Evolusi E-Money oleh Andrei V Vlasov
Dalam perkembangan teknologi saat ini, Indonesia merupakan negara berkembang yang masih kalah cepat dengan negara-negara maju yang sudah menggunakan sistem cashless dalam pembayaran sehari-hari. Kebanyakan negara maju sudah menggunakan sistem cashless dengan fitur NFC (Near Field Communication) yang memudahkan pembayaran dan pengecekan kartu pembayaran seperti e-toll sehingga orang tidak perlu melakukan pengecekan kartu pembayaran menggunakan ATM (Anjungan Tunai Mandiri) karena NFC pada saat ini sudah terdapat di beberapa handphone yang telah mendukung dan memberikan layanan NFC pada produk HP yang mereka launching. Konsep uang elektronik agak ambigu, di bawah uang elektronik orang sering memahami sistem akuntansi hak untuk publik dan swasta. Saat ini, sistem ini menggunakan media penyimpanan elektronik (Vlasov, 2017).
Dalam perencanaan ekonomi, kebijakan fiskal mengatur uang beredar dengan menetapkan inflasi[1] sehingga dapat mengontrol uang yang beredar di masyarakat sebagai sarana tukar menukar barang dan jasa, semakin banyak uang beredar maka inflasi dalam suatu negara juga akan naik dan akan mengakibatkan resiko untuk para wirausaha dan pelaku ekonomi lainnya untuk melakukan usaha, maka dengan begitu masyarakat seharusnya juga dapat berperan untuk mengurangi inflasi di suatu negara.
Indonesia pada tahun ini telah menerapkan sistem cashless di beberapa merchant atau restaurant dengan menggunakan aplikasi-aplikasi online yang dirancang dan telah diawasi oleh (OJK) Otoritas Jasa Keuangan, potensi pengembangan instrumen e-money relatif tinggi. Dengan adanya kemudahan dan kenyamanan penggunaan e-money karena memiliki beberapa keunggulan, sehingga membuat masyarakat lebih menggunakan e-money untuk bertransaksi dan juga karena keamanan dan pengeluaran menjadi terkendali.

Data diatas menunjukkan peningkatan signifikan pada pembayaran non tunai atau pembayaran elektronik yang dilakukan masyarakat pada saat ini, pembayaran non tunai sebetulnya sudah digunakan lebih dari lima tahun di Indonesia, awalnya ketika Telkomsel merilis T-Cash untuk sarana pembayaran non tunai.
Menurut Mankiw penurunan permintaan uang akan menyebabkan penurunan tingkat suku bunga sehingga masyarakat menggunakan pembayaran non tunai dengan menyimpan uang di bank rekening pribadi. Sehingga dapat dikatakan penggunaan e-money menyumbang pertumbuhan ekonomi Indonesia, namun masih banyak masyarakat dari desa atau dari pedalaman yang belum sepenuhnya tau tentang sistem pembayaran elektronik ini, sehingga perlu diadakannya suatu pelatihan agar tidak hanya dari kalangan wirausaha dan masyarakat yang melek IT yang menggunakan e-money untuk transaksi sehari-hari, kalangan generasi X juga perlu mengetahui bagaimana e-money dapat memudahkan pembayaran dalam transaksi tukar menukar barang dan jasa.
Selain itu, dalam perkembangannya Indonesia masih belum memiliki aplikasi yang dapat membaca jumlah saldo yang tersimpan dalam e-toll atau e-money sehingga masih harus melakukan pengecekan yang kurang efisien menggunakan ATM, oleh sebab itu perlu dikembangkannya teknologi yang dapat melakukan pengecekan saldo e-money, pengisian mandiri dan efisiensi penggunaan teknologi pembayaran elektronik pada saat ini.
E-Money merupakan teknologi yang dapat membantu transaksi sehari-hari, dengan adanya e-money seseorang tidak lagi perlu membawa uang tunai banyak dan dapat menjadikan transaksi efisien tanpa meluangkan waktu yang lama untuk proses pembayaran, perkembangan e-money juga dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi karena masyarakat telah mengurangi uang yang beredar di segala transaksi keuangan sehinga meningkatkan investasi dan meningkatkan output riil nasional.
Namun disisi perkembangan e-money yang semakin diminati oleh sebagian orang terdapat juga kekurangannya yang masih menggunakan sistem yang kurang efisien untuk fitur yang sudah dilakukan di beberapa Negara maju seperti penggunaan NFC (Near Field Communication) yang dapat mendukung fitur transaksi e-money sehingga lebih efisien, seperti pengecekan saldo dan penambahan saldo yang tidak lagi dapat digunakan di mesin ATM saja, sehingga penggunaan fitur uang elektronik menjadi lebih mudah.
[1] Inflasi adalah kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus. Jika harga barang dan jasa di dalam negeri meningkat, maka inflasi mengalami kenaikan. Naiknya harga barang dan jasa tersebut menyebabkan turunnya nilai uang. Dengan demikian, inflasi dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum. (Badan Pusat Statistik, 2019)
Baca juga jurnal resminya di https://www.ersj.eu/repec/ers/papers/17_1_p21.pdf
