Ingin Jago Marketing atau Public Speaking?

Clara
Clara
Aug 8, 2017 · 4 min read

Yuk, Lihat Perspektif dari Buku Tipping Point!

Dalam lingkungan kita sehari-hari sering kita melihat bahwa sesuatu terjadi tidak serta merta tanpa alasan. Misalnya, ketika seseorang “ikut-ikutan” membeli merek barang tertentu atau misalnya tren merokok di kalangan remaja laki-laki. Tentu saja ada hal-hal yang membuatnya menular. Melalui buku ini, fenomena word of mouth atau ketok tular dianalisis dan dijelaskan. Gladwell memperkenalkan kita pada tipe-tipe orang yang dapat bertindak sebagai penyebar ide, tren, dsb. Buku ini mengubah cara berpikir orang tentang memasarkan suatu produk dan atau menyebarkan ide (baik berupa kampanye, ceramah, dll).

Seperti buku-buku Malcolm Gladwell lainnya (What The Dog Saw, Outliers, dll), kekuatan terdapat di setiap studi kasus yang ditampilkan. Sehingga, bagi para penikmatnya tidak akan sering muncul pertanyaan “masa’ sih?” atau “kayaknya gak juga”. Kekuatan buku ini berdasarkan analisis mendalam dimana hasil kesimpulan tiap kasus berdasarkan data empirik dengan sampel yang tidak sedikit. Misalnya, kita jadi tahu sedikit banyak dunia psikolog dan atau kriminolog. Pernyataan tersebut menjadi alasan juga mengapa buku Malcolm selalu memiliki tempat sendiri di hati pembaca. Nah, melalui buku ini, kesimpulan yang didapat adalah bahwa epidemi sosial dilandaskan oleh tiga hal. Pertama, The law of the few (Hukum tentang yang sedikit), The stickiness factor (faktor kelekatan), dan The power of context (Kekuatan konteks).

Pertama, The law of the few (Hukum tentang yang sedikit). Memulai epidemi memerlukan pemusatan segala sumber daya pada beberapa bagian pokok. Hukum ini mengatakan bahwa para konektor, maven (orang generalis yang tahu banyak hal), dan salesmen memiliki peran penting atas dimulainya word of mouth (ketok tular). Artinya, jika kita ingin memicu sebuah epidemi ketok tular, semua sumber daya harus terpusat pada ketiga kelompok ini. Ketiga kelompok inilah yang selalu berada di tengah-tengah masyarakat. Kebanyakan dari mereka bukanlah orang-orang kalangan atas (CEO, pejabat kenegaraan atau lainnya). Tetapi, mereka sangat dikenal dan dengan kemampuan berbicara yang fasih, mereka mengubah dunia.

Dalam hukum yang pertama tersebut, kita diajarkan untuk lebih mencari jalan pintas demi suatu hasil yang cepat menyebar dan memberikan dampak jauh lebih besar. Hukum ini bertolak belakang dengan kita yang berpikiran kritis terkait suatu proses. Proses untuk mencari jawaban atas suatu masalah biasanya sulit dan rumit, dibalik ketekunan dan ketelatenan pastilah ada sesuatu yang sangat berharga, meskipun lambat kita pasti sampai juga ke tujuan. Melalui hukum ini, kita diajarkan untuk mencari jalan pintas yaitu hanya berfokus kepada tiga kelompok tadi untuk membuat suatu epidemi sosial. Hal ini untuk mempersingkat waktu dan tentu saja dana. Tentu saja, hal ini bisa diterapkan dikehidupan pribadi misalnya bila kita ingin menyebarkan karakter baik kita di lingkungan kerja (misal kita berandai-andai menjadi CEO perusahaan), maka kita hanya perlu mendekati tiga tipe orang tadi, dan BOOM kita akan menjadi bahan dari epidemi sosial yang kita rencanakan. Dengan mudah kita merangkul semua staf serta menyebarkan gagasan-gagasan kita meskipun itu terkadang kontradiktif dengan kebiasaan yang ada.

Kedua, faktor kelekatan. Dalam poin kedua ini kita diajarkan bahwa imbauan, kampanye, penyebaran ide, dan sebagainya dipengaruhi oleh fakor-faktor yang sifatnya hasil eksperimen sebuah intuisi. Kita tidak bisa memaksakan ide atau rencana sesuai dengan teori yang kita bangun. Kita sering percaya bahwa faktor penting untuk membuat orang terkesan terletak pada kualitas inheren gagasan yang kita sajikan. Akan tetapi, berdasarkan contoh kasus yang ada perubahan substansial pada isi gagasan tidak perlu dilakukan. Justru, yang perlu dilakukan adalah menyampaikan gagasan-gagasan dengan “biasa” dan terkadang tidak popouler dengan cara yang tepat. Artinya, cara yang tepat adalah dengan mengikuti cara yang diingankan target. Cara ini didapatkan ketika kita mulai merendahkan ego untuk melihat apa yang diinginkan objek kita (misal lawan bicara atau konsumen) dan memvalidasinya dengan riset-riset yang memadai. PR besarnya hanya menemukan cara yang tepat untuk membuat pesan tersebut lekat dengan cara sederhana. Dengan membuat gagasan/imbauan/pesan menjadi praktis dan pribadi, hal-hal tersebut menjadi mudah diingat.

Ketiga, Kekuatan konteks. Seringkali kenyataannya kita terjebak pada apa yang disebut oleh para psikolog Fundamental Attribution Error (FAE). Apa itu FAE? itu merupakan istilah keren untuk mengatakan bahwa kita cenderung melebih-lebihkan peran bakat atau pembawaan seseorang atau sesuai kecenderungan atau lazimnya namun meremehkan peran situasi dan konteks. Kita sering melakukan hal ini karena kita jauh lebih paham terhadap petunjuk-petunjuk personal ketimbang pada petunjuk-petunjuk kontekstual. Misalnya, urutan kelahiran yang menentukan karakter seseorang. Hal itu merupakan sebuah mitos. Mengapa dikatakan mitos? karena karakter seseorang bukanlah sesuatu yang diwariskan apalagi dipengaruhi oleh urutan kelahiran saja. Karakter lebih menyerupai seperangkat kebiasaan, kecenderungan dan minat yang masing-masing masih saling bebas meskipun masih dalam satu kumpulan, pada waktu, situasi dan konteks tertentu.

Dunia, sejauh yang kita bayangkan tidak sejalan dengan intuisi kita. Mereka yang berhasil menciptakan epidemi sosial tidak hanya mengerjakan yang menurut mereka benar. Intuisi-intuisi tersebut harus diuji menjadi sesuatu yang tervalidasi. Dalam memahami epidemi sosial, kita harus paham dahulu bahwa komunikasi manusia memunyai seperangkat aturan tersendiri yang sangat luar biasa dan berlawanan dengan intuisi. Sesuai dengan sikon dan konteks yang ada. Faktanya, bahwa orang dapat mengubah perilaku atau keyakinan mereka secara radikal begitu menemukan dorongan di tempat yang benar. Kita, sebagai manusia sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar kita oleh konteks yang terjadi saat itu, dan kepribadian-kepribadian di sekeliling kita.

Melalui buku ini kita “dipaksa” menyadari bahwa betapa mudah kita terpengaruh oleh yang kita lihat dan kita dengar, juga betapa peka kita bahkan terhadap kejadian paling kecil dalam kehidupan sehari-hari. Itu sebabnya perubahan sosial terjadi begitu mendadak dan sering sulit sekali dijelaskan karena faktanya memang seperti itu sifat dasar kita, serba mendadak dan sulit dijelaskan. Dengan menemukan dan memanfaatkan beberapa orang tertentu yang memunyai pergaulan sangat luas, kita dapat menentukan perkembangan epidemi sosial. Intinya, Tipping Point adalah penegasan tentang adanya potensi untuk berubah dan dahsyatnya suatu langkah yang tepat.

http://tz.ucweb.com/8_wt5O

    Clara

    Written by

    Clara

    Learn to write.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade