan bebas hambatan ini memiliki 4 jalur dengan panjang 6 meter dan melintas di atas jalan raya konvensional.
Rumah-rumah kumuh dipindahkan ke pinggir sungai secara paksa. Di sekitar jalan, dibangun toko modern dan pusat industri. Proyek ini menjadi symbol medernisasi dan industrialisasi Korea Selatan pasca perang.
Restorasi Sungai
Setelah kurang lebih 40 tahun, area Cheonggyecheon menjadi kawasan industri yang lusuh, bersama dengan pasar loak dan dagangan barang bekas. Area tersebut benar-benar memerlukan pembenahan, namun semua orang menyadari bahwa tidak aka nada perubahan yang signifikan selama jalan layang masih ada.
Sumber:
http://www.preservenet.com/freeways/FreewaysCheonggye.html
http://english.visitseoul.net/attractions/Cheonggyecheon-Stream_/35