Rumput Tetangga yang Lebih Hijau

Money and oil

Bumi Pasundan

Hampir tiga tahun sudah saya mencoba mengenyam pendidikan di kota yang sejuk ini. Kota yang katanya menawarkan berbagai keeksotisan bumi Pasundan. Di lorong Asia Afrika pun sampai ada tulisan “Bumi Pasundan Tercipta Ketika Tuhan Tersenyum” menunjukkan betapa banyak orang yang tersentuh hawa magis bumi pasundan. Sudah menjadi rahasia umum kota yang sering disebut kota Kembang ini memiliki hawa yang sangat menyejukan dan makanan yang unik. Banyaknya anak muda yang kreatif di Bandung terkadang membuat kota ini semakin lekat dengan cap kotanya anak muda. One more thing yang tidak akan saya temukan di kota lain adalah Bobotoh dan Viking Maung Bandung. Betapa fanatisnya kota ini terhadap klub kebanggaan Jawa Barat yang sudah melegenda di ranah sepak bola Indonesia. Kalian juga pasti sering liat setiap TV mulai dari pangkalan tukang ojek hingga cafe-cafe elit pun akan menayangkan Atep dan kawan-kawan berlaga dan seakan-akan aktivitas warga Bandung di Pause sejenak untuk menyaksikan Persib bertanding.

Semangat awal

Suasana di Bandung memang sangat nyaman untuk belajar, udara yang tidak terlalu panas menjadikan badan terasa segar. Bahkan ketika musim hujan datang, kadang-kadang matahari bisa tidak tampak seharian penuh. Sehingga belajar di Bandung memang sangat mendukung, ya itu dahulu. Semakin tinggi tingkat kuliah semangat belajar sekarang tidak lagi hanya bergantung kepada variabel kesejukan semata. Uncontrolled variable yang datang ketika pertengahan kuliah semakin terasa belakangan ini. Bahkan variable yang tidak diperhitungkan sebelumnya juga bisa saja datang dengan tiba-tiba. Sama seperti tingkat-tingkat pendidikan sebelumnya, kebanyakan dari kita pasti punya yang namanya semangat awal itu. Apalagi bagi orang-orang yang sedang membisakan hidup jauh dari orang tua, dan belajar untuk mengurusi segala sesuatunya dengan sendiri. Banyak mahsiswa yang datang dari luar Bandung masih merasakan beberapa culture shock di kampus yang banyak didisi oleh orang-orang Jabodetabek terutama. Pergaulan yang jauh berbeda dari kampung halaman menjadi salah satu konsiderasi mungkin kenapa beberpa orang sangat selektif dalam memilih teman. Orang tingkat dua, tiga atau akhir yang membaca ini pasti masih ingat dong betapa semangatnya kita belajar waktu TPB, walaupun gak semuanya sih, tetapi setidaknya atmosfer belajar waktu TPB sepanas itu mamang. Dimana setiap hari semua orang memegang buku kumpulan soal yang sangat membantu mendongkrak IP kita yaitu Phiwiki, Matcho dan Chempro. Soal-soal di buku itu tak ada satupun yang terlewatkan untuk dicorat-coret. Entah waktu itu memang semuanya rajin untuk mengerjakan atau memegang bundel soal hanya untuk menakuti teman yang lain dan bikin jiper yang lain atau mungkin ada juga yang memegang bundel soal hanya untuk obat penenang hati biar gak keliatan gabut. Tetapi pasti tidak ada yang mengelak bahwa waktu tahun pertama memang suasana untuk belajar itu sebegitu hangatnya hingga rasa gelisah sering muncul ketika kita belum seperti mereka, tetapi tetep tidak semuanya seperti itu. Semangat awal yang mungkin masih tinggi karena sisa-sisa perjuangan SBMPTN masih sangat terlihat. Teman-teman yang masih memiliki bahan bakar untuk tetap menyalakan api semangat di tahun pertama saya lihat masih sangat banyak. Dan pasti masih ingat juga ketika kita sebangga itu mungkin dengan apa fakultas yang kita masuki, termasuk saya juga ketika itu. We fell like we were the best, mungkin dengan kepala tegak kita sebangga itu dulu dengan jafak kita. Ya mungkin memang terkadang seperti itulah layaknya manusia yang sedang dilenakan oleh sebuah posisi roda atas. Tetapi kembali lagi semakin tinggi tingkat kuliah kepala itu menjadi tidak setegap dulu lagi. What’s wrong?

