Rap sebagai Budaya Oral di Zaman Internet

Peradaban manusia dimulai pada masa preagricultural society, dimana pada waktu itu orang-orang masih tinggal dalam kelompok-kelompok kecil dengan pekerjaan utamanya sebagai pemburu. Saat itu belum ada budaya baca tulis. Masyarakatnya masih bergantung pada kegiatan oral atau berbicara untuk menyampaikan pesan kepada orang lain dan menurunkan tradisinya dari generasi ke generasi. Tradisi oral tersebut kemudian, melahirkan cerita-cerita legenda, puji-pujian, syair, dan lain-lain. Budaya oral pun sangat maju pada zaman Yunani kuno, karena retorika merupakan kemampuan berbicara yang menjadi jantung kehidupan negara-negara kota pada waktu itu. Pada abad ke-16 media lisan pun dikenal sebagai ‘retorika gerejawi’.

Namun, seiring perkembangan zaman, kekhawatiran Socrates dan Plato pun terjadi. Penyair-penyair semakin gemar menuliskan puisi dibandingkan melafalkannya sebagai sebuah retorika. Dalam periode modern awal, tulisan-tulisan dicat dan dipahatkan berbentuk simbol-simbol. Sampai pada akhirnya, tulisan berubah menjadi tulisan tangan dalam bentuk transkrip-transkrip. Semakin banyaknya penggunaan melek-huruf pada kegiatan perpolitikan atau keseharian menghasilkan apa yang disebut periode ‘modern awal’ (1450–1789). Periode ini lahir karena pada tahun 1454 seorang berkebangsaan Jerman, Johann Gutenberg, dianggap sebagai penemu mesin cetak.

Meskipun teknik percetakan dan penggunaan huruf yang dapat digeser-geser telah diketahui dan diterapkan di China dan Korea jauh sebelum penemuan tersebut, tetapi sumbangan pikiran Gutenberg secara keseluruhan lebih besar dari siapa pun juga dalam hal penyempurnaan mesin cetak. Arti pentingnya terletak pada keberhasilan dia menggabungkan semua unsur mesin cetak menjadi suatu sistem yang efektif dan produktif. Dengan penemuan ini maka, mendorong munculnya kerajaaan bisnis kolonial dan transisi menuju kapitalisme. Budaya cetak menggantikan budaya oral sebagai bentuk lahirnya modernitas. Budaya ini pun semakin merebak dan memiliki ciri khas dalam penggunaan bahasa yaitu bahasa Latin.

Setelah budaya cetak semakin merebak dengan berbagai bentuk yaitu baik berupa buku surat kabar maupun telegram yang lebih canggih (abad ke-19), maka lahirlah masa komunikasi melalui gelombang udara tanpa kabel. Media-media tersebut berupa radio (1900–1910), televisi dan satelit (1940-an) bahkan sampai yang mutakhir yaitu internet (1950-an). Media-media komunikasi ini pun dikatakan sebagai ‘media baru’ karena memiliki ciri-ciri utama yang berbeda dengan media sebelumnya (media cetak). Ciri-ciri tersebut adalah kesalingterhubungan, aksesnya terhadap individu baik sebagai pengirim dan penerima pesan, interaktivitasnya, dan sifatnya yang ada ‘dimana-mana’. Terlebih lagi pada era globalisasi ini, internet semakin merajai dalam dimensi penggunaan media. Hal itu dikarenakan efisiensi serta kontrol sosial yang tidak ketat membuat media ini sangat digemari para penggunanya.

Dari uraian di atas dapat kita ketahui bahwa perkembangan media terbagi dari tiga masa yaitu prasejarah (budaya oral), sejarah (budaya tulisan/cetak), dan modern (internet). Lalu, apa hubungannya dengan rap? Rap merupakan jenis aliran musik yang merepresentasikan media yang bersifat universal dan cenderung melahirkan kembali budaya oral yang semakin tenggelam dalam ‘tubuh maya’ saat ini. Aliran musik rap ini sendiri muncul di Amerika, ketika hiphop yang merupakan sebuah kebudayaan, tumbuh sekitar tahun 1970, dikembangkan oleh masyarakat Afro-Amerika dan Latin-Amerika. Aliran musik ini muncul sebagai komentar mengenai ketidakadilan sosial yang terjadi pada zaman dahulu.

Namun, seiring perkembangan waktu aliran musik ini semakin digemari karena merupakan penerus budaya oral yang lebih bersifat universal, efisien, dan lebih interaktif dibandingkan retorika. Arti penting sebagai bukti eksistensi budaya oral di zaman yang serba digital ini terlihat dari lirik-lirik yang digunakan. Melalui lirik yang ditulis oleh para rapper, pendengar diajak untuk menginterpretasikan melalui otak yang menyimpan pengalaman dan pengetahuan, serta mengolahnya sebagai landasan dasar dalam mencerna keindahan lirik lagu. Secara tidak langsung aliran jenis ini membuat kita semakin cerdas dan peka terhadap lingkungan sekitar. Hal ini karena kemampuan berpikir manusia di era digital terlenakan dengan hal-hal digital yang tidak lagi mengindahkan kemampuan berbicara yang baik. Rap diharapkan mampu menggantikan retorika yang tampaknya sudah tidak relevan dengan perkembangan dunia yang menuntut kedinamisan (‘gaul’).

Sumber:

Briggs Asa, dan Peter Burke. 2006. Sejarah Sosial Media: Dari Gutenberg sampai Internet. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Mc Quail, Denis. 2011. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Salemba Humanika.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.