Hidup tidak pernah (kelihatan) sedamai ini. Seakan kita tahu kalau satu jam ke depan bahwa semua akan baik-baik saja. Esok akan tetap datang, tapi kenyataannya tidak ada yang tahu bagaimana besok itu.

Televisi dinyalakan hanya agar ada suara di dalam rumah. Kalau aku sendirian, kadang aku ingin ada orang lain. Kalau ada orang lain, kadang aku ingin sendirian. Tetapi seringnya aku lebih suka sendirian.

Ah, tidak tahu juga. Pada titik ini, aku bisa lebih memahami matematika dasar daripada diriku sendiri. Dibalik kenyataan kalau aku tidak pernah baik dalam berhitung dan sejenisnya.

Atau aku yang memang memberi cap begitu pada diri sendiri? Pantas saja aku tidak pernah lolos tes psikotes kerja.

Aku kira aku sudah mulai berlari sebentar dan berhenti sejenak untuk beristirahat. Sewaktu aku mulai mengambil aba-aba untuk kembali ke jalur, ternyata aku tidak pernah kemana-mana dari awal.

Aku terlalu banyak beristirahat. Aku terlalu banyak tidur siang dan makan. Aku seperti batu besar yang tumbuh, semakin lama semakin sulit untuk bergerak. Aku tidak berguna cukup banyak. Hanya menghalangi orang lain untuk lewat.

Kata orang jangan bandingkan diri dengan orang lain. Ini hidup kamu.

Aku tidak bisa. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa berhenti untuk melihat orang lain dan menjadi orang jahat yang iri. Aku tidak bisa berhenti untuk tidak bergerak.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.