Pulau Dua Dan Kearifan Alaminya

Dengan meningkatnya hobi memotret terutama landscape membuat jiwa penasaran saya semakin tinggi, hampir tiap waktu saya mencari info sebuah tempat kawasan yang menurut saya masih belum banyak yang mengetahui tapi pemandangan yang diberikannya bener-bener luar biasa memanjakan mata dan batin tentunya

Seminggu sebelumnya saya sudah yakin kalau saya harus kesini, membaca artikel tentang pulau ini yang mengatakan bahwa cagar alam ini adalah menjadi tempat singgah bagi aneka jenis burung dari berbagai benua itu sudah cukup membuat saya penasaran akan pulau ini disamping sejarahnya yang juga cukup menarik tentunya. Kalau bahwasannya dahulunya pulau ini merupakan pulau yang terpisah dari jawa, dipisahkan dengan selat selebar 500 m. Saat ombak sedang surut, kedua daratan ini menyatu.
Namun karena adanya pendangkalan pada sungai Cibanten sehingga berpengaruh pada ketinggian daratan dan batas antar pulau menjadi tidak jelas. Akhirnya daratan pulau burung menyatu dengan pulau Jawa. Luas yang tadinya hanya 8 hektar pun menjadi 30 Hektar setelah daratan pulau dua/burung ini menyatu dengan pulau Jawa.

Beranjak pagi dari daerah serang lalu melanjutkannya dengan menggunakan motor, awalnya ingin menggunakan angkutan umum tapi setelah dipikir-pikir kembali dan direnungkan seksama jalurnya tidak begitu jauh. Dengan mata terkantung-kantung sekaligus rada perih oleh terpaan sinar matahari karena semalam suntuk saya tidak tidur karena sedang sibuk asik bernetizen ria menonton video-video top funny collection, wara-wiri dan hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya tapi bagi saya menghibur.

​Jalur perjalanan yang dituju lumayan lancar, walau sempet kawatir ketika pagi daerah serang diserang hujan, sembari menunggu hujan reda saya menepi sambil mengisi perut untuk sekedar sarapan disebuah warung nasi uduk pinggir jalan yang saya lupa nama jalannya apa.

Beruntung sekali cuaca mengerti akan keinginan saya, hujan turun tidak begitu lama maka saya melanjutkan kembali perjalanan. Masih didaerah kota sempat melewati sebuah jalan yang berada dikolong jembatan layang, lagi-lagi saya tidak tahu nama jalannya apa, “ah”, itu tidak penting juga lah, saya tertahan cukup lama dijalan ini akibat macet,kendaraan tak ada yang mau mengalah lebih tepatnya motor yang asal menyerobot tanpa pernah mikir akan menjadi semakin kacau, saya jadi terpikir kota tempat tinggal saya yaitu jakarta kalau begitu, untungnya saya sudah biasa dengan keadaan seperti itu tapi tidak dengan bau genangan air yang sangat bau sekali, kalau saya kira bau itu berasal dari sampah dari sebuah pasar. Karena saya tau percis bau sampah pasar, maklum saja hampir 5 hari dalam 7 hari saya selalu melewati beberapa pasar yang penuh dengan tumpukan sampah ketika hendak menuju tempat kerja.

Hamparan ladang sawah yang luas terpampang nyata disisi kanan-kiri saya, semilir angin pun terasa sejuk hingga masuk kesela-sela ketiak saya yang basah akibat keringat matahari, deretan rumah warga hanya beberapa saja yang terlihat. Ketika saya melihat maps ternyata sudah berada didaerah sawah luhur, sempat berhenti sebentar untuk melihat petunjuk maps daripada bertanya pada warga sekitar. Benar-benar sok tau dan terlalu mengandalkan maps digital akhirnya saya telah melewati daerah pulau tersebut lumayan jauh, saya sempat kaget karena tak seperti biasanya daerah pesisir, semacam terdengar deburan ombak atau tanda-tanda kalau sudah berada didekat laut misalnya, atau para pedagang balon pelampung yang menyerupai bebek.

