Bontang Kuala: Venezia Rasa Indonesia
Deretan rumah di atas air, jalanan dari susunan papan kayu ulin, serta pemandangan laut yang terhampar luas mewakili keunikan tempat ini. Itulah Bontang Kuala, salah satu destinasi wisata paling dicari wisatawan domestik maupun mancanegara kala melancong ke Kota Bontang.
Memasuki Bontang Kuala, kawasan wisata di atas laut tersebut, tiap orang dihadapkan pada dua pilihan: berjalan kaki atau mengendarai kendaraan beroda dua. Bila memilih transportasi beroda dua tersebut, siapkan telinga untuk disambut gemuruh suara papan kayu penyusun jalan. Bagi pendatang mungkin akan tidak terbiasa dengan suara bising yang dihasilkan tersebut. Namun, suara itu akan hilang perlahan di bawah alam sadar kita.
Untuk menikmatinya sebaiknya pengunjung berjalan kaki karena kita tak hanya berjalan, mata akan dimanjakan oleh pemandangan alam dan budaya di Bontang Kuala. Tengoklah ke kiri-kanan, melihat tampilan rumah panggung yang khas milik warga, puluhan ikan dan rumput laut yang dikeringkan di jalan, hutan bakau, perahu-perahu ketinting milik nelayan yang sedang ditambatkan, serta pemandangan laut lepas di anjungan. Menikmati matahari terbit atau terbenam sembari duduk di kafe dekat anjungan dan menunggu gammi (sambal) dan ikan bawis datang pun menjadi pilihan lain. Bila terlalu menikmati, para pelancong akan terbawa pada suasana Venezia, namun khas Indonesia. Artinya, jangan berharap ada kesan lampu-lampu romantis, klasik ala Eropa, tetapi cukup ada jembatan kayu yang panjang, ada kapal-kapal kecil, kafe di kanan-kiri, dan sedikit banyak khayalan ke Eropa (he_he)
Penduduk di tempat ini pun sangat ramah, seperti umumnya masyarakat Indonesia. Tawa dan canda tidak pernah lepas dari keseharian mereka. Entah bagaimana, setiap kali bertamu ke rumah warga, selalu ada hal yang dibicarakan oleh mereka. Tentu dengan kegembiraan, seolah tanpa beban. Rutinitas kesibukan khas masyarakat kota mendadak hilang karena sebagian besar masyarakat di tempat ini bekerja sebagai nelayan. Sedangkan para ibu, menjadi ibu rumah tangga maupun pedagang yang menjual olahan hasil laut.
Di Bontang Kuala, beberapa acara juga sering diadakan. Pada saat-saat tersebut, para tetangga saling membantu mempersiapkan. Di antaranya membuat gammi beramai-ramai. Tentu dengan cerita-cerita lucu yang mewarnai. Acara yang sedemikian banyak ini akan membuat pengunjung tidak habis pikir, bagaimana mereka bisa hidup seolah tanpa beban. Perlu diketahui bahwa mayoritas masyarakat di daerah ini termasuk dalam golongan ekonomi menengah ke bawah.
Apabila pengunjung berkesempatan untuk tinggal di sana, akan merasakan betapa eratnya kekeluargaan di pemukiman ini. Tawa yang selalu hadir dalam kehidupan mereka menjadi pelajaran tersendiri bagi masyarakat kota. Masyarakat yang menganggap diri modern dan seringkali tak acuh terhadap sekitar. Bahkan untuk sekadar berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Di Bontang Kuala, bahagia itu sederhana. Cobalah berjalan kaki, menyapa, dan tertawalah bersama penduduk. Bila belum ada dana ke Venezia, maka berkunjung ke Bontang Kuala bisa menjadi pilihan.
Membandingkannya dengan Venezia memang berlebihan, namun Bontang Kuala pun akan membuat penduduk Venezia penasaran.
