Kaderisasi : Pewarisan Karakter atau Acara Pamer Semata?


Sudah bukan rahasia umum jika Institut Teknologi Bandung sering disebut-sebut sebagai Kampus Kaderisasi, dimana proses pengkaderan atau proses yang diharapkan dapat menurunkan nilai-nilai karakter dari generasi satu ke generasi selanjutnya dilakukan setiap kali seseorang akan masuk kedalam suatu golongan tertentu, dalam kasus ini yaitu panitia, Himpunan Mahasiswa Jurusan, dan Unit Kegiatan Mahasiswa.

Namun beberapa waktu terakhir ini, mulai muncul pemikiran di dalam masyarakat bahwa pengkaderan tidak selalu mengikuti misi utamanya dalam pelaksanaannya. Kebanyakan dewasa ini para pengkader malah lebih menonjolkan rasa arogansi dan keogahannya untuk lepas dari “tradisi” yang sudah ada. Sulit untuk menyampaikan esensi suatu organisasi jika pengkader atau yang dikader tidak menghayati makna dari identitas yang ingin diturunkan itu sendiri.

Setidaknya itulah kesaksian yang diutarakan oleh Thariq Izzah Ramadhan (TI ‘16), Badan Pengurus Pers Mahasiswa ITB bagian Pengembangan Sumber Daya Anggota pada 7 September 2018. Baginya yang sudah berkali-kali dikader dan mengkader, proses kaderisasi yang terimplementasi di massa kampus Institut Teknologi Bandung justru kurang mengedepankan misi awal dari proses tersebut.

Contohnya bisa dilihat dari masa OSKM, bisa dibilang banyak mahasiswa yang melamar menjadi panitia lapangan karena pola pikir yang hanya tertuju pada visi pribadi, diantaranya untuk merasa dianggungkan dan memiliki kekuatan untuk mengatur yang berada di bawahnya.

Bukannya itu sesuatu yang dilarang oleh norma hukum dan pelakunya harus langsung ditindak pidana, namun yang ditakutkan transfer knowledge untuk membentuk penerus anggota suatu organisasi tidak menyerap sempurna arti dari organisasi yang dimaksud. Jika hal ini terus berlanjut, yang akan terealisasikan bukannya mahasiswa yang berkarakter dan bernilai moral yang sesuai dengan organisasi tersebut, tapi malah mahasiswa yang hanya mengejar arogansi dan terjebak dalam tradisi yang belum tentu benar keberadaannya.

Alasan yang diutarakan oleh Thariq berikutnya adalah keterpaksaan mahasiswa yang dikader untuk mengikuti rangkaian acara kaderisasi. Seperti pada waktu ospek jurusan suatu himpunan di ITB, waktu pelaksanaannya bersamaan dengan diklat terpusat untuk panitia OSKM tahun 2017. Mahasiswa yang baru saja memasuki tahun kedua dunia perkuliahan tersebut diperintah oleh para pengkader dari himpunan jurusan untuk ikut serta dalam diklat terpusat tersebut. Dikarenakan mereka ikut dengan sebab paksaan, penghayatan mereka terhadap proses diklat itu pun tidak berlangsung baik. Nihilnya rasa tanggung jawab seakan menepis konten materi diklat yang mungkin dapat dibilang cukup berkualitas untuk masuk menjadi bahan renungan demi pengembangan karakter.

Tidak tertutup kemungkinan untuk dapat merubah tata cara kaderisasi seperti ini di ITB. Pada kenyataannya tekanan untuk menjalankan orientasi studi mengikuti “tradisi” yang telah ada hanya berasal dari massa kampus itu sendiri. Namun hal itu kembali kepada kebijakan dari masing-masing blok massa kampus.

Dalam KM ITB, telah dirumuskan Rencana Umum Kaderisasi (RUK) yang bertujuan untuk menyinergisasikan lembaga-lembaga kemahasiswaan ke arah yang sama. Meski telah dirumuskan, jika dilihat pada realitanya, rencana itu tidak berhasil dikarenakan tiap lembaga, unit dan himpunan, memiliki budaya masing-masing yang sudah terlalu kental yang diterapkan sejak pendahulu-pendahulu mereka. Seakan mereka hanya mengikuti cara-cara para senior mereka dalam melakukan kaderisasi, akan sulit untuk meningkatkan esensi dari identitas organisasi mereka.

Seperti pada unit Pers Mahasiswa, memulai inovasi baru dalam perencanaan dan pelaksanaan kaderisasi anggota barunya. Thariq menyatakan bahwa tahun 2018 ini Pers Mahasiswa merancang dan menjadikan RUK yang telah dirumuskan sebagai acuan dalam proses penyampaian nilai-nilai identitas yang diharapkan dapat diserap oleh para calon jurnalis kampus.

Beliau juga menyatakan bahwa Persma ITB tidak memiliki budaya yang mengikat dalam hal kaderisasi, sehingga unit ini memiliki kemandirian dalam menentukan RUK. Selama rangkaian acara Osjur Persma tidak melenceng dari RUK yang telah dirumuskan, diharapkan para calon jurnalis kampus benar-benar mendapatkan ilmu dan pembentukkan karakter untuk memasuki dunia jurnalistik yang sebenarnya.

Bella Sofie Jayanti (AR ’17), Ketua Angkatan Persma 2017, menambahkan bahwa Orientasi Studi Jurnalistik yang dilaksanakan tahun ini merupakan inovasi baru yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ia menyatakan tahun ini para calon jurnalis kampus akan lebih banyak dituntut untuk praktik turun langsung ke lapangan yang juga diimbangi dengan sesi mentoring.

“Kalau dulu, tahun 2016, Osjur Persma ada yang namanya Sekolah Cakrawala. Kita juga tidak diperbolehkan untuk datang ke secretariat, kecuali saat dipanggil oleh kakak-kakak badan pengurus yang bahkan kita tidak diperkenalkan langsung dengannya,” ujar Shevalda Gracielira (IF ’16) pada 7 September 2018.

“Rangkaian acara osjur ini jika diikuti dengan benar dan dihayati sepenuh hati, bakalan bisa membantu kalian merasakan esensi dari identitas Pers Mahasiswa ITB itu bagaimana. Kalian juga akan dilatih agar siap menjadi jurnalis kampus,” Thariq menambahkan, “Oh iya tugasnya dikerjain ya hehe.”

Pro atau kontra terhadap kaderisasi, semua bergantung pada pribadi-pribadi pembangun elemen kaderisasi itu sendiri. Jika memang metode yang digunakan merupakan salah satu “tradisi” turun-temurun dari angkatan atas dan terbukti menghasilkan anggota yang memahami dan mendalami identitas organisasi tempat ia masuk, tentu itu juga menjadi bahan pertimbangan terhadap masalah ini.

Karena kaderisasi pada dasarnya adalah penurunan nilai-nilai inti suatu lembaga kepada generasi penerusnya, dengan harapan identitas yang telah terbangun selama puluhan tahun tidak hilang ditelan zaman.


Claresta Dhyhan Ediganiputri

19918028

SAPPK-G

CaKra Persma 2018

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade