Liburan Versi Aku


Hampir semua orang ketika ditanya ingin pergi ke luar negri atau tidak, akan menjawab, ya aku ingin. Aku juga tidak bisa bilang kalau aku tak ingin ke luar negri, melihat hal-hal baru dan melakukan banyak kegiatan yang asyik.

Tapi kenyataannya, dari sebegitu luasnya dunia ini, aku bak seekor kura-kura yang bersembunyi di tempurungnya. Tidak pernah pergi melihat dunia luar. Setelah aku mencoba mengingat sudah pernah pergi kemana saja aku ini, aku hanya berkunjung ke tempat wisata karena ada orang yang mengajak (dari pihak keluarga) atau tugas kampus.

Sewaktu masih kuliah dulu (yang rasanya sudah lama sekali), seorang teman dari kampung halaman datang untuk liburan ke kota tempat aku kuliah. Dia minta rekomendasi tempat wisata paling asyik di kota, aku hanya menjawab sekenanya (tempat-tempat pariwisata yang sudah terkenal dan yang sudah ku kunjungi sewaktu kecil dulu). Lalu dia memandangku dengan aneh, seperti bertanya-tanya apa saja yang aku perbuat selama ini, di tempat yang sama dan tak pernah kemana-mana.

Kalau aku jadi kamu, aku akan sewa motor setiap hari untuk ke pantai dan pergi ke gunung, atau menikmati keindahan dan suasana di kota ini. Mengunjungi semua tempat wisata, deh pokoknya.

Aku hanya bisa tersenyum dan mengiyakan saja. Aku rasa kalau aku menyangkal, hal itu akan percuma saja. Karena, pertama, ia tak tahu rasanya hidup merantau. Kedua, aku akan tetap terdengar seperti pembual dan membuat alasan yang macam-macam hanya karena aku malas pergi keluar. Ketiga, aku rasa ia mengatakan itu hanya karena napsu melancongnya saat itu sedang tinggi.

Bagiku, pergi ke perpustakaan kampus bersama teman kos ku saja sudah menyenangkan. Atau pergi ke Malioboro dengan bis, sendirian (kadang bersama teman), tanpa tujuan yang jelas, yang pada akhirnya hanya untuk membeli segelas es kopi saja sudah asyik. Atau pergi 4 hari berturut-turut ke Sekaten untuk membeli cakwe dan nasi kucing saja sudah nikmat. Atau yang paling biasa lagi, menonton film di kos teman saja aku sudah gembira.

Kebahagiaan versi ku ini memang amat murahan.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.