Surat #130daysofjapan

03.00, kupikir tidak ada yang berbeda sampai detik di sampingku masih saja terdengar. Ku kutuk perbedaan waktu ini yang membuatku sulit untuk terlelap. Ku pikir ini akan mudah. Namun, ternyata Tuhan maha baik. DitunjukkanNya bahwa jam tubuhku bukanlah hal yang seberapa. Untungnya aku jadi bersyukur. Terimakasih.

Terpisah 4.808 kilometer dari ibu (pertiwi), sudah kupastikan akan sulit kujalani. tapi siapa sangka semua lebih sulit dari yang kau pikirkan hahahahahaha. ssssttt. bahkan tertawa keraspun dilarang di sini.

Untungnya pagiku selalu disambut hembus sejuk semi. Walau kadang sambutannya kurang bersahabat, tapi lambat laun kita jadi sobat. Tak lama, ku menambah sahabat baru, Sakura! Kecantikannya tersohor dan benar saja, ia tidak sombong. Membagi seri indahnya pada wajah wajah yang sabar menantinya. Mereka ikut tersenyum. Mereka juga jadi indah.

Namun di sinilah pelajaran hidupku bermula, bahwa hidup membawamu untuk bertemu, juga berpisah. Hembus sejuk dan sakuraku tergantikan terik mentari dan gugurnya. Jiwaku diajarkan untuk ikhlas dan bersyukur. Tak apa, terimakasih pelajarannya dan senang berkenalan denganmu!

Sosok hembus dan sakurapun tergantikan oleh sosok yang tak kalah indahnya. dan tak kalah mengguruinya. Para pembelajar sejati. Yang selalu mengajar (namun tentunya selalu belajar). Juga yang mencari ilmu hingga melampau samudera biru. Pelajaran berharga tentang perbedaan kudapat. Apa guna puzzle yang berbentuk sama, katanya. Toh tidak akan bersatu. Debat alot tak jarang terjadi. Itu gunanya berbeda, kata mereka. Gosip kampus hingga debat serius menjadi makanan sehari-hari. Yang penting tahu kapan harus bercanda dan kapan harus tegas bijaksana.

Ngomong-ngomong tegas bijaksana, kusadari bukan lagi sekeliling yang memaksaku untuk jadi tegas bijaksana. Bahkan sosok lemah di dalam diriku ikut mendesak. Jadilah tegas, jadilah kuat. Terlebih di saatku harus menahan seluruh energi negatif, sebulan penuh.

Energiku terkuras sebulan itu. 16 jam bukanlah waktu yang sebentar, namun setelah pertarungan dengan ego dan kenyataan di kanan kiri, 16 jam adalah waktu yang singkat. Sangat singkat bahkan, yang akhirnya membawaku ke hari kemenangan.

Hari kemenanganku berbeda. Tidak ada suara-suara indah itu. Tidak ada teriakan (namun) menenangkan itu. Ah aku rindu. Namun, ada satu hal yang membuat hariku tetap spesial. Aku merayakan kemenangan bersama ‘keluarga kecilku’.

Tik tok tik tok, enam puluh hari menuju kepergianku, tapi juga kepulanganku. Entah tak sabar pulang, atau tak kuasa untuk pergi. Namun seperti yang telah kubilang tadi, tak apa, hidup memang tentang datang dan pergi.

Pembelajaran tak henti-hentinya kudapat. bahkan sampai detik terakhirku ada di Negeri Matahari. Terimakasih Matahari yang terus menyinari. Mengajarkanku untuk tidak menyerah dan terus bersinar. Terimakasih sejuk hembus, yang walau hanya mampir, tetap mengajarkan bahwa hidup tidak selalu kering dan menyedihkan. Terimakasih putih dan pinknya untuk sakura! Memberi senyuman ke orang lain sungguhlah menyenangkan. Terimakasih para pembelajar tangguh, mengajarkanku bahwa hidup tempatnya belajar.

dan oh ya aku hampir lupa

Terimakasih Tuhan!

Yang sangat amat amat amat amat amat bersyukur,
Chintya Jasmine Gunarso

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.