Introver: Antara Mitos dan Tuduhan

Beberapa persepsi tentang introver (dan selainnya) yang perlu didiskusikan oleh para introver.

DISCLAIMER

(1) Sebab saya seorang introver, maka tulisan ini mungkin akan cenderung memiliki sudut pandang introver. Mohon maaf.
(2) Latar belakang pendidikan saya memang bukan dari bidang ilmu-ilmu nujum seperti misalnya psikologi (ups.), dengan teori MBTI-nya yang go inter-disiplin ilmu karena pembahasannya juga diminati oleh seorang sarjana teknik seperti saya. Pengetahuan dan ilmu saya tentang kepribadian manusia saat ini (ketika menulis ini) juga sangat terbatas dan tidak mendetail/spesifik, pun tidak menyeluruh/lengkap. Hanya sepotong-sepotong.
(3) Tulisan ini mengandung 11% opini pribadi dan 4% riset. Sisanya, 85% intuisi dicampur pengalaman, sehingga sangat memerlukan validasi dari ahli.
(4) Bahasa yang digunakan agaknya sedikit “menceramahi” para introver. Namun begitu tulisan ini juga pasti nasihat untuk saya pribadi.
Kamana batur? | Kemana nih teman-teman? [Bahasa Sunda] (photo by Emre Gencer)

PREFACE

Awalnya, saya beranggapan bahwa tes kepribadian itu hanya berguna untuk membaca, mengetahui, kemudian menentukan tindakan berkenaan dengan jalur terbaik yang semestinya ditekuni oleh tiap-tiap individu. Ternyata benar. Hahaha… Tetapi lebih dari itu, memahami kepribadian diri sendiri juga bermanfaat untuk bahan introspeksi diri. Mengetahui kepribadian orang lain bisa digunakan untuk membangun hubungan yang positif dengan kerabat. Serta fungsi-fungsi lainnya. Banyak pasti. Tapi ada yang masih sulit untuk sama-sama kita hindari: membanggakan diri sendiri.

Alih-alih membanggakan diri karena memiliki kepribadian tertentu, ada baiknya kita (khususnya para introver) belajar bagaimana caranya mengelola kelemahan yang kita miliki. Jangan sampai kebanggaan ini membuat kita lumpuh karena gengsi. Atau hanya berkubang dalam keterpurukan karena merasa rendah dan malu. Meskipun di sisi lain tidak ada salahnya berbangga diri karena memang efektif meningkatkan mood. Mari kita langsung ke isi tulisan saja.

CONTENTS

Motivasimu datang dari mana? Dari luar atau dari dalam diri?

Hal yang saya tahu tentang introver, ialah orang yang apa-apanya diproduksi dari dalam diri sendiri. Termasuk juga semangatnya. Dipikir-pikir lagi, semua orang juga begitu keles. Semangat memang muncul kalau kita sendiri yang mau dan tergerak untuk bisa bersemangat. Saya jadi ingat satu teori yang pernah saya baca, saya tulis di dinding, tapi saya lupa dari mana.

Foto catatan di dinding. Saya perjelas di sebelah kanan, apa yang tertulis di sana.

Browsing-browsing. Yes, ketemu!

Teori ini, self-determination theory (SDT), singkatnya membahas mengenai sumber motivasi. Saya tahu ini sejak tahun 2013 atau 2014-an secara sekilas, singkat, tidak menyeluruh, dan begitu saja. Setelah barusan saya cari informasi tambahan tentang teori ini, ternyata kompleks sekali. Ya iya lah! Tapi dengan itu saya jadi dapat kesimpulan bahwa masalah keintroveran bukanlah tentang kehebatan kita karena bisa bangkit dengan upaya sendiri. Ya, bukan tentang kemandirian mental.

Seorang introver tetap butuh orang lain. Kita adalah makhluk sosial. Kita hidup dipengaruhi lingkungan. Pelajaran bisa kita peroleh dari cara pandang orang lain. Cara menilai apakah seorang individu itu introver atau ekstrover bukan darimana motivasi menghampirinya. Apakah dalam atau luar. Ada kalanya ketika jatuh kita membutuhkan motivasi dari luar. Kadang kita juga mampu membangkitkan semangat orang lain, sadar maupun tidak. Dan seorang introver bukan berarti pendiam atau anti-curhat.

Da aku mah apa atuh, tatoan. (photo by Felix Russell-Saw)

Apa kamu nggak peka’? Atau nggak punya perasaan?

Saya punya beberapa teman yang kuliah di prodi psikologi. Tapi saya tidak pernah mencoba untuk memahami teori-teori yang mereka sampaikan secara serius. Mereka hanya menyampaikan ulang ilmu yang mereka peroleh sembari main dan nongkrong sehingga tidak terstruktur. Tapi sejak dua tahun lalu, secara ajaib (jika tidak bisa disebut kebetulan) saya berkenalan dengan seorang sarjana psikologi dalam komunitas bahasa dan budaya di kota tempat saya kuliah. Mbak S.Psi. ini lebih sering menjadi psikolog ketimbang tutor belajar bahasa.

Sejak saat itu pula saya jadi terpicu untuk mengetahui lebih dalam mengenai kepribadian yang saya miliki. Juga tentang kepribadian orang lain. Melalui Si Mbak, saya jadi sadar bahwa dengan mengetahui kepribadian orang lain bisa membantu kita membangun hubungan sosial yang lebih baik. Istilah dramatisnya adalah: lebih peka.

Diharapkan jangan ada lagi yang bilang lu gak peka’ sih! (bilang “peka”-nya ditekan) karena orang-orang akan mengerti bahwa setiap manusia memiliki caranya sendiri dalam menyikapi hal-hal tertentu. Juga memiliki ekspresinya masing-masing dalam menanggapi persoalan tertentu. Diam bukan berarti tidak merespon. Banyak tindakan dan banyak bicara juga bukan berarti menanggapi.

Putih: kok gua kaga nyium kentut dia? Hitam: gak peka! (photo by Matheus Ferrero)

Gayanya sok cool!

Seperti teori dalam ilmu-ilmu lain, teori Jung tentang introversion and extraversion tentu juga terus berkembang. Setidaknya ada lima aspek yang menjadi pertimbangan lain selain mengkategorikan manusia ke dalam jenis-jenis kepribadian tertentu. Diantaranya: mind (I/E), energy (S/N), nature (T/F), tactics (J/P), dan identity (A/T). Kadar keintroveran atau keekstroveran seseorang ternyata hanya dilihat dari perihal mengelola mind: apakah dia seorang yang soliter (I) atau hidup karena berkelompok (E). Maka intover sama sekali bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Kalau mau lebih lengkap tentu saja pembaca bisa mengunjungi laman bacaan saya di bagian paling bawah nomor [1] tentang 16 kepribadian.

Pada intinya saya ingin menyampaikan bahwa tidak semua yang cool itu introver atau sebaliknya, tidak semua introver itu perlu kelihatan cool. Semua juga mau kelihatan cool. Pernah ada seseorang yang menurut hemat saya adalah seorang ekstrover. Dia mengatakan bahwa gaya saya cool. Pendiam dan introver banget. Padahal dia belum kenal saya yang hobi bicara banyak tapi tak jelas arah dan maksud, pakai baju yang ada saja (seadanya, adanya itu). Meskipun introvernya benar. Thank you loh dibilang cool. Wkwkwk… Jadi, siapa saja boleh jadi sok cool boleh juga acakadool. Bisa jadi hal itu dipengaruhi oleh faktor kepribadian yang lain. Misalnya dari aspek identity (Assertive/Turbulent) yang menjelaskan bagaimana cara seseorang dalam menghadapi tekanan batin. Yang penting adalah hidup bahagia dan tidak terpaksa. OK?

Siapa bilang gua suka pink? (photo by Ayo Ogunseinde)

CONCLUSION

Pada akhirnya tulisan ini berharap punya pesan: ikutilah kata hatimu sendiri, tanpa peduli kamu manusia jenis apa. Jangan terlalu bangga dengan jati diri, hingga malu mengakui kekurangan dan kekeliruan. Jangan telan bulat-bulat pujian/cacian dari orang lain, namun jangan sampai meremehkan pendapatnya. Dan lain-lainnya silakan tambahkan sendiri. Mudah-mudahan bisa lebih bervariasi manfaatnya.

Terima kasih sudah membaca.


Ada Bonus…

Sebagian pembaca mungkin sudah pernah melakukan tes ini. Tapi saya sertakan saja tautan ini untuk yang belum sempat tes. Cobalah. Daring (online) dan gratis. Klik: sini sama om.


Bacaan:

[1] Teori MBTI: 16 Personalities.

[2] Teori motivasi: Self-determination Theory.