Waktu, Prioritas dan Batasan

Christian Goldberg, 12:01, 8 September 2018

Christian Goldberg
Sep 8, 2018 · 2 min read

Pasti kita pernah merasa bahwa waktu yang kita miliki tidaklah cukup. Mengeluh. Untuk apa yang kita kerjakan. Mengeluh. Untuk apa yang akan kita lakukan. Mengeluh. Untuk waktu yang sangat ganas.

Ini ceritaku. Cerita tentang waktu, yang memang menjadi cerita favoritku dari masa ke masa.

Bangku SMA hanyalah segelintir dari waktu yang telah kita lewati. Aku mungkin sekarang tertawa, betapa bodohnya dulu aku menyia-nyiakan waktu. Tapi di sisi lain, akupun bangga, kalau aku bisa melakukan beberapa hal sekaligus yang memang sangatlah bermanfaat buat masa sekarang dan masa depan.

Membagi waktu untuk hal-hal yang kita lakukan, kita jalani, dan kita abaikan, mungkin tidaklah mudah. Dulu aku sewaktu mengikuti organisasi di SMA, sering prihatin dengan sisi akademikku. Apakah aku bisa melewatinya dengan baik? Apakah aku bisa mengatur waktuku dengan baik? Aku tuh orangnya aktif. Superaktif. Maksudnya nggak bisa diem kalau nggak melakukan lebih dari 1 jenis kegiatan yang produktif.

Singkat cerita, waktu awal masuk SMA, aku punya pendirian kalau nggak bakalan mau masuk organisasi-organisasi di sekolah. Lho, kenapa? Karena waktu SMP, akademikku ambruk gara-gara organisasi.

Tapi, kenyataannya aku bisa bernapas lega di SMA. Aku bisa belajar manajemen waktu, prioritas dan batasan. Ada hal-hal, seperti kegiatan yang memang bisa kupaksakan diriku tuk melakukannya, tapi ada juga batasannya. Kita sebagai manusia yang paling mengetahui siapa diri kita, seharusnya tahu batasan-batasan diri kita untuk melakukan sesuatu. Tujuan kita untuk melakukan hal-hal yang ingin kita lakukan. Maka dari itu renungkanlah sejenak apa yang menjadi batasan dirimu untuk berkarya dan produktif. Apa jangan-jangan, dirimu jauh dari kata produktif? Hanya seonggok makhluk apatis yang ingin berguna untuk diri sendiri? Tidak apa-apa, jika memang itu keputusanmu atau memang itu batasanmu.

Mari cari tahu batasan kita, dan belajar untuk mendobrak batasan kita perlahan-lahan. Pasti bisa? Pasti. Yang penting pelajarilah ilmu tentang dirimu sendiri, kawan.

Motivasiku menulis ini, karena pada saat ini aku juga sedang mencari batasan diriku di kehidupan kampus ini. Seperti aku bilang tadi, aku tidak cepat puas dan tidak bisa diam di tempat. Maka dari itu saat menulis inipun aku sedang mencari batasan diriku. Darimana? Bisa ku lihat dari potensi diriku. Apakah aku akan sanggup belajar untuk ujian? Apakah aku sanggup mengikuti 3 unit kemahasiswaan sekaligus? Kepanitiaan? Dan lainnya. Aku sedang merenungkannya, kawan.

Aku juga membuat urutan prioritasku. Jelas, IP/IPK nomor satu saat ku menjalani masa perkuliahan ini. Kedua, ketiga da seterusnya aku mengikuti kata hatiku saja, diriku maunya dibawa ke mana. Dirimu juga, hanya diriny yang tahu, mau jadi apa kamu ke depannya.

Pokoknya mari saling bahu-membahu untuk mengingatkan satu sama lain di kehidupan kampus ini. Contohnya jika ada teman kita yang kerjanya nongkrong terus, ajak belajar. Yang kerjaannya belajar terus, ajak main, ajak tidur. Yang kerjaannya jadi aktivis kampus terus, ingetin belajar. Semangat para mahasiswa! Terutama mahasiswa baru!

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade