Ini bukan tulisanku, aku hanya kebetulan membacanya. Isinya bagus, aku harap kamu membacanya juga :’)
Terima kasih karena tidak menyapa. Terima kasih karena tidak mendekat. Terima kasih karena tidak mengatakan cinta. Pula, terima kasih atas kesabaran-mu, ya.
.
Kini aku tahu, kamu adalah seseorang yang sedang berusaha menjaga kehormatan diri. Meski rindu menusuk setiap detik, meski sepi menggores setiap malam, meski hati memanggil setiap waktu; kamu tetap bersabar, sampai ketetapan itu tiba.
.
Kamu begitu berharga, maka itulah tidak sembarang jiwa mampu merayumu. Kamu begitu baik, maka itulah tidak sembarang cinta mudah menggodamu. Kamu begitu suci, maka itulah tidak sembarang raga bisa menyentuhmu. Demi Allah, Duhai... kamu adalah seseorang yang pantas diperjuangkan.
.
Ah tapi sekali lagi, terima kasih sudah menjauh. Semoga setiap jarak yang dibentangkan, menjadi kebaikan bagi kita. Dan jika pada akhirnya kita tidak berjodoh, rasa terima kasih ini akan tetap kuhaturkan karena, sadar tidak sadar dengan jarak ini kamu telah ikut serta membantuku menjaga diri.
.
Terima kasih, ya. Dengan jarak ini, kita sama-sama berikhtiar untuk senantiasa berharap hanya kepada-Nya. Dengan jarak ini, kita sama-sama belajar untuk fokus memperbaiki diri. Dan dengan jarak ini, semoga Allah melimpahkan pahala yang berlapis-lapis.
.
Kepada kamu, yang sedang merindu dalam segenap doa. Kepada kamu, yang sedang menanti lewat sujud-sujud panjang. Kepada kamu, yang sedang menunggu di majlis kebaikan. Sabar, ya.
.
Sabarlah, sebab rasa hanyalah fithrah insani, sedang jodoh adalah Kuasa Ilahi. Sekuat apapun perasaan di antara kita, pada akhirnya, semua cerita akan tunduk pada taqdir-Nya. Dia akan memisahkan dua hati yang tak seharusnya bersatu, Dia akan menyatukan dua jiwa yang tak semestinya berpisah.
.
Insya Allah, bersama-Nya, semua akan baik-baik saja. :)
.
O ya, apakah rembulan nun jauh di sana sudah menyampaikan salamku padamu?
.
(diambil dari post line Cangra Nalika, dari entah untuk ~Aby A. Izzudin)
