This story is unavailable.

Sulitnya Menjadi INFJ-A

Saya bukan seorang mentalist yang bisa membaca pikiran orang lain.

Sumber

Apakah kamu pernah merasa sedih ketika ingin berbagi tetapi tindakanmu mungkin justru mengganggu orang lain atau orang itu justru merasa tidak senang? Saya pernah. Bukan, saya harus meninjau ulang, apakah benar niat saya itu untuk berbagi atau justru hanya ingin pamer? Ini berbahaya kalau sampai saya tidak sadar.

“Jangan kau berikan pendapatmu pada orang yang tidak menginginkannya. Tidak engkau jadi terpuji, tidak pula pendapatmu akan berguna.” — Imam Asy-Syafi’i

Saat saya merasa sadar diri bahwa segala tindakan “berbagi” yang saya lakukan berpotensi menyakiti orang lain (yang padahal saya pikir isinya menarik atau bermanfaat) tetapi tidak ada kritikan yang datang, apakah saya harus menjemput kritikan dan saran itu, atau merasa puas saja karena itu berarti tidak ada orang yang merasa terganggu? Sebentar lagi bulan puasa dan saya benar-benar ingin memperbaiki diri.

Ketika saya hanya fokus berbagi dan menolong (kalau bisa dibilang begitu) saya tidak sadar telah membuang kesempatan dan waktu saya untuk mengembangkan diri. Mungkin ini terdengar heroik, tapi percayalah saya tidak merasa ini hebat.

Saat orang lain membuat karya dan tampak hasilnya, saya ngapain? Saat orang lain kerja nyata dan produktif, saya hanya sibuk melakukan hal yang saya sukai dengan dalih mengembangkan diri. Kemudian belakangan saya sadari itu sebagai tindakan mencari perhatian tak kasat mata, dan saya sendiri tidak pernah tahu apakah hal itu bermanfaat atau tidak.

Saya senang membantu orang, tapi saya harap saya tidak menyertakan perasaan ingin dipuji atau merasa telah berjasa. Saya benar-benar ingin bantu mewujudkan kondisi menjadi lebih baik. Kondisinya, kondisi mereka, kondisi kami, kondisi lingkungan, tapi apakah termasuk pula kondisi diri sendiri? Entahlah.

Saya bermaksud untuk membuat kotak saran digital dengan bantuan semacam formulir daring. Tapi apakah perlu? Saya pikir itu adalah salah satu cara menjemput kritikan. Saya ingin orang lain sampaikan perangai buruk saya agar bisa saya perbaiki. Mungkin saya juga akan minta waktu untuk bisa memenuhinya. Bukan masalah bagi saya apakah mereka ingin menjelek-jelekan saya di belakang atau tidak. Saya harap mereka juga menyampaikan permufakatan itu kepada saya supaya saya bisa memperbaiki diri.

Sungguh sangat sulit menjadi orang yang dewasa (atau menjelang menjadi dewasa), segala sesuatunya harus kau pertimbangkan sendiri. Bahkan kau harus bisa mengenali kesalahanmu sendiri, tanpa ada orang lain yang bantu mengintrospeksi dirimu. Apakah demikian? Mungkin tidak selalu benar. Mungkin itu hanya berlaku bagi para “pemendam perasaan” seperti saya. Meskipun demikian, saya bukan termasuk “pemendam pikiran”. Maka saya butuh orang lain untuk bisa berdiskusi. Saat ini saya butuh orang untuk dapat mendiskusikan kebodohan saya. Keteledoran yang disebut “berbagi” namun dengan cara yang mungkin tidak semestinya atau caranya kurang tepat (kalau bukan salah), yangmana justru berpotensi menggangu ketenteraman orang lain. Tidak membantu menyelesaikan masalah mereka.

“Please, help me help you. So you might help me too at the moment.”

Sampaikan keluh-kesahmu saat kau merasa kuganggu. Sampaikan saran yang membangun buatku seperti kalian mengkritik dan membuat permufakatan jahat dalam menilai seseorang di belakang.

Bila segala tindakan yang saya lakukan dirasa bermanfaat silakan simpan manfaat itu untukmu sendiri atau tularkan manfaat lainnya untuk orang lainnya, pay it forward, agar kebaikan itu tumbuh. Tapi bila segala tindakan yang saya lakukan malah tidak bermanfaat tolong sampaikan saja, karena saat ini saya merasa sudah sangat keterlaluan dalam “mengganggu” pikiran orang lain. Menyusupkan cara pandang saya pada mereka. Belum tentu bisa mereka terima, atau belum tentu itu baik. Atau jika baik, belum tentu caranya baik. Ini yang perlu saya ketahui, sampai di mana kesalahan yang telah saya perbuat.

Saya tidak peduli mau sehebat atau sebermanfaat apa tindakan saya di dunia ini, tapi dengan tanpa evaluasi saya hanya akan menjerumuskan diri pada kondisi yang semakin buruk. Memandang segala sesuatu dari cara pandang pribadi. Cara pandang yang dianggap benar oleh diri pribadi bisa jadi malah berdampak buruk dan tidak membantu orang sama sekali, atau tidak bermanfaat untuk orang lain. Sekali lagi, padahal saya ingin berbagi dan berdiskusi, atau menolong.

Sebagian dari kita mungkin pernah merasakan hal ini, atau sering, atau tidak pernah terpikirkan hal yang demikian. Tapi saya mau kalian percaya saya sedang butuh teman berpikir (atau bahkan mungkin teman untuk berbagi rasa).

Pada akhirnya saya tidak tahu dan tidak yakin betul apakah ada yang mau membaca tulisan ini sampai akhir dan turut bantu memikirkannya. Dari saya yang bisa kalian jadikan seorang teman saat kalian butuh teman.

“Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu.” — Tuanku Ali Putra Abi Thalib