Ridwan Kamil, Perencana Kota Inspirasi Millenials
Ariesta Chavia Zagita
15417109
Nama Ridwan Kamil terus-terusan muncul di berbagai media cetak, media sosial, dan layar kaca dengan prestasi yang berbeda-beda. Pria yang menjabat sebagai Walikota Bandung periode 2013–2018 ini pada mulanya adalah siswa nakal biasa yang berprestasi di kelasnya. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung dan mendapat gelar sarjana teknik. Lulus sarjana, pada umurnya yang ke 25 tahun, Ridwan Kamil menikah dengan Ata Praratya. Ia memulai karirnya dengan bekerja di sebuah firma arsitektur terkenal di Amerika Serikat dan membawa serta istrinya. Namun, awal karirnya tersebut hanya bertahan sekitar empat bulan karena masa visanya sudah habis.
Sepulangnya ke Indonesia, Ia mendirikan sebuah firma arsitek di Bandung dengan nama Urbane. Sudah banyak prestasi yang dicapai oleh Urbane dalam kurun waktu 15 tahun sejak 2003 hingga 2018. Sebagai walikota Bandung, beliau aktif di Bandung Creative City Forum, mengadakan banyak festival, dan menyalurkan kreativitasnya dalam komunitas. Pertemuannya dengan masyarakat sipil yang beranggapan bahwa ‘Kreativitas hanyalah milik kalangan tertentu’ membuatnya terinspirasi untuk membenahi katanya, tempat tinggalnya, lingkungannya, agar nyaman untuk ditinggali. Ia ingin membuktikan bahwa semua orang dapat menikmati hakikat kreativitas, yang dimulai dari lingkungan terdekat.
Ide — ide Ridwan Kamil berfokus pada solusi atas masalah — masalah publik seperti kemacetan, kekurangan lahan hijau, kekumuhan, krisis energi, dan sebagainya. Hal tersebut yang membuatnya menggagas gerakan Indonesia Berkebun dengan cara memanfaatkan lahan terbengkalai untuk dihijaukan. Selain itu, Ia juga menggagas bike.bdg untuk mengatasi masalah kemacetan dan polusi di Kota Bandung, dengan target orang-orang yang melakukan mobilisasi jarak dekat namun tetap menggunakan kendaraan bermotor. Supaya anak — anak dapat bersosialisasi dengan hangat dan bebas, Ia mendirikan sebuah taman hijau yang tersebar di berbagai sudut di Kota Bandung. Desa yang kesulitan listrik dapat terjangkau dengan baik melalui EnerBike sehingga dapat terenuhi dengan baik. Di umurnya yang ke-32 tahun, Ia mengalokasikan waktunya untuk turut serta dalam kegiatan sosial.
Kisah sukses Ridwan Kamil tidak serta — merta hanya berupa garis lurus saja, namun bagaikan grafik yang menurun atau menanjak tajam. Saat masa sekolah, ia sering diolok-olok oleh teman-temannya yang meragukan bahwa ia bisa mendapat ranking 1. Hal tersebut juga terjadi ketika awal karirnya bekerja di Amerika. Beliau sering diremehkan oleh rekan kerjanya karena ia berasal dari Indonesia. Namun, hal itu justru menjadi penyemangatnya untuk lebih berprestasi lagi.
Di selang kegiatannya yang terlihat ‘super sibuk’, sebenarnya pria yang akrab disapa Kang Emil ini memiliki banyak sekali waktu luang. Beliau masih sempat jalan-jalan dengan keluarga, menyaksikan pertandingan sepak bola, menikmati hidup, dan tidak tertekan dengan pekerjaannya. Ia sangat menyukainya. Dalam bukunya Mengubah Dunia Bareng — Bareng, Ridwan Kamil menyatakan bahwa manajemen waktu sangat penting bagi siapa pun yang bercita — cita menjadi entrepreneur. Waktu yang mengalir begitu saja berarti sama saja dengan uang yang terbang sia — sia. Entrepreneur sejatinya adalah time organizer. Agar waktu yang kita miliki menjadi bernilai guna, dibutuhkan sedikit kreativitas dalam mengelolanya.
Kang Emil juga menambahkan dalam bukunya bahwa selain manajemen waktu, agar segala output tidak serta all by me, maka kuncinya adalah delegasi. Ia bekerja sama dengan orang lain, berkarya dan berkolaborasi, serta menghidupkan ide lewat lewat komunitas. Kita dapat berjalan cepat sendirian, namun lebih jauh jika bersama-sama. Dengan kolega, komunitas, teman, dan keluarga maka ide yang terealisasikan akan tetap bertahan walau dilanda jatuh — bangun.
Daftar Pustaka:
Kamil, Ridwan. Mengubah Dunia Bareng-Bareng. 2015. Bandung: Penerbit Kaifa.