Purnama Bukan Dia



Saat pagi menjelang mengusik ketenangan kota dan matahari meniadakan malam, Ratih terbangun untuk kesekian kalinya. Baru dua jam dia tidur karena semalaman kepalanya terasa sakit diiringi rasa mual. Ingin rasanya dia meminum obat tidur yang biasa ia konsumsi setelah mengalami hari yang panjang dan harus berdebat lagi dengan suaminya bahkan di tempat tidur, tetapi dia tidak ingin membahayakan kehamilannya.

Ratih sudah hamil selama delapan minggu tapi kali ini sakit yang ia rasa terlalu berat, dia berpikir jika ia minum air hangat mungkin bisa meredakan rasa mualnya.


Seperti kebanyakan wanita lainnya, Ratih terkadang bisa merasakan sesuatu yang tidak beres dengan suaminya. Sudah dua minggu belakangan suaminya selalu minta izin pulang telat walaupun tidak sering dia merasakan ada yang janggal. Tanpa sepengetahuan suaminya Ratih memeriksa tagihan kartu kredit Raka, benar saja ada tagihan dari hotel ternama di ibukota dan saat ditelusuri lebih lanjut ternyata tagihan itu atas pemesanan kamar mewah untuk dua orang. Malam yang sama ketika Raka bilang bahwa ia akan keluar kota dan pulang terlambat bahkan mungkin sampai pagi. Pada saat itu Ratih pun bilang agar jangan terlalu memaksakan untuk langsung pulang dan beristirahat terlebih dahulu, barulah pulang siang harinya. Dia merasa sangat bodoh sekarang bahkan memberikan kesempatan lebih kepada Raka.

Ratih merasa lemas seketika, bingung dan sedih. Mungkin benar selama ini bahwa Raka tidak mencintainya dengan sepenuh hati kemungkinan itu memang bisa terjadi tapi ia tidak menyangka sampai hatinya Raka benar-benar berselingkuh.
Ditambah lagi tiga jam sebelum keisengannya siang ini dokter memberi selamat atas kehamilan Ratih yang baru berjalan empat minggu, keengganan pun muncul di hatinya untuk memberi tahu Raka atas berita ini yang seharusnya menjadi kabar gembira bagi mereka.
Ratih hanya menangis dan mengunci dirinya sepanjang sisa harinya seperti yang sudah sudah.


Raka terbangun dari sofa empuknya dan merasa sangat lapar karena dari semalam belum menyantap apapun bahkan di rumah Diana. Raka merasa terlalu antusias bertemu dengan Diana dan benar saja keantusiasannya dibayar dengan keindahan malam itu, senyum pun terukir di wajah Raka. Walaupun sofanya tidak terasa senyaman kasurnya dia merasa lebih baik daripada harus tidur di teras.

“lebih baik aku tidur disini ketimbang harus tidur di depan teras sana, sangat memalukan.” gumamnya dalam hati.

Raka tidak pernah tahu kenapa Ratih selalu mengunci dirinya di kamar jika Raka telat pulang tapi dia tidak mau berfikir panjang, dia hanya merasa itu adalah sifat kekanak-kanakannya Ratih karena dia pulang terlambat dan membiarkan Ratih harus tidur sendirian serta dia merasa itu adalah hal yang harus dimaklumi dari Ratih.
Langkah Raka yang limbung memperlambat dia mendapatkan sarapannya, padahal dia pikir dua lembar roti tawar dan selai kacang harusnya sudah cukup untuk meredakan kelaparannya pada saat itu.
Belum habis Raka mengunyah sarapannya tiba-tiba Ratih datang ke dapur, tidak biasanya Ratih masih ada di rumah sesiang ini bahkan masih mengenakan baju tidur. Raka hanya berpikir ternyata Ratih juga bisa sakit.

Perjodohan yang cepat dan pendekatan yang singkat membuat masing-masing dari mereka kurang mengenal sifat dan karakter satu sama lainnya tapi sama halnya dengan kebanyakan perjodohan lainnya apapun yang terjadi perjodohan mereka harus tetap dilaksanakan.

Ratih mengambil kertas kusut dan lesu dari dalam kantong baju piyamanya dan menaruhnya di meja makan tepat di depan piring roti tawar Raka yang tinggal satu suap lagi.

Dengan ragu Raka membaca isi kertas itu dan merasa tak percaya, dia membaca kembali untuk kedua kalinya bahkan kali ini lebih pelan dan hati-hati. Surat itu mengatakan bahwa istrinya Ratih sedang hamil, dan dari tanggal yang tertera di surat itu Raka menghitung bahwa Ratih sudah hamil selama delapan minggu.
Raka bingung, tak bisa mengatakan apa-apa, hanya duduk membatu dengan selembar kertas di tangannya cukup lama.

Ratih yang tidak sabar pun membuka mulutnya, “Suamiku, aku tahu bahwa kau tidak mencintaiku, aku tahu bahwa di luar sana kau memiliki kekasih yang lain. “

Raka tidak mempercayai apa yang baru dia dengar, ‘suamiku’? Biasanya Ratih hanya memanggil dia hanya dengan nama depannya saja seperti teman-teman di kantornya dan barusan Ratih menyebutkan kata ‘kekasih yang lain’. Mungkin benar bahwa ini saatnya dia harus membiasakan diri dengan dinginnya ubin teras rumah. “Sial” gumam Raka dalam hatinya.

Ratih mulai kesal tapi dia harus sabar, dia melanjutkan perkataannya,
“Walaupun begitu aku ingin belajar mencintaimu, mulai dari janin kita ini.” “Aku hanya punya satu permintaan kepadamu, apakah kau mau membantuku dengan meninggalkan wanita itu?”

Ratih benci harus mengatakan hal ini tapi dia tidak ingin anaknya tumbuh di dalam keluarga yang hancur dimana ayah dan ibunya harus tinggal terpisah karena perceraian.

Jantung Raka pun berdetak kencang, lebih kencang daripada yang dia rasakan pada saat malam sebelumnya di dalam pelukan Diana.