Setelah akhirnya bertanya dengan warga ternyata untuk memasuki kawasan cagar alam pulau ini harus menempuh area tambak. Ketika masuk kawasan area tambak ini banyak jalur meniku yang membuat saya binggung mesti melewati yang mana, ingin bertanya kepada orang sekitar tak satupun saya temui, akhirnya setelah beberapa jauh saya melihat ada seorang kakek yang sedang sibuk berlumpur riang sembari mencabut tanaman entah apa namanya. Saya pun tak sia-siakan untuk bertanya karena saya yakin beliau adalah satu-satunya orang yang saya temuin diarea tambak ini, dijawabnya santai dengan belio sembari tangannya sibuk mencabut daun yang tertancap dilumpur, saya pun hanya mengangguk karena saya tau setelahnya kebingungan akan muncul kembali. Benar-benar luas sekali tambak ini sampai tak habis pikir dengan kerja keras para warga yang membuat/menggali beberapa luas tanah seperti semacam kolam untuk dijadikan penampungan air bagi perairan sawah, semakin jauh semakin sulit jalanan yang dilaluin dengan motor tentunya, selain ruas jalannya sempit dan sedikit licin, bisa saja saya terpelosok ke dalam kolam antara kanan atau kiri. Benera saja rasa binggung muncul kembali, teringat pesan si kakek mengatakan “kalau nemu jembatan nanti belok kanan”, bagaimana tidak binggung ada banyak sekali jembatan, entah itu jembatan pendek dan panjang. Akhirnya bermain dengan feeling dan pasrahlan saja semua kepada sang pencipta berharap diberi ilham petunjuk dijalan yang benar.

Sepanjang jauh mata memanjang akhirnya saya melihat sebuah petunjuk yang bertuliskan cagar alam pula dua, akhirnya sampai juga didepan area masuk kawasan ini, tampak beberapa motor yang parkir tapi entah kemana pemiliknya, karena saat itu masih sepi sekali dan pagar yang dibuat untuk jalur masuk pun masih tampah ditutup dengan sebilah kayu. Akhirnya nekat saja saya masuk walaupun saya tidak tahu mesti lewat mana nantinya, makin binggung karena ketika masuk berada diarea hutan bakau yang masih sangat liar, sepi, dan agak sedikit menyeramkan

Lalu saya melihat sebuah pos penjaga yang tak ada penjaganya dan masih terkunci, ini tempat bener-bener bukan tempat wisata. Ketika saya beristirahat didepan pos penjaga muculnya seorang lelaki yang kalau saya lihat dia seorang aparat lebih tepatnya polisi dan seorang perempuan yang setalahnya saya tahu mereka adalah suami-istri dan lakinya adalah petugas aparat yang suka cek keadaan pulau ini, Si perempuan ditangannya memagang se-ekor burung yang entah jenis apa tapi saya tahu kalau itu burung masih muda dan sedang kesulitan akibat terpisah dari induk dan kawanannya. Setelah saling bersapa dan bertanya basa-basi formal dan mendegar sedikit info dari mereka kalau petugas jaga pulau ini belum datang entah ada urusan apa, jadi kalau mau liat-liat dipersilahkan dengan diselipkan pesan “asal jangan berburu burung dan awas tersesat dihutan bakau”. Akhirnya saya pun melanjutkan eksplorasi walaupun belum apa-apa tapi keringat sudah mengujur deras dibadan, dan untungnya saya tidak tersesat karena naluri dan bathin saya masih jernih jadi selalu benar haha.

Tampak didepan mata hamparan luas laut dibalik pepohan sudah tampak terlihat jelas, sepi sekali pulau ini dan seketika terpikir “ wah inj private island nih”. Pulau ini bisa disebut engga ada pantainya karena jarak laut dan daratan rada sempit, hanya bebatuan karang kecil disepanjang jalur daratan, sepanjang penglihatan saya hanya melihat sebuah perahu saja itupun tampak jauh dan entah ada orangnya atau tidak. Dulu nama pulau ini adalah pulau dua dan sekarang banyak yang menyebutnya pulau burung, ya sudah tentu jelas alasannya kenapa. Karena menurut info sepanjang bulan mei hingga agustus burung-burung antar benua pada singgah disini, tapi sayang ketika saya kesini tak tampak banyak burung yang terlihat, saya pun akhirnya tak ambil pusing dengan itu.

Shiit apes! Ketika saya mencoba ingin menginjakan kaki ke bibir pantai saya terpelosok disebuah lumpuk yang ternyata tidak padat, dan salahnya lagi saya masih mengginakan sepatu, dan sumpah lumpurnya ternyata bau’a menyengat sekali. Ini bukan pertama kalinya saya mengalami keapesan seperti ini. Seumur hidup jika saya ke pantai tidak pernah mengenakan pakaian selayaknya dipantai, pakaian saya seperti orang lagi pergi kerja.

Sedikit bereksplorasi kesudut lainnya saya mendapati sekumpulan keluarga warga lokal ibu-ibu dan anak-anaknya yang masih kecil sedang asik mencari kerang sembari dan piknik makan siang disana. Dan ada bapak-bapak seorang diri yang asik memancing dikejauhan, keluarga ini mempunyai seorang bocah laki-laki yang rada unik dan itu menjadikan sebuah momen cerita diperjalanan kali ini, nanti saya buatkan kusus satu artikel buat itu bocah.

Ketika saya memilih menyudahi eksplorasi ini dan berencana pulandan melewati pos penjaga, ternyata petugasnya sudah ada dan memanggil kami dan meminta kami masuk ke pos, awalnya saya pikir ada apa, apa mungkin karena saya main asal masuk ternyata ya mesti membayar biaya retribusi seiklasnya. Kami sempat berbincang-bincang mengenai banyak hal, dan ternyata kata beliau akhir-akhir ini ternyata burung yang singgah sudah mulai menurun banyaknya. Dan belio juga menjelaskan kenapa saya tidak menemui banyak burung karena jam-jam sekitar pagi hingga menjelang sore burung-burung sedang sibuk kerja nyari makan dan menyebar didaerah sekitar. “ah pantes saja saya tidak menemukan kumpulan burung-burung tersebut, saya benar-benar tak kepikiran untuk itu, maklum lah saya masih amatlah basic dalam mengetahui waktu-waktu sibuk spesies burung dan unggas tersebut. 
Dan petugas tersebut kembali mengatakan pulau ini bukan tempat wisata sebenernya, pulau ini biasa dijadikan tempat peneltian bagi para pelajar setanah air, saya sempat bertanya kemana sisa-sisa tengkorak manusia dipulau ini karena sebelumnya saya pernah melihat video uanggahan seseorang diyoutube kalau pulau ini banyak sekali tengkorak dan tulang belulang manusia. Si petugas menjawab kalau sebenernya tengkorak dan tulang belulang manusia itu sudah dipindahkan ketempat lain atau istilahnya sudah disterilkan, beliau bercerita kalau itu adlah tengkorak dari manusia sebelumnya karena dahulunya pulau ini itu adalah sebuah kuburan masal pada jaman penjajahan, dan ada sebuah makam keramat dipulau ini namun sayang saya tak sempat melihatnya disamping udah lelah kepanasan dan yang pasti rada creepy juga kalau cuma berdua melihatnya, kalau beramao-ramai sih saya berani haha.

Perjalanan kali ini bukan sekedar ingin menikmati alam saja tapi juga saya dapat pengetahuan yang tidak banyak orang tahu, bertemu dengan orang-orang asing akan tetapi ramah dan sebuah kenikmatan hakiki dalam raga jiwa lohjinawi ini, dan juga mendapatkan sebuah cerita konyol yang menarik dari seorang bocah laki-laki telanjang badan.


Originally published at ckprdaw.weebly.com.