Singgah

“Kuharap kausinggah ….”

Bukannya aku munafik. Aku hanya tak paham untuk meraih apa yang kudamba.

Bukannya aku berpura tak peduli. Aku hanya tak suka memamerkan afeksi berlebih.

Namun, Kasih, bahkan masih ada separasi di sisimu dan di sisiku. Luas seolah nirbatas.

Aku hanya takut, Kasih, dalam menyebrangi.

Lintasi jembatan lurus dan panjang, tanpa tali. Hanya sambungan kayu, ujungnya terpaku di sudut kakiku dan yang lain di dekat kakimu. Rapuh dan siap menjelma fraksi, bagai mimpi buruk yang menghampiri.

Aku bukannya ingin mengambing-hitamkan jodoh, Sayang. Namun aku tak percaya diri, hingga seenak hati serahkan takdir pada Sang Penulis.

Tapi … beri aku kesempatan untuk jadi tempat yang kausinggahi, meski hanya selangkah, meski tak berlaksa-laksa detik.

Beri aku kesempatan,

untuk serukan kelakar,

untuk menanyakan kabar,

untuk hadirkan senyum nihil hambar.

Beri aku harapan, Sayang …

untuk jadi tempatmu bersinggah hingga akhir nanti.


Jakarta, 2017
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.