Cant we just married at a beautiful garden party, with our circle, chit chat with them deeply, stay over night and just laughing?

Bataknesse Marriage Party Life

Entah kenapa pernikahan jadi satu momok bagi warga Batak. Mendengar kata menikah orang sudah bisa membayangkan pesta sekampung, bagi-bagi uang, ngebeer, pesta sampai malem, ah, sudahlah.

Betapa tidak, di Jakarta saja pernikahan batak itu dihargai sebuah mobil kira-kira Avanza. “Kelar nikahan Batak bisa beli seharga rumah kali,” kata temanku yang lain.

Tidak percaya? Sini aku rinci kasar, pernikahan batak di Jakarta estimasi tamu 700 orang.

  • Harga gedung batak di Jakarta range rata-rata standar Rp20juta sampai ada yang harga Rp90 jutaan dengan kapasitas 700 orang.
  • Harga ketring adat, nasional, dekor, foto, musik, mobil pengantin ala-ala WO lengkap itu sekitar Rp150 juta untuk 700 orang itu.
  • Angka ini belum sinamot si perempuan, bisa kira-kira Rp20 juta, Rp40 juta atau bahkan bisa kurang dan lebih.
  • Angka ini juga belum termasuk uang yang dibagi-bagikan ketika acara mulai dari tulang (baca: paman), keluarge besar, opung, dan lain-lain pada saat manortor. Bisa-bisa itu habis Rp10 juta gengs.
  • Belum lagi yang dipakai sama pengantin perempuan. Untuk pengantin batak jarang sekali menyewa kebaya. Kebaya kisaran harga Rp5 juta, makeup Rp3juta, songket Rp3juta, sepatu dll. Dari ujung kaki sampai ujung kepala perempuan bisa-bisa Rp15 juta.

Uang ini belum hitung-hitungan yang lain hanya kasarnya saja. Gimana udah pusing? Kalau dilanjutin masih tambah pusing lagi mungkin.

Kalau di daerah, (mungkin) pernikahan batak jauh lebih murah. Ada pesta adat di depan rumah dan pesta seadanya. Harga gedung dan ketring pun saya pikir belum terlalu mahal. Namun pesta di Jakarta seakan mencekik leher. Disitu kadang saya merasa ingin di adopsi Tulang Hotman Paris.

Pesta yang terjadi juga seakan adu-adu gengsi. Nilai-nilai ritual Batak itu sendiri juga mungkin sudah bergeser. Acara pesta juga bisa jadi dianggap 'Julid Time’.

Kamu akan terbiasa dengan komentar namboru-namboru (baca: tante) yang mengomentari warna baju lu, songket lu, eeven warnalipstik elu! “Kok pucat kali warna lipstiknya, enggak ngecas warnanya,” kata namboru-namboru seakan uangnya yang keluar untuk ngebiayai pesta itu.

Disclaimer, aku sama sekali enggak membenci adat, sungguh. Aku bangga menjadi orang batak. Tapi dengan perincian di atas, bisa kah orang yang tidak memiliki uang juga turut menikah dan beradat?

Bisakah kita hanya melaksanakan dengan pesta yang sederhana tanpa mengurangi nilai adat itu sendiri? Atau kita malah terjebak dengan pergaulan batak yang mengharuskan menyenangkan semua pihak?

Ah sudahlah, aku sangat iri sama temen-temenku yang bisa melaksanakan garden party di resto yang memang udah bagus dari sananya. Pagi pemberkatan, malem respesi kecil-kecilan dengan orang terdekat.

Sisa uang bisa buat honeymoon, DP rumah atau bisa untuk usaha lainnya. Ingat, uang susah dicari! Kecuali lu anaknya atau ponakanya Hotman Paris.

Buat yang melaksanakan pernikahan Batak selamat menabung, selamat berjuang! Hidup bahkan dimulai sejak H+1 pernikahan. Apa pendapatmu? boleh komen di bawah ya ☺

horas,

citra.