Hipokrit

… mengenalmu pastilah sebuah ilusi ….


Pendapatku; kisah asmara tak sesederhana mengupas kulit kacang. Mereka berlapis-lapis, kompleks , rumit — sengkarut.

Biasanya hipokrit. Bukan, bukan kisahnya. Insan-insan yang tengah jatuh hati. Bibir mengatakan “Aku turut bahagia”, padahal sanubari telah lelah menguras air mata.

Jadi, apa menaruh hati hal yang salah?

Rasa-rasanya tidak. Barangkali salahnya di paradigma.

Insan yang jatuh cinta punya tedensi ingin memiliki, menguasai, memonopoli.

Aku tidak berbeda.

Tapi, aku tahu aku tidak bisa.

Aku menyerah. Sudah, cukuplah. Sampai di sini saja.

Maka kurasa … mengenalmu pastilah sebuah ilusi.

Ilusi sadis yang sempat membawa harapan setinggi angkasa.

Sempat melihat tiap tingkahmu ialah misteri.

Misteri tanpa penyelesaian, kenapa bisa waktu sudi memberi kesempatan bagi kita berdua untuk bersisian sepanjang hari?

Pernah merasa kau yang akan di sisiku adalah fantasi.

Jelas fantasi. Butuhkah penjelasan?

Sebab kini kau bersama yang lain.

Saling sayang terhadap diri yang lain — bukan rasa sepihak seperti yang kurasa kini.

Maaf, aku tetap munafik. Tetap kusentil sudut bibir, tetap kuberikan ukir senyum terbaik.

Sambil kukatakan, “Semoga lenggeng, ya.”

Ah. Hatiku telah menjelma fraksi.


Februari, 2016.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Clarecia N’s story.