Pengarang yang Mati Mengenaskan

Pria tua itu terbaring di atas ranjang. Tubuh rentanya klimas-klumus. Basah kuyup karena keringat. Rambut tipisnya memutih semua. Bila ia bangkit dari pembaringan, bantal yang ia tiduri itu penuh rambutnya yang rontok. Matanya sayu. Hidungnya diselang. Bibirnya menganga nelangsa.

Sang istri yang juga sudah renta sesekali mengelus rambutnya. Sesekali menyuapinya. Sesekali memberinya minum. Sesekali bicara pada wartawan di sampingnya. "Bapak sudah sakit selama satu tahun, nak. Dia stroke waktu Pemkot bilang rumah kita mau dirobohin," kisah Tumaninah, si istri pria renta itu.

Pria tua itu hanya tergolek di atas ranjang. Ranjang yang diletakkan di dekat ruang tamu. Ruang tamu yang tergabung dengan dapur yang dekat dengan jamban. Ia mendengar semua kata istrinya, tetapi ia tak lagi mengerti.

"Rumah kami yang di Jalan Simpang Lima itu udah rata sama tanah, nak. Tapi ndak diapa-apaken. Suami saya ini yang kenapa-napa habis kejadian itu," jelas Tumaninah.

"Memangnya kenapa ingin diratakan, bu?" tanya wartawan itu.

"Entahlah. Kata pemerentah kami ndak punya surat tanah. Katanya itu tanah negara lah, apalah. Padahal rumah itu hasil kerja keras suami saya," jawab Tumaninah.

Pria tua di ranjang itu masih menatap langit. Matanya sayu. Tubuhnya berkeringat. Perutnya kembang kempis. Baju batik merahnya terbuka di bagian perut. Tumaninah sekali-kali mengipasi.
"Dapat uang pengganti?" tanyanya.

"Kemarin pemerentah janji mau kasih uang ganti. Tapi mana kami ndak menerima apa-apa. Kalau uangnya ada, mau buat berobat bapak.."

"Bapak sakit apa sih memangnya, bu? Kenapa nggak dibawa ke rumah sakit?"

"Komplikasi. Kalau kami punya uang, pasti dari tahun lalu kami bawa ke rumah sakit."

"Maaf, bu. Honor bapak? Bapak kan seorang pengarang besar, legendaris?"

"Lho? Memang sejak kapan negara peduli pada hidup pengarang, nak? Matanya sudah butek negara itu! Yang dipikirken perut koruptor yang kerjanya hanya leyeh-leyeh. Bapak ini dia mengerahkan seluruh kata-katanya, dapat penghargaan sana-sini, tapi mana Negara melihat? Ya itulah. Matanya negara sudah butek!"

"Memangnya, maaf, tak ada tabungan, bu?"

"Ya bagaimana mau nabung, nak? Honor menulis itu buat makan sendiri selama sebulan juga kurang. Bulan ini dia bisa makan nasi, daging kambing, sate, ayam bakar. Bulan depan dia minta beras sama kawannya untuk saya masakkan nasi..."

"Buku Bapak masih di toko buku, bu.."

"Tetapi uang penjualannya tak ada di kantong kami, nak."

Wartawan itu diam. Tumaninah diam. Tangannya masih mengipas-ngipas suaminya yang terbaring. Tohir Sukih. Pengarang legendaris. Tulisannya khas menusuk batin. Sangat manusiawi dan religius.

Di negara ini, tak banyak orang mengenal nama Tohir Sukih. Tetapi di mata dunia, Tohir Sukih disebut-sebut sebagai penulis kenamaan yang bukunya laris di Shakespeare and Co.

Tulisannya khas. Kerap kali menulis tentang kematian manusia-manusia di negaranya. Ada yang mati kena jambret, mati diperkosa, mati terlindas kereta, mati dimutilasi, mati dibegal, mati dipopor senapan, dimatikan rezim. Semua ditulisnya dengan apik. Seakan-akan dialah orang yang mati itu. Seakan-akan dia lah yang mati itu.

Tetapi ia lupa menulis kematiannya. Ia tak ingat dirinya. Ia hanya ingat orang lain. Orang lain itu ia bingkai kisahnya agar tak jadi bangkai yang terlupakan.

Tetapi ia lupa bahwa dirinya kemudian akan menjadi bangkai juga. Siapa yang mau menulisnya? Di negara ini, orang tak banyak mengenal siapa dia. Tohir Sukih. Aduh, siapa pula itu?

Masyarakat tak kenal.
Pemerintah lupa.
Negara lupa.
Hanya buku-bukunya saja yang ingat. Sebab ada namanya di muka buku itu. Tohir Sukih.

Ia wafat Rabu Fajar. Subuh tadi, usai ditinggal Tumaninah shalat. Di rumah sepetaknya, itu juga lahannya boleh sewa. Ia mengatupkan mata sayunya. Ia wafat saat tertidur. Posisinya masih sama. Telentang, menghadap langit. Badannya masih hangat Subuh itu. Tetapi detak jantung dan napasnya tak ada lagi saat itu.

Bajunya masih sama dengan baju yang kemarin. Batik merah yang punggungnya masih basah karena keringat. Ranjangnya masih sama. Spreinya masih sama. Kain tipis, hijau pudar.

Ia pergi meninggalkan satu orang istri. Dua anak yang tinggal di luar kota. Lima cucu yang tinggal di luar kota. Tujuh belas buku karangannya. Lima piala. Tujuh penghargaan. Dua piagam. Dan sebuah cerita yang lupa dia tulis sebelum wafat: Kisah Tragis Seorang Pengarang yang Mati Miskin.

Jakarta, 25 Agustus 2017

)

Siska Permata Sastra

a most peculiar woman; old fashioned; capricornus

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade