Langit di Kedua Mataku

tak ada yang lebih luas daripada langit. ia seperti kumparan waktu yang hilang. lengang dan mahaluas bagi seluruh kedukaanmu yang pandai memendungkan.

air matamu naik ke permukaan awan, menjadi bakal hujan yang menggenangi seluruh kota. di kota itu hidup kedua mataku yang kekeringan. gersang oleh terik hampa yang sengit. adakah basah hujan menggenangi mataku dari matamu?

langit kian pasi. warna jadi mitos yang enggan lagi dipercaya. kedua mataku lebih memilih percaya pada kejatuhan hujan yang pasti.

seluruh langit mendung. membendung kesedihanmu yang pandai memendungkan. kota telah siap menampung hujan, begitu juga kedua mataku.

Depok, 4 Agustus 2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Siska Permata Sastra’s story.