Aku ingin menjadi puisi yang kaurayakan.

Aku ingin jadi kata-kata yang menerjemahkan kesedihanmu yang piatu

Aku ingin jadi buku dalam tas punggungmu

Aku ingin jadi langkah-langkah yang membawamu menuju suatu tempat yang rumah

Aku ingin jadi nyala lampu kamarmu ketika kau bermimpi buruk dan ingin mencari sesuatu atau ingin minum air putih

Aku ingin jadi gelap yang membuatmu tenang dan melupakan segala hal-hal rumit di hari terberatmu

Aku ingin jadi langit yang kautatap bersama kekasihmu

Aku ingin jadi awan yang kauharapkan turun sebagai hujan ketika kau bersedih

Aku ingin jadi airmata yang tak ingin kauingkari

Aku ingin jadi perahu yang mengantarmu pulang bertemu ibu

Aku ingin jadi ibu yang kau peluk erat-erat saat kau sampai di teras depan rumahmu

Aku ingin jadi isak tangis kerinduan yang kau tumpahkan berkalikali di pundak ibu atau kekasih yang kaurindukan

Aku ingin jadi bibir kekasihmu yang tersenyum

Aku ingin jadi bibir kekasihmu yang tertawa ketika kau lelah dan kau sedang menghibur dirimu sendiri

Aku ingin jadi pelukan yang erat dari sesiapapun yang kau inginkan

Aku ingin menjadi layar monitor komputermu yang tiba-tiba menyelesaikan pekerjaanmu dengan ajaib

Aku ingin menjadi peringatan dari tubuhmu agar kau lekas tidur dan istirahat

Aku ingin jadi malam yang larut dan membawamu ke dalam lelap yang menenangkan

Aku ingin jadi keriuhan yang tak pernah kau lupakan

Aku ingin jadi kesepian yang membuatmu haru

Aku ingin jadi musik atau dongeng atau doa pengantar tidurmu

Aku ingin jadi sesuatu

Sesuatu yang mengasihi mu

Di manapun

Kapanpun

Depok, 21 Maret 2016

Like what you read? Give Siska Permata Sastra a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.