Dollar per Barrel

Ya mungkin kata-kata itulah yang mungkin sekitar satu tahun belakangan menjadi kata yang setiap hari ditanyakan, setiap hari diperdebatkan. Sebelum teknologi Amerika memperlihatkan tajinya kata-kata itu sangat jarang diperdebatkan diantara teman-teman atau bahkan senior-senior saya. Setelah 47 tahun melakukan research and development akhirnya Amerika dapat menemukan teknologi untuk memproduksikan shale gas dengan ekonomis. Dahulu hidrokarbon dengan cara produksi ini dianggap tidak mungkin karena target kedalaman yang dituju dan hidrokarbon yang diproduksikan berbeda dengan hidrokarbon yang diproduksikan secara konvensional. Oleh karena itu, industri sering menyebutnya degan unconventional hydorcarbon. Oke dengan begitu supply energy dunia menjadi membludak, sesuai dengan hukum ekonomi ketika permintaan lebih kecil daripada supply maka akan terjadi penurunan harga. Seperti ituah yang terjadi di Petroleum Industries sekarang. Harga minyak dunia yang sering diukur dengan harga WTI (West Texas Intermediete) dan Brent (North Sea) turun drastis hingga mencapai titik terendahnya mencapai 25 USD/Barrel. Hal ini jelas mengejutkan industri dan tentunya pegawai. Berbondong-bondong berbagai oil dan service company me lay off pegawainya karena biaya operasional yang tidak tertutupi oleh harga minyak. Perusahaan besar seperti Schlumberger pun hampir merumahkan 15 ribu pegawainya. Tak hanya berdampak kepada industri, harga minyak juga berpengaruh kepada ketegapan kepala dan kebusungan dada anak-anak perminyakan. Kini semuanya tertunduk lesu dan hanya bisa melihat semua hal diluar perminyakan terlihat lebih hijau. Ya seperti para pepatah bilang sifat manusia memang selalu melihat rumput tetangga selalu lebih hijau. Spekulasi tentang masa depan pun makin bergejolak di kalangan teman-teman dan senior. Jurusan lain selalu menjadi incaran teman-teman untuk dibicarakan entah karena kata mereka passion mereka memang di situ atau karena katanya jurusan itu bisa sustain di keadaan seperti ini. Kadang saya bertanya kepada diri sendiri kemanakah mental-mental yang sebegitu membumbungtingginya. Bahkan hanya dalam waktu belasan bulan hal seperti harga minyak pun bisa sedrastis itu mengubah hidup orang. Seperti layaknya roda yang berputar, posisi kehidupan akan bisa seterbalik secepat itu. Ada beberapa teman yang menanggapi itu sebagai hal yang wajar, tetapi tidak sedikit pula yang merespon fenomena itu dengan patahnya semangat dan sejenisnya. It’s okay ketika hal itu merubah cara pandang, tetapi kewajiban untuk tetap terus belajar adalah sesuatu yang berbeda. Percaya kan sama alumni yang selalu bilang hanya sedikit ilmu yang kita pelajari sekarang yang akan dipakai di dunia kerja nanti. Masalah masa depan sekarang tidak hanya bergantung kepada harga minyak semata, masih banyak hal lain yang dapat menentukan kesuksesan. Dan tentunya kembali lagi bahwa definisi kesuksesan dari setiap orang pun tidak lah sama. Kuantifikasi kesuksesan pun akan bergantung kepada bagaimana cara pandang seseorang. Dan kembali dipertanyakan kemanakah semangat awal yang kita miliki tadi?

Rasio

Masih ingat betapa getolnya kita waktu itu melihat deratan passing grade di bimbel masing-masing ada Inten, ada GO dan bimbel-bimbel lain yang dengan seksinya memperlihatkan passing grade itu sebagai ukuran utama kelulsan. Tak lupa paket-paket berhadiah dihadirkan oleh bimbel untuk melewati passing grade itu. Secara tidak sadar passing grade mengalahkan passion kita untuk mengejar apa yang sebenarnya kita ingin dalami dan tekuni. Seolah-olah semua itu terkuantifikasikan oleh sebuah angka-angka passing grade. Dan singkat cerita temen-temen yang beruntung dapat memasuki universitas yang diinginkan, sekali lagi saya katakan hanya beruntung bukan lebih baik daripada yang tidak ditakdirkan untuk dapat melewati passing grade itu. Dan tak dapat dipungkiri kampus ganesha terkadang menghasilkan orang-orang dengan mindset superior karena keketatan masuk untuk kampus ini. Dari sejak awal pun sudah dibiasakan dengan mental orang-orang yang paling baik di negeri ini ada di kampus ini. Mental yang saya rasa kadang terlalu mengeksklusifkan diri. Mental yang secara tidak sadar akan mengubah pribadi seseorang. Dan 1 tahun terakhir mindset itu mulai sedikit-sedikit saya hilangkan karena itu semua saya rasa hanyalah sebuah jalan yang ditentukan oleh Allah untuk saya jalani, so what’s the point ketika saya merasa lebih baik dari temen-temen kampus lain. Oke saya ambil contoh di FTTM, saya masih ingat waktu itu rasio keketatan masuk FTTM adalah 1:32. FTTM angkatan 2013 berjumlah 346 orang, berarti ada sekitar 10 ribu orang yang mendaftar FTTM. Let’s say ke 32 orang yang kita singkirkan dalam Hunger Games Ujian Masuk ITB itu memiliki 4 anggota keluarga nantinya. Berarti ada sekitar 32x4=128 orang yang kita harus tanggung jawabi untuk kita berikan timbal balik atas apa yang kita jalani di kehidupan kuliah. So bayangkan wajah ke 32 orang yang kita singkirakan ketika kita sudah kehilangan semangat hanya gara-gara harga minyak. Tidak perlu saya beri contoh alumni perminyakan yang sukses di luar dunia Petroleum. Hal ini sudah membuktikan kesuksesan pada akhirnya nanti tidak akan mengkhianati setiap orang yang mau berusaha dan berdoa. Tuhan hanya memberikan perintah kepada kita untuk berusaha dan berdoa and the rest serahkanlah kepada-Nya. Semoga tulisan ini menjadi penyemangat dan penyambung nafas bagi kita semua termasuk saya sendiri.

Chrysaeta Filian Doni

-Di tengah keadaan yang katanya susah

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.