Lubang Pagi

pagi mengeruk sepi dari kening malam. dinginnya hening tak mampu menjangkau ceruk mataku dan matamu. sebuah lubang di dadaku akan terus tumbuh seperti bunga atau bocah kecil yang kini mencintai layang-layang, dan esok lusa yang tak mau menyentuh layang-layang lagi. begitu
lah cara lubang di dalam dadamu bekerja. kau tak mampu membayangkan dan menduga-duga dan bersangka-sangka. kata tanya jadi sia-sia di hadapan lubang.
namun ketika pagi mengeruk sepi dari kening malam, apa yang kaulakukan dengan lubang itu adalah rahasia bagi diri mu dan lubangmu. begitu juga aku.

Like what you read? Give Siska Permata Sastra a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.