ORIENTASI STUDI JURNALISTIK PERSMA 2018, Day-1 — A review by Claresta Dhyhan Ediganiputri

Bandung.
Institut Teknologi Bandung, 1 September 2018.
Seru, weh.
Mungkin itu salah satu kata yang muncul di pikiran selesainya acara Orientasi Studi Jurnaiistik Pers Mahasiswa Day 1, di Institut Teknologi Bandung. Tentu muncul banyak pikiran lain, seperti “Oh, haus,” “Ya Allah capek pisan,” dan yang memiliki durasi terlama adalah “Aaaaa nambah tugas lagi ampuun.”
Tapi jujur saja, rasa keingintahuan saya terhadap unit bernama Pers Mahasiswa ITB ini justru semakin tinggi. Terlebih setelah saya menyaksikan secara langsung kakak-kakak Kerabat PersMa dalam mengutarakan materi dan pengajaran, benar-benar membuat saya semakin kagum dan sadar akan kekurangan saya selama ini.
Dimulai dengan pagi santai tanpa beban, kami, anggota Calon Kerabat Pers Mahasiswa 2018, dimobilisasikan ke suatu lapangan di jalan Gelap Nyawang untuk mengikuti pembukaan dan membuat Memorandum of Understanding yang kemudian kami tandatangani sebagai bukti kesepakatan dalam hal peraturan selama mengikuti OSJUR yang akan berlangsung selama 5 minggu setiap hari Sabtu.
Cuaca boleh panas, namun senyum yang terkembang tidak pernah menguap terbakar matahari. Kami terus semangat mengikuti arahan dari kakak-kakak untuk segera berkumpul dengan kelompok yang ditentukan. Setelah itu, kami pun kembali bergerak ke pos-pos yang telah ditunjukkan dengan kode unik yang harus ditebak, meskipun pada akhirnya diberi tahu secara eksplisit untuk menghemat waktu dan meningkatkan efektivitas berlangsungnya acara, seperti Taman Pesawat-O yang berarti taman planologi, dan Gedung Pagar Merah yang berarti GKU Timur.
Di pos-pos yang telah disebutkan, kami mendengarkan materi yang sangat bermanfaat dan memperluas wawasan yang dapat diaplikasikan saat benar-benar berkecimpung dalam dunia jurnalistik itu sendiri. Contoh dari materi-materi yang diberikan kepada kami yaitu nilai-nilai berita, kode etik jurnalistik, apa saja tantangan menjadi seorang jurnalis dewasa ini, dan termasuk juga isu terhangat yang sedang dialami oleh massa kampus Institut Teknologi Bandung.
Menjadi seorang pers mau-tidak mau harus menghadapi berbagai tantangan yang tidak bisa dibilang mudah. Dibutuhkan kesabaran dan kepala yang terus dingin untuk dapat menguasai kondisi lapangan dan memprosesnya dengan cepat dan tepat. Dibutuhkan pula kemampuan komunikasi yang baik agar dapat menyampaikan pesan yang benar-benar harus tersampaikan kepada massa.
Dalam hal komunikasi, harus ditekankan bahwa isi dari berita yang kita sampaikan tersebut haruslah dapat dipertanggungjawabkan, tidak memihak, dan memenuhi janji-janji yang terdapat dalam kode etik jurnalistik, mengingat banyaknya media Indonesia yang kini mulai ternodai dengan corak-corak politik dan mengedepankan keinginan suatu pihak semata.
Rasanya seperti ditumpahkan perasaan bagaimana rasanya menjadi seorang jurnalis pers di dunia nyata ini tepat di atas ubun-ubun saya. Osjur hari pertama ini bisa dibilang membuat saya sadar bahwa menjadi pencari dan pengolah berita itu tidaklah mudah.
Saya pun teringat kedua orang tua saya yang merupakan seorang jurnalis di era kejayaannya dulu. Sering saya diceritakan bagaimana sulitnya mengejar tokoh penting diantara wartawan lain yang berasal dari media yang lebih prestis dan lebih kompetitif. Sering saya diceritakan bagaimana serunya berbincang langsung dengan warga di lingkungan yang mungkin tidak pernah kita jejaki sebelumnya. Sering saya diceritakan perjuangan mereka berdua di dunia jurnalistik dengan senyum merekah di kedua wajah mereka.
Rasa cinta mereka terhadap dunia tulis-menulis diturunkan kepada kakak saya yang kini bekerja untuk meliput berita yang berhubungan dengan perusahaan konstruksi. Beliau juga selalu memberi kabar melalui grup keluarga bagaimana kondisi lapangan tempat ia bertugas, yang selalu saya balas dengan emot marah karena saya cemburu dia dapat pergi, mendapat uang saku, dan menikmati acara-acara besar seperti Asian Games, sedangkan saya harus berkutat dengan soal, materi kuliah, dan dosen yang banyak mau.
Memang berat, namun mereka menikmatinya.
Saya ingin mencoba merasakan hal itu.
Mencintai meski waktu tidur dikurangi.
#osjurpersmaitb2018
Osjur Persma 2018
Claresta Dhyhan Ediganiputri
19918028
SAPPK-G
CaKra PersMa 2018