Stasiun MRT Dukuh Atas

Meregang Nyawa

Chika Bagaskara
Nov 5 · 1 min read

Di jalan pulang, tengah malam, di dalam MRT yang sedang menjadi kecintaan semua masyarakat urban,

aku meregang nyawa.

Terduduk sendu, memaksa agar jiwaku tidak menghilang di antara puluhan pertanyaan tanpa juntrungan pasti,

tanpa perlu berdoa banyak, kewarasan, adalah satu hal yang selalu kuamini.

Sebentar, sebentar lagi…

Sebentar, sebentar lagi MRT kan tiba ke stasiun tujuanku. Nanti aku akan turun, dan menunggu gojek menjemput. Aku akan duduk di atas gojek sembari melamun, sudah pasti aku melamun. Menahan darah yang rasanya sudah mencapai ubun-ubun.

Sebentar, sebentar lagi…

Sebentar, sebentar lagi aku akan turun dari gojek, dan menjejali diriku dengan tulisan-tulisan melankolis. Sekadar kubaca, untuk mengingatkan siapa diriku sesungguhnya, dan apa yang kuiinginkan sebenar-benarnya.

Pencapaian itu tidak murah, dan jika nyawaku masih ada, tidak apa aku meregangnya, guna mengisinya kembali, sepenuhnya.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade