Mendengar Lana Del Rey

Barangkali kau ingat sesuatu setelah membaca baris pertama. Dengan catatan, kau harus orang yang mencintai puisi dan sering membaca buku puisi di antara kesepianmu yang ramai. Lupakan saja. Kalau kau mengenali baris pertama ini, kau pasti menyukai puisi, kalau tidak mengenali, sebaiknya coba baca buku puisi aan mansyur di toko buku terdekat, ataupun terjauh. Terserah. Hidup itu selalu melulu pilihan ganda.

Baiklah, saya boleh memulai puisi ini?

Ada senandung kesedihan yang kaudengar berulangkali. Dahimu berkerut, matamu merah, dan bibirmu bergetar. Ada yang menari di dadamu. Berdegu(p)erih. Kau mencoba masuk ke dalam telingamu sendiri, mencari apa yang selama ini telah hilang dikubur waktu, kini hadir lagi menjadi lagu-lagu patah hati yang membuat pendengarnya ingin bunuh diri bersama kembang-kembang di dadanya.

Gadis itu memasang suaranya dengan tali penyumbat telinga seseorang. Ia meletakkan kesedihannya yang sudah hampir retak ke telinga seorang perempuan yang dadanya juha retak. Gadis di dalam telinga itu, ingin jadi puisi. Puisi yang indah. Tetapi gadis itu sendiri memiliki raut yang mengalahkan keindah dan kesedihan sesajak puisi. Gadis itu juga ingin hidup seabadi Jim Morisson; hidup dikenal dan mati dikenang.

Dia menjadikan dosa dan doa, penjahat dan tuhan, menjadi lagu syahdu. Setidaknya di telinga para yang patah dan kecewa.

Malam ini, kau duduk bersila di atas kasur yang sudah bosan mendengar kau mengeluh dan menangis, kasur yang sudah mulai mengeluh dengan berat badanmu. Makan, bagimu, cara terbaik melupakan kesedihan dan kenangan. Tetapi orang-orang melihatnya kebalikan. Kau pasang suara gadis sedih yang cinta mati pada alkohol itu di telingamu. Kau berulangkali memutar kesedihan-kesedihan. Terlalu banyak kesedihan membuatmu membosankan dan membuat bosan. Taetapi kau memang seorang pemalas yang setiap hari hanya mendegar dan membaca.

Kau mendengar, dan mendengar. Dan aku muncul ketika kau mendengar American, itu judul lagu. Aku bukan American, lalu mengapa aku harus muncul? Dan kau membuka-buka buku puisi yang pernah kaubayangkan menjadi kado ulangtahunku tetapi tidak pernah kaubeli karena aku sudah memiliki kekasih. Aku menunggu di hadapan kau yang membaca puisi sampai kau memutuskan berhenti mendengarkan lagu sedih ini dan ingin menulis puisi yang tak kalah sedih. Judulnya, Mendengar Lana Del Rey.

Depok, 22 Februari 2016

*puisi ini terinspirasi dari lagu Lana Del Rey di album Born To Die dan puisi Aan Mansyur berjudul: mendengar Radiohead.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Siska Permata Sastra’s